Tuesday, 24 November, 2020

Daily Literacy zone

AKU MELIHATNYA!


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Teh, aku melihat sesuatu di ruang itu!”

Yusi, perawat muda yang berdinas malam bersamaku berucap takut-takut sambil menunjuk ke arah ruang sebelah yang kosong dan gelap.

“Apaan?” Aku baru saja selesai menyuntik seorang pasien.

Wajah Yusi terlihat agak pucat membuatku mengernyitkan dahi sambil mengikuti arah yang ditunjukkannya.

“I-itu! Di … situ!” Yusi masih berkata dengan wajah pucat.

“Ruang itu kan kosong?”

“I-iya. Ma-makanya saya tadi …. “

Aku menatap wajah Yusi bingung. Ruang yang ditunjuknya itu sejatinya adalah ruangan yang akan dipakai kepala ruangan setelah selesai direnovasi. Berhubung saat ini sudah malam, pastinya ruangan itu kosong. Mana mungkin ibu kaperu kemari di tengah malam begini, kan?

Baca juga: PEMIJAT MALAM ITU

Selintas berkelebat kembali cerita-cerita horor seputaran ruang ini yang sempat kudengar dari mulut Kang Wahyu tempo hari saat berkesempatan dinas bareng. Dia adalah salah seorang perawat senior di sini.

“Di tiap ruangan ICU ini ada penunggunya. Saya hafal semua.”

“Udah atuh, Kang. Jangan cerita yang begitu! Bikin parno tau!” protes Ruli, salah satu perawat senior lainnya.

“Eh, kalian harus tau. Biar kenal!” tandasnya sambil menyunggingkan senyum yang entah apa artinya.

“Iya kali, kenalan sama makhluk halus trus jadi temen. Gitu?” Aku tergelak dan menanggapi sinis.

Meski waktu itu aku tak terlalu menyimak –lebih tepatnya tak mau menyimak– tak ayal ucapan Kang Wahyu teriang kembali saat ini. Apalagi rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit peninggalan zaman Belanda dulu yang dibangun tahun 1800-an. Oldest banget, kan? Rumah sakit di manapun rasanya tak ada yang tak menyimpan cerita horor, apalagi rumah sakit tua ini.

“Apa yang kamu lihat?” Aku berusaha bersikap tenang.

“A-anak kecil …. “

“Anak kecil?” Keningku berkerut.

Suasana ICU saat ini kebetulan sedang full pasien. Ada 6 orang pasien yang dirawat. Semua dalam keadaan stabil dan sedang beristirahat. Beberapa bahkan ditunggui bergantian oleh keluarganya. Sementara keluarga yang lain menunggui di luar ruang ICu pada kamar khusus untuk keluarga pasien. Bahkan suara tawa dan obrolan mereka terdengar hingga ke nurse station ini. Tapi dari sekian orang yang kukenali sebagai keluarga pasien tak terlihat ada sosok anak-anak.

Aku berusaha mengingat-ingat kembali cerita-cerita Kang Wahyu. Seingatku dia sama sekali tak membahas ruangan kantor kaperu. Jadi bisa dikatakan –sejauh yang bisa kuingat- ruangan itu kemungkinan bukan ruangan yang berhantu. Apalagi selama setahun bertugas di sini sama sekali aku tidak pernah bertemu hal-hal aneh berbau mistis. Entah cerita Kang Wahyu itu benar apa hanya karangan.

“Ta-tadi kan saya mau ambil peralatan transfusi dari lemari di dekat kaca pembatas antara ruangan ini dengan ruangan kaperu. Sa-saat saya melihat ke arah ruang kaperu, muncul wajah anak kecil di jendela …. Saya ingin teriak tapi khawatir membuat pasien kaget, Teh,” bisik Yusi menceritakan kronologis kejadian yang baru dialaminya.

“Coba kita periksa,” ajakku gamang.

Yusi mengangguk. Sementara ketua shift malam, Mbak Santi, masih sibuk menelepon dokter spesialis di ruang sebelah tempat dokter jaga ikut beristirahat untuk konsultasi.

Perlahan aku dan Yusi mendekati ruang kaperu. Jaraknya dari meja nurse station hanya sepuluh meter saja. Meski deg-degan dan gemetar, aku berupaya memberanikan diri sambil bersiap-siap lari juga kalau terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Di belakangku, Yusi mencengkeram lengan kananku erat-erat.

Satu dua langkah. Tujuh meter terlewati. Tinggal 3 langkah lagi mendekati kaca ruang kaperu. Jantungku semakin berdetak kencang. Tak kupedulikan apakah ada pasien atau keluarga pasien yang memperhatikan sikap kami. Aku fokus menatap ke arah kaca ruang kaperu sambil menahan napas.

“Teh, saya takut …. ” Yusi berbisik dan sedikit menahan pergerakanku dengan mencengkeram lengan lebih kuat lagi.

“Sst …. ” Aku menempelkan telunjuk di depan mulut.

Bismillah. Aku segera membaca ayat-ayat Al Quran untuk menguatkan hati dan menumbuhkan keberanian yang rasanya bukan semakin bertambah tetapi makin berkurang. Hiks! Ya Allah, lindungi kami, bisikku dalam hati.

Kami sekarang berada tepat di depan kaca pemisah ruang kaperu dengan ruang rawat ICU. Tinggi tembok ruangan hanya setinggi perutku. Sisanya berupa kaca sehingga isi ruangan kaperu sebagian terlihat karena terkena cahaya lampu dari ruang ICU yang terang benderang.

Satu menit, dua menit. Kami berdua terpaku diam mematung dengan posisi kaki siap untuk berlari. Aku melirik Yusi yang disambut dengan gelengan kepala.

“Mana?” tanyaku.

“Nggak tahu, Teh. ” Tiba-tiba Yusi membelalakkan kedua matanya saat menatap kaca dan membekap mulutnya dan berteriak tertahan. “I-itu!”

Secepat kilat aku menoleh ke arah kaca. Sebuah kepala menyembul dari balik bawah tembok pembatas dan muncul di kaca!

“Astagfirullah!” Aku terkejut, perut rasanya mendadak kram.

Sebuah wajah muncul di balik kaca dan menatap kami berdua!

“Kalian ngapain di situ?” Tiba-tiba saja Mbak Santi sudah berdiri sejajar di sampingku.

“Oh. Saya lupa. Pasien atas nama Ibu Retno yang di bed 3, itu punya anak kecil usia 8 tahun. Di rumahnya nggak ada yang jagain. Jadi tadi dia datang dengan neneknya dan saya izinkan mereka bermalam di ruangan kaperu.” Mbak Santi menatap santai ke arah kaca jendela. “Tadi dia sudah tidur. Rupanya terbangun sekarang.”

Yusi langsung menghembuskan napas lega dan aku tersenyum kecut. Kepala yang barusan menyembul itu ternyata seorang bocah yang ikut menunggui ibunya. Si bocah menatap kami bergantian dengan tatapan polos. Lalu kembali menghilang di balik tembok. Mungkin melanjutkan kembali tidurnya. Fiuhh ….

***

7 Oktober 2020

Editor: DLZ’s crew

Gambar:

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

5 comments on “AKU MELIHATNYA!

Nurilatih

Hahaha…

Reply
DLZ Admin

Cocoknya genre apa ini, Bun? Horor komedi apa komedi aja? 🤔🤭

Reply
Nurilatih

Horor bukan
Komedi bukan
Ada lucunya sih

Ini horor diplintir jadi komedi….
Saya sih pernah bikin begini. Pembaca teriaaak…. Hahaha

Reply
DLZ Admin

😁🤭

Reply

[…] Baca juga : AKU MELIHATNYA! […]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: