Sunday, 25 October, 2020

Daily Literacy zone

AKU OKE?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Nulis gitu doang aku juga bisa, bahkan bisa lebih bagus. Lihat saja nanti kalau tulisanku sudah rampung. Tapi nanti-nantilah.”

“Ish, anak kemarin sore. Apa bagusnya dia punya karya? Kok bisa-bisanya dia langsung bikin karya sendiri begitu?”

“Aku yakin kalau aku lebih pintar dari dia. Lihat saja kalau karyaku sudah rilis. Pasti semua orang bakalan kagum padaku.”

Pernahkah DLZers menemukan orang yang senang membangun opini dengan cara menyanjung dirinya sendiri? Atau, kita justru yang sering berlaku begitu?

Yakin kalau kemampuan diri bisa lebih dari orang lain. Bisa membuat karya yang berbeda dari orang lain dan pasti diminati orang banyak. Tapi saat ditanya pembuktian ternyata stucked di kata “belum ada.”

Well, DLZers. Begini ya. Yang menilai kita itu super duper oke dibandingkan orang lain itu apa jika tak ada satupun karya yang sudah dihasilkan? Hanya dengan sibuk nyinyir bin julid pada orang lain? It’s absolutely, wrong! A thousand percent “wrong!”

Yang menilai kita itu lebih oke dari orang lain itu ya dengan pembuktian. Bukti karya dari apa yang kita bisa. Produk apapun tergantung dari profesi kita. Rekam jejaknya. Itu yang penting.

Jadi, biarkan orang lain menilai berdasarkan hasil karya kita dan bukan dari sibuknya kita melakukan pencitraan agar dibilang oke. Bukankah tong kosong nyaring bunyinya? Bukankah air beriak tanda tak dalam?

Sangatlah mudah membuat opini pada diri sendiri bahwa kita lebih oke dari orang lain. Sebab yang menilai diri sendiri. Dari sudut pandang yang tidak obyektif. Penilaian yang sudah pasti unfair. Blinded. Pada kenyataannya, belum tentu publik memiliki opini yang sama. Bisa jadi orang yang karyanya kita remehkan ternyata malah lebih sukses di mata masyarakat.

Jangan pula mempertanyakan sudah sejauh mana orang lain yang kita anggap lebih “rendah” terkait berapa banyak pengalaman yang sudah mereka dapat. Tidak semua orang suka membuat pencitraan agar dinilai oke oleh orang lain. Jangan pernah merasa kita lebih “senior” dibandingkan orang lain yang saat diterawang “sepertinya” lebih “junior” dari kita. Jangan jadi orang yang sok tahu tapi nyatanya banyak tidak tahunya. Sebab kita tidak memantau kegiatan orang lain selama 24 jam terus menerus, bukan? Jika kerjaan kita hanya sebagai radar yang memantau kegiatan orang lain artinya kita benar-benar “kurang kerjaan”. Lalu kapan menyibukkan diri dengan membuat karya kalau begitu?

Jika merasa lebih pintar dan mampu dari orang lain, silakan buktikan dengan banyak berkarya. Hentikan mengoceh di sana sini untuk sekadar mendapatkan image kalau kita itu “oke” tetapi tanpa bukti. Publik itu butuh bukti, bukan janji. Slogan yang sebenarnya tak hanya berlaku untuk kampanye para calon wakil rakyat saat pemilu.

Mari banyak berkarya dan produktif. Bangunlah opini positif lewat karya. Semoga berhasil dan ketika sudah sukses jangan banyak merendahkan orang lain, ya? Tetaplah down to earth. Insya Allah berkah.

Aku oke? Tak perlu menggiring opini banyak orang untuk menjawabnya. Biarkan karya-karya kita yang akan membuktikannya. Tetap produktif, tetap semangkA (semangat karena Allah)!

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

9 comments on “AKU OKE?

Setuju. Alalagi kalau menilai diri sendiri itu kadang berlebihan. Cenderung gak adil karena bisa saja kita hanya fokus menyanjung diri sendiri.

Reply
DLZ Admin

Betul, betul, betul.
๐Ÿ˜๐Ÿ™

Reply
nurilatih

Benar sekali. Berkarya saja dengan niat. Mengalir saja tanpa khawatir, karena sebuah orang sama-sama belajar. Tidak ada yang sempurna dalam sebuah karya. Itulah proses pendewasaan karya. Baik dari segi struktur bahasa maupun isi.

Reply
nurilatih

Benar sekali. Berkarya saja dengan niat. Mengalir saja tanpa khawatir, karena sebuah orang sama-sama belajar. Tidak ada yang sempurna dalam sebuah karya. Itulah proses pendewasaan karya. Baik dari segi struktur bahasa maupun is

Reply
DLZ Admin

Betul sekali, Bunda. ๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š

Reply

saya malah merasa tulisan saya justru belum pantas dirilis di RMG, hanya faktor berani membunuh rasa malu sj supaya ada yang tau bs y bisa nulis ๐Ÿ˜Š

Reply
DLZ Admin

Pede aja, Mbak. Yang penting nulis, berbagi manfaat. Insya Allah takkan salah Allah SWT menghitungnya. Semangat terus menulis!๐Ÿ’ช๐Ÿฅฐ

Reply
Naya Malika

Amiinnโ€ฆsemoga kita semua selalu konsisten untuk belajar menulis..

Reply
DLZ Admin

Aamiin yra.

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: