Wednesday, 15 July, 2020

Daily Literacy zone

AMUNISI BERKARYA PENULIS


Penulis : Rhea Ilham Nurjanah

“Mbak, info terbaru tentang proyek buku saya sudah sampai di mana, ya?”

Sebuah chat muncul di sebuah WAG. Pertanyaan yang muncul setelah beberapa menit lalu admin grup baru saja memosting info terbaru terkait proyek menulis mereka. Menggelikan, bukan? Mempertanyakan hal yang baru saja diterbitkan persis di atas chat penanya tersebut. Malas baca? Malas scroll up? Atau kedua-duanya?

“Mbak, bagaimana info terbaru buku saya? Share, dong!” Kalau ini chat berupa wapri pada admin WAG.

Padahal baru saja admin membagikan informasi tersebut di grup. Entah mengapa sang penanya masih juga menanyakannya lewat wapri dan bernada memerintah. Meminta posting ulang lewat wapri, sepertinya info yang sudah dibagikan di grup tidak digubris sama sekali. Dianggapnya info di grup tidak penting, merasa diri ekslusif, atau …. ?

Amunisi seorang penulis itu, adalah mau “baca”. Tak bisa dibayangkan bila seorang penulis mengaku senang menulis tetapi tak suka membaca. Maka hasil tulisannya pun patut dipertanyakan kualitasnya. Apa iya sudah memenuhi kaidah berbahasa yang ada?

Menjadi seorang penulis, pasti akan membutuhkan referensi, sumber pendukung tulisannya, atau minimal contoh jenis tulisan yang sama dengan yang diinginkannya. Tidak mungkin seorang penulis tahu apa itu puisi, cerpen, novel, artikel, dan sebagainya, tanpa membaca terlebih dahulu apa pengertian masing-masing jenis tulisan tersebut.

Bagaimana seorang penulis bisa mengatakan karyanya sebuah novel, bila dia sendiri tidak pernah mencari tahu lewat membaca tentang apa itu novel. Bagaimana aturannya. Berapa jumlah minimal halamannya. Judul atau isu apa saja yang sedang digandrungi oleh masyarakat, dan sebagainya.

Jika mengaku penulis tetapi tak pernah baca alias menulis mengandalkan penafsiran diri sendiri, bisa jadi yang muncul adalah tulisan yang “entah”. Editor yang menangani tulisannya akan berkerut keningnya dan bingung untuk memasukkan tulisan tersebut ke jenis yang bagaimana. Kata-kata yang dipakai biasanya rancu. Idiom-idiom, peribahasa, majas-majas, yang dipakai biasanya juga akan terbaca ganjil, tidak lazim, dan sulit diartikan maknanya.

“Aduh, Admin. Chat semua sudah saya hapus. Belum dibaca. Nggak tahu kalau ada info penting. Bisa share ulang lagi?”

Bagaimana rasanya jika DLZers menjadi admin grup dan bukan sekali dua kali menerima perkataan seperti ini? Merasa disepelekan? Sudah bekerja tetapi tak dihargai? Sudah capek-capek posting tetapi tidak dibaca sedikitpun? Tetapi si penanya masih juga tanpa merasa bersalah berani minta posting ulang?

***

Sumber gambar : pexels

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

4 comments on “AMUNISI BERKARYA PENULIS

Jadi pengen nyanyi, “Entah apa yang…..,” hwehehehe.

Reply
DLZ Admin

😆😆

Reply
Mae Maemunah

Ya ..ya..itu sering banget terjadi di WAG mana aja

Reply
DLZ Admin

Betul, betul. 😅

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: