Tuesday, 22 September, 2020

Daily Literacy zone

Anak Nabi yang Antimainstream


Anak Nabi yang Antimainstream

Kita pasti tahu tentang para nabi yang memiliki anak-anak yang saleh bahkan juga meneruskan jejak langkah sang ayah menjadi seorang Nabiyullah. Sebut saja Nabi Ismail alaihissalam dan Nabi Ishaq alaihissalam yang merupakan anak dari Nabi Ibrahim alaihissalam. Lalu ada Nabi Yusuf alaihisalam yang merupakan anak dari Nabi Yakub alaihissalam, dan beberapa nama nabi lainnya.

Anak nabi itu sudah pasti saleh? Itu yang seringkali tertanam dalam benak kita. Ada seorang kiai, ulama besar, maka otomatis kita sering berpikir anak-anaknya pasti saleh seperti bapaknya. Jika tidak maka akan terdengar aneh, bukan?

“Masa iya orang itu ketua preman padahal bapaknya kiai? Mustahil! Anak angkat mungkin?”

“Wah, kalo anaknya jadi ketua geng motor alias berandalan, berarti bapaknya kiai abal-abal, dong? Masa bisa mengajak umat yang notabene banyak orang sementara membuat anaknya, seorang doang, buat jadi saleh malah nggak bisa?”

Pasti begitu kan anggapan masyarakat. Bisa jadi pendapat kita juga. Padahal nggak ada yang mustahil di dunia ini. Iya, nggak?

Ternyata oh ternyata, lagi-lagi Islam sudah menjelaskan kepada kita, jauh-jauh hari sebelum kita lahir, tentang perkara ini. Bahwa tak selamanya seorang ayah yang saleh akan memiliki anak yang saleh juga. Salah satu contohnya adalah Kan’an atau Kanaan atau Yam. Tokoh dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai “anak durhaka”. Anak Nabi yang antimainstream. Jika yang lain memiliki anak yang saleh maka lain halnya dengan Nabi Nuh alaihissalam. Salah satu anaknya telah dilabeli Allah SWT sebagai anak durhaka.

Betapa tidak durhaka. Setiap dakwah yang dilakukan sang ayah selalu ditentangnya. Tak sedikit pun mau beriman apalagi membantu Nabi Nuh alaihissalam saat membuat bahtera berukuran super besar di zamannya.

Ketika bahtera siap, hujan mulai turun dan mulai menggenangi tanah, Kan’an masih juga tak tergerak hatinya untuk bertobat dan menyatakan beriman kepada Allah SWT. Dia malah bergegas lari ke bukit dan gunung yang lebih tinggi. Menurutnya hal itu akan menyelamatkannya dan lebih dipilih daripada harus mengakui keesaan Allah SWT.

Kurang kasih sayang apa Nabi Nuh alaihissalam kepada sang anak? Ketika melihat air bah hampir menenggelamkan anaknya, beliau masih berseru dengan kasih sayang yang tulus. Mengajak sang anak agar beriman kepada Allah SWT. Namun, dengan pongahnya Kan’an berpaling dan tak hendak menyambut seruan penuh kasih dari ayahnya. Kedua mata batinnya telah buta dari kebenaran. Maka sulit baginya untuk menerima yang haq. Siapapun yang menyampaikannya.

“Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat terpencil, ‘Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir. ‘ Dia (anaknya) menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkanku dari air bah!’ (Nuh) berkata, ‘Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud, 42-43)

Melihat anaknya tenggelam, Nabi Nuh alaihissalam masih berupaya naik banding dengan “menagih” janji Allah bahwa Dia akan menyelamatkannya, keluarganya dan pengikut-pengikutnya yang beriman. Hal itu tak lain adalah bentuk kasih sayang Nabi Nuh alaihissalam sebagai orang tua kepada anaknya. Dilakukannya berbagai cara agar anaknya bisa kembali padanya.

Rupanya Allah SWT menenggelamkan Kan’an karena telah berlaku ketetapan dari-Nya (a.k.a. takdir) yang memang menetapkan bahwa Kan’an termasuk orang-orang yang kafir sekalipun ayahnya adalah seorang nabi. Hal ini untuk mematahkan opini bahwa keimanan seorang ayah itu “diwariskan”. Sama sekali dan sekali-kali tidak begitu. Keimanan itu diusahakan dan diupayakan, diperjuangkan hingga teraihnya hidayah untuk kemudian tetap istikamah di dalam Dien-Nya.

Apakah tidak sampai kepada mereka berita (tentang) orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, Ad, Samud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata; Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (At Taubah, 9: 70)

Jadi, tidak ada jaminan sama sekali bahwa anak nabi sekalipun akan menjadi saleh. Sebab semua manusia bernilai sama di hadapan Allah SWT. Yang membedakannya hanyalah kadar keimanannya.

Maka tugas manusia yang utama adalah senantiasa menjaga keimanannya kepada Allah agar tidak menjadi hamba-Nya yang durhaka. Pun, berupaya mendidik anak kita agar tidak menjadi anak yang durhaka. Durhaka dalam mentaati orang tua yang ingin menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Wallahu alam bishowab.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

4 comments on “Anak Nabi yang Antimainstream

Suratmi Supriyadi

Aku suka

Reply
DLZ Admin

Alhamdulillah. Semoga bermanfaat. πŸ˜ŠπŸ™

Reply
Erni Yusnita

Jadi iktibar bagi kita selaku orang tua ya Bun..

Reply
DLZ Admin

Betul. Semoga anak-anak kita dan kitanya juga termasuk orang-orang yang saleh/ salihah. Aamiin yraπŸ™β€οΈ

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: