Monday, 13 July, 2020

Daily Literacy zone

ASBABUN NUZUL QS. AT TAHRIM, 66:11 (Rhea Ilham Nurjanah)


(Rhea Ilham Nurjanah)

Suatu ketika, tatkala Fir’aun berkuasa –yang kelak akan berhadapan dengan Nabi Musa alaihissalam– mendapatkan laporan dari salah seorang anaknya bahwa ada seorang pelayan wanita atau pekerja istana yang tanpa sengaja menjatuhkan sisir saat menyisir rambut putra Fir’aun dan menyebutkan sesuatu yang meresahkan. Meresahkan bagi keberlangsungan hegemoni kekuasaan raja lalim yang menyebut dirinya seorang tuhan. Ucapan apakah gerangan?

“Celaka orang yang kafir kepada Tuhan Allah!”

Fir’aun berang. Ia langsung menyuruh pengawalnya membawa pelayan wanita tersebut ke hadapannya. Di hadapan raja zalim itu, sang pelayan mengakui keimanannya kepada Allah SWT. Tuhannya Nabi Musa alaihissalam dan Nabi Harun alaihissalam. Raja Fir’aun bertambah murka. Sebagai hukumannya, pelayan wanita tersebut tangan dan kakinya dibelenggu. Diikat pada pasak. Lalu ditinggalkan begitu saja.

Tak berapa lama kemudian, Fir’aun datang kembali dan menanyakan apakah pelayan perempuan itu masih juga beriman kepada Allah SWT?

Fir’aun mengancam, “Aku akan menyembelih anak-anakmu di hadapanmu.”

“Tuhanku, Tuhan bapakmu dan Tuhan seluruh makhluk hanyalah Allah. Aku hanya tunduk kepada-Nya,” jawab si pelayan wanita tersebut dengan nada yakin.

Fir’aun kembali murka. Amarah mengalahkan logikanya. Sementara pelayan perempuan tersebut bergeming. Sekalipun Fir’aun benar menyembelih semua anak-anaknya tanpa belas kasihan. Ia tetap teguh pada akidahnya.

Apa yang mendasari pelayan wanita tersebut begitu kuat menggenggam keimanan di dalam hatinya? Rupanya ketika satu persatu anaknya disembelih, ia melihat ruh anak-anaknya langsung menuju ke surga seraya menyampaikan sesuatu.

Mereka berkata, “Hai, Ibu. Bergembiralah! Sebab Engkau akan mendapatkan balasan di sisi Allah SWT, maka bersabarlah!”

Saat itu Bunda Asiyah juga ikut mendengar suara ruh anak-anak pelayan wanita tersebut. Tanpa pikir panjang, wanita yang tetap suci dan tak pernah terjamah sekalipun oleh Fir’aun, segera menyatakan keimanannya kepada Allah SWT. Masya Allah. Hal yang memicu kemarahan Fur’aun semakin menjadi.

Fir’aun menanyakan penilaian dari pengikut setianya tentang Bunda Asiyah. Para pengikut setia Fir’aun jujur mengungkapkan bahwa mereka memuji perangai dan karakter wanita salihah tersebut.

“Tetapi dia bertuhan selain kepadaku, “ucap Fir’aun pongah, tak terima.

Tanpa sungkan, para pengikut setia Fir’aun berkata, “Bunuh saja dia dan ikatkan kaki beserta tangannya pada pasak!”

Mendengar rencana keji tersebut, Bunda Asiyah segera berdoa kepada Allah SWT. Memohon perlindungan dari kejahatan orang-orang zalim dan memohon agar dimasukkan ke dalam surga.

Bukan sekali Bunda Asiyah menerima siksaan dari sang suami. Pernah dijemur di bawah terik mentari gurun pasir yang terkenal tandus dan gersang, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Jarir. Sumber kekuatan Bunda Asiyah hanyalah keimanannya kepada Allah SWT.

Balasan atas keteguhan imannya, Allah SWT mengutus malaikat untuk memayungi Bunda Asiyah. Malaikat melebarkan sayapnya untuk melindungi dari panasnya sinar mentari seraya memperlihatkan bangunan surga yang akan menjadi rumahnya kelak. Hal itu yang menjadi penghiburan dan penguat keimanan Bunda Asiyah hingga akhir hayatnya.

Dari sepenggal kisah asbabun nuzul ini, mari kita ambil hikmahnya. Meneladani Bunda Asiyah yang keimanannya telah teruji dan dimuliakan Allah SWT di dalam Al Quran. Ancaman, siksaan, hingga intaian hukuman mati akan senantiasa membayangi orang-orang beriman yang selalu berdiri tegak membela-Nya.

Tak mengapa. Tak perlu takut. Tak perlu khawatir. Sebab Allah SWT akan memberikan ganjaran terindah dalam naungan kasih sayang dan rida-Nya berupa surga. Tempat abadi, teramat indah dan penuh kenikmatan. Tiada bandingannya. Insya Allah.

Wallahu alam bishowab.

***

Editor : DLZ’s Crew

Referensi : Musfah, Jejen dan Anis Masykhur. DOA AJARAN ILAHI (Kumpulan Doa dalam Al Quran beserta tafsirnya), Bandung: Mizan, 2002.

Sumber gambar : Canva

Daily Literacy Zone

0 comments on “ASBABUN NUZUL QS. AT TAHRIM, 66:11 (Rhea Ilham Nurjanah)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: