Tuesday, 22 September, 2020

Daily Literacy zone

ASYIKNYA NGEDIT NASKAH ORANG LAIN


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah

“Seru juga ya jadi editor proyek antologi. Jadi ketagihan!”

“Seru kalau ngedit naskah orang, ya? Beragam tulisan ada. Dari yang bagus sampai yang berantakan. Dari yang ceritanya oke, sampai absurd. Hehehe.”

Komentar ini nggak cuma sekali dua kali terucap dari beberapa teman editor proyek antologi. Memang iya, sih. Kalau sudah pernah menangani proyek antologi dan sukses, rasanya bikin nagih! Apalagi saat masuk ke proses ngedit naskah yang masuk. Seru banget, lho!

Mau tahu di mana serunya? Simak sampai tuntas, deh. Siapa tahu Sobat DLZers juga jadi tergiur untuk ikut mencoba.

Baca ini juga : KENAPA NGGAK BERSKILL EDITING?

Kita jadi tahu beragam karakter orang yang kirim naskah. Konon, isi naskah mencerminkan sebagian karakter penulisnya juga. Masa iya? Eh, nggak percaya?

Dari naskah yang masuk, terlihat lho mana yang memang kerjanya super rapi dan teliti. Sekalipun isi naskah biasa, tapi kerapian tulisan membuat poin plus penulis naik beberapa tingkat di mata editor. Ada memang naskah yang isinya bagus tapi penulisannya acak-acakan. Hal ini juga bisa membuat editor merasa illfeel. Jadi sebaiknya isi naskah yang oke ditunjang pula oleh kerapian pengetikannya. Maka akan terlihat sempurna dan profesional.

Orang yang senang mepet DL juga terlihat lho dari hasil tulisannya. Kadang alur yang semula lambat, tiba-tiba dibuat cepat. Atau diakhiri dengan ending yang dipaksakan. Atau bahkan terjadi perubahan POV tanpa ada tanda atau ciri khusus. Yang namanya mepet DL, biasanya asal selesai dan asal sudah kirim. Masalah isinya sesuai dengan tema atau tidak, itu urusan belakangan.

Gambar: Canva

Dari tulisan yang masuk, bisa terbaca juga sejauh mana si penulis memahami tema dan judul yang diangkat. Hal ini bisa memberi gambaran sejauh mana kemauan si penulis untuk membaca dan memahami tema maupun judul yang diusung. Jika ada tema tentang lebaran tapi naskah yang dikirim malah membicarakan tentang pernikahan, maka bisa dipastikan si penulis naskah tidak membaca baik-baik tema dan judul event. Hal ini jelas membuktikan bahwa penulis “malas” untuk membaca. Penulis tapi nggak mau baca? Oh, no! What a disaster.

Kemampuan seorang editor membuat tulisan menjadi lebih cantik, itu tidak mudah. Karena editor harus memahami isi naskah yang akan disuntingnya. Apalagi kalau harus memangkas tulisan karena melebihi batas maksimal yang telah ditentukan. Editor harus lihai memangkas bagian-bagian tidak perlu dengan tetap tidak mengubah maksud dan tujuan dari isi naskah. Bermain dengan kata-kata. Mencari padanan kata yang baku untuk kata-kata yang kurang pas. Itu seru, lho!

Editor as a first reader. Kadang kalau sudah mepet DL, penulis mana sempat meminta orang di sekitarnya untuk menjadi first reader. Jadi sebenarnya editor itu merangkap sebagai pembaca pertama suatu naskah. Di saat orang lain ingin tahu apa isi keseluruhan naskah, editor sudah lebih dahulu tahu bagaimana kondisi naskah dari mulai “mentah” hingga “matang”nya. Orang-orang bahkan penulis naskah itu sendiri pasti harap-harap cemas akan hasil akhir bukunya. Editor? Sudah tahu duluan, dong. Asyik, kan?

Baca ini, yuk? Behind The Screen Buku Nabi Muhammad SAW dan Mukjizatnya

Beragam tulisan yang dibaca, beragam karakter penulis, dan beragam ilmu yang didapat bisa menjadi tambahan wawasan dan informasi bagi editor, lho. Hingga tak aneh jika editor bisa mengenali satu persatu karakter, sudut pandang, dan cara berpikir seorang penulis berdasarkan naskah yang dibacanya. Mungkin si editor takkan hafal satu persatu nama penulis, tetapi pasti ada beberapa naskah yang berkesan dan akan diingatnya selalu. Apalagi jika isi tulisan yang dibacanya memberikan informasi baru yang menarik.

Jika sudah mencintai pekerjaan mengedit, maka takkan ada kata bosan untuk mengedit lagi dan lagi. Menekuri sebuah naskah itu ibarat menghadapi kepingan puzzle yang belum tersusun rapi. Tugas editor adalah merapikan bagian demi bagian hingga tersusun rapi membentuk satu kesatuan yang utuh. Memulai satu naskah baru, lalu menyelesaikan hingga akhir. Kemudian memulai lagi suatu naskah dan menyelesaikannya sampai akhir. Begitu terus menerus.

Terbiasa melihat tulisan rapi maka saat melihat tulisan yang berantakan maka matanya akan terasa gatal dan ingin sekali merapikan itu semua. Namun memang di sini terkadang editor tak bisa langsung mengkritisi satu persatu naskah yang masuk disebabkan naskah yang masuk segunung sementara waktu yang dipunyai sedikit. Maka jika ada editor yang rajin mengkritik bersyukurlah, sebab artinya dia masih punya waktu luang. Sebab jika sudah sibuk, jangankan mengkritik, menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar editing naskah pun tak ada waktu.

Setiap pekerjaan memang selalu ada hal yang menyenangkan dan ada hal yang menyebalkannya. Tetapi jika kita sudah memilih dan mencintai profesi tersebut maka takkan terasa berat dan hal-hal yang mungkin menjengkelkan bisa jadi akan ditanggapi dengan canda. Yang penting selalu happy.

Salam literasi. (14 Agustus 2020)

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

2 comments on “ASYIKNYA NGEDIT NASKAH ORANG LAIN

Dapat ilmu baru plus pengalaman dari penulis. Memang pusing kalau liat tulisan yang kurang rapi. Kayainya bakal banyak yang lirik jadi editor setelah baca ini heheh.

Reply
DLZ Admin

Oh harus, dong. Apalagi penulis, harus bisa jadi editor. Minimal mengeditori tulisan sendiri. 😄

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: