Saturday, 18 September, 2021

Daily Literacy Zone

ASYIKNYA NULIS


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers! Apa kabar? Sudahkah menulis hari ini?

Menulis itu terlihat mudah dan sepele. Everybody can do it. Semua orang bisa melakukannya tetapi tidak semua orang mau memulainya apalagi sampai menjadikannya kebiasaan hidup sehari-hari. Padahal banyak manfaat dari aktivitas menulis, namun belum semua pernah merasakannya. Padahal sejak masuk sekolah dulu, menulis adalah aktivitas rutin yang dilakukan tiap hari.

Apa saja manfaatnya?

1. Latihan motorik. Kenapa balita sejak mulai pre school ada yang mulai dikenalkan dengan aktivitas memegang pensil atau crayon untuk kemudian diajak mencoret kertas kosong? Semua berawal dari sana. Kadang tak hanya kertas yang dicorat-coret, tapi juga tembok, perabotan rumah, bahkan ada yang menggambari dirinya atau adiknya. Psst! Adakah emak-emak yang juga pernah mengalami hal ini? Kalau iya, kita senasib, lho. Hehehe ….

Jadi, dari aktivitas ini sebenarnya motorik halus dan kasar anak sedang dilatih, agar menjadi luwes, dan berkembang lebih baik. Silakan baca ulasannya untuk manfaat menulis bagi otak di:

Manfaat Dahsyat Menulis Tangan Bagi Otak

Jadi kalau kemampuan otak dan motorik kita tetap terjaga, jangan pernah absen menulis. Apapun itu. Menulis tangan ya yang terbaik.

2. Aktualisasi diri. Punya akun medsos semacam FB, WA, Ig, dan lain sebagainya? Pasti punya, dong. Nah, dengan menulis dan rajin memosting di akun medsos, merupakan bentuk aktualisasi diri. Terutama bagi para IRT. Nulis kegiatan sehari-hari, nulis tentang anak, dan sebagainya.

Tetapi ingat. Tetaplah menulis hal yang santun. Jangan sampai membocorkan rahasia dapur dan kasur. Atau sampai berantem dan perang komentar di medsos. Baik dengan pasangan maupun dengan teman atau kenalan. Supaya jangan sampai menjadi konsumsi publik.

3. Sebagai terapi. Beberapa penulis faktanya banyak yang mengakui kalau dengan menulis merupakan terapi yang menyehatkan. Seorang penulis introvert yang memiliki trauma masa kecil yang pahit, merasakan kelegaan luar biasa ketika mampu mengungkapkannya lewat tulisan. Seorang survivor kanker, produktif menuliskan pengalamannya seraya menjalani kemoterapi. Tujuannya hanya satu, ingin menyemangati para penderita kanker lainnya agar tidak putus asa dan menyerah melawan penyakitnya. Masih banyak cerita inspiratif lainnya yang muncul dari aktivitas menulis sebagai cara menerapi diri sendiri. Tertarik untuk mencobanya juga?

4. Hobi. Banyak orang mengaku bahwa menulis adalah hobi yang menyenangkan. Yang suka masak, bisa berbagi resep andalannya lewat kumpulan buku resep. Yang senang travelling, menuliskan pengalamannya lewat buku atau blog. Masih banyak lagi hal-hal asyik yang bisa kita bagi dengan dunia.

5. Mata pencaharian. Menulis ternyata bukan hanya sebagai hobi saja, lho. Bisa juga sebagai mata pencaharian. Hanya saja jika menjadikan menulis sebagai mata pencaharian maka harus lebih ekstra serius menjalaninya. Disiplin, rajin personal branding, jeli mencari tema yang bisa menarik perhatian pembaca, dan sebagainya. Lebih serius dan profesional lagi.

6. Bentuk ibadah. Ada pula orang-orang yang menjadikan menulis sebagai aktivitas beribadah. Kenalkah kita dengan imam Al Ghazali? K.H. Moenawar Khalil, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Ibnu Katsir, dan sebagainya.

Kecemerlangan mereka dalam memahami ilmu agama, ilmu sejarah, menjadikannya mengukirkan semua yang diketahui lewat karya-karya fenomenal. Bahkan terus cetak ulang hingga kini. Dijadikan referensi yang bisa dipertanggung jawabkan. MasyaAllah. Luar biasa sekali, bukan? Bayangkan, berapa banyak pahala amal jariyah yang dihasilkan dari setiap ilmu yang sudah dibagikan dan dituliskan.

7. Stamina otak berkualitas. Biasanya orang akan mudah pikun setelah mereka menjalani masa pensiun. Sebabnya adalah tidak lagi melakukan aktivitas-aktivitas lebih rumit dan berat yang melibatkan otak. Akhirnya mulailah ada yang mulai sakit-sakitan dan menjadi pikun lebih cepat.

Nah, semua itu bisa diatasi dengan aktivitas menulis, membaca. Kenapa? Sebab yang namanya menulis kan membutuhkan banyak baca, mencari referensi, riset, dan aktivitas pendukung lainnya. Otak akan terus diajak berpikir dan bekerja, sehingga tidak ada kesempatan untuk berhenti. Maka kinerja dan kualitas otak akan selalu dalam keadaan optimal.

Kira-kira apa lagi keasyikan yang bisa kita dapatkan dari menulis? Silakan tuliskan di kolom komentar.

Oke. Jadi ternyata aktivitas yang seringkali diremehkan atau bahkan dihindari, yaitu menulis, jika terus rutin dilakukan ternyata banyak sekali manfaatnya. Berhenti sekolah, lantas berpikir sama dengan artinya berhenti menulis, adalah sebuah anggapan yang keliru. Justru harus terus dipertahankan dan dilakukan hingga akhir hayat kita.

Setuju? Selamat menulis hari ini, ayo bersenang-senang, dan salam literasi!

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: koleksi NuBar Rumedia Jabar

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “ASYIKNYA NULIS

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: