Saturday, 21 November, 2020

Daily Literacy zone

BENARKAH JADI BEST SELLER?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Mau bikin buku jadi best seller? Join kelas mentor A dengan investasi sekian juta, dijamin bukumu laris manis di pasaran. Segera hubungi … bla bla bla …. “

“Cara Cepat Bikin Buku Best Seller. Ikuti kelas nulis dengan mentor B. Penulis 100 buku best seller.”

“Lima Hari Nulis Buku Jadi Best Seller bersama mentor C yang beberapa bukunya sudah diangkat ke layar lebar.”

Pernah lihat iklan semacam ini, Sobat DLZers? Tawaran yang dijamin langsung membuat mata kita melotot dan tanpa pikir panjang langsung daftar meski terkadang harga investasi yang harus dibayar cukup lumayan untuk ukuran kantong kita yang masih merangkak dalam berkarya di dunia literasi. Langsung sinyal di otak kita melambung tinggi dengan sejuta khayalan bahwa dengan ikut kelas semacam itu maka sudah terjamin karya yang kita tulis pasti, yakin, bin percaya bakalan jadi best seller.

Buat yang nggak punya cukup uang untuk ikutan kelas berbayar tersebut bagaimana? Ada yang langsung merespon dengan lesu dan patah semangat.

Di benaknya langsung tertancap stigma, “Aku nggak punya uang untuk ikutan kelas nulis buku jadi best seller. Nyari uang di mana? Kayaknya selamanya nggak akan bisa berhasil. Hhh, ya sudahlah. Berhenti menulis saja. Mungkin passion-ku bukan di nulis, bla bla bla …. “

Respon terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang benar-benar berhenti menulis, ada yang menantikan kelas gratis, dan sebagainya. Adakah Sobat DLZers salah satu di antaranya?

Well. Dengarkan baik-baik ya. Mari kita belajar sedikit berpikir realistis.

Pertama. Memangnya para mentor itu benar 100 % bisa menyulap buku kita jadi best seller dalam sekejap? Apa mereka penentu takdir karya yang kita tulis? Apa ada jaminannya? It’s nonsense! Absolutely, nonsense! Tetap saja banyak faktor yang menentukan suatu buku bakalan best seller atau tidak. Tidak cukup dengan hanya ikutan kelas yang mengiming-imingi bakalan best seller lalu, viola! Beneran best seller! Ingat, kita ini hidup di dunia nyata bukan dunia mimpi. Ingatlah. Penentu takdir buku kita itu hanya Allah SWT, Tuhan semesta alam. Adapun jika benar-benar best seller, pasti ada banyak cerita kilas balik di belakang semuanya sehingga takdir baik tersebut berlaku.

Kedua. Coba cek track record alias rekam jejak para mentor tersebut. Adakah yang baru sekali nulis langsung best seller? Adakah yang sekali nulis –benar-benar kali pertama nulis– lalu langsung best seller? Sejauh yang saya selidiki lewat profilnya, nyatanya tidak ada penulis model begitu. Semua mengawali dari nol. Semua berawal dari merangkak, ditolak berkali-kali, dan sejuta cerita menyedihkan lainnya. Semua butuh waktu. Semua butuh faktor-faktor lain selain “hanya” dengan mengikuti kelas nulis buku jadi best seller. Don’t be so naif.

Ketiga. Fungsi kelas nulis buku jadi best seller itu hanya semacam bagi-bagi petunjuk, bagi-bagi info. Darimana info dan petunjuk tersebut? Ya dari pengalaman pribadi para mentor dan penulis tersebut pastinya. Mereka hanya sekadar berbagi dengan tujuan menginspirasi dan memotivasi. That’s all. Tentu saja untuk semua ilmu dan pengalaman berharga tersebut, tak semua penulis best seller rela berbagi secara gratis. Semua ada harganya –meski ada juga penulis yang ikhlas berbagi tanpa memungut bayaran.

Setelah Sobat DLZers selesai mengikuti kelas-kelas tersebut lalu evaluasi. Survei. Coba buktikan. Dari sekian peserta, berapa persen yang produktif menulis dan benar-benar hasil karyanya jadi best seller?

Keempat. Ingin best seller tapi karya nggak bermutu. Hasil tulisan acak-acakan. Banyak typo, banyak dipotong sana sini oleh editornya. Cari tema yang kurang potensial untuk dipasarkan di masyarakat, nulis malas, dan sebagainya. Coba saja pikir. Mana ada penulis dengan seribu satu habit buruk yang tak jua diubah namun berharap bisa best seller? Ngimpi aja kalee, cuy (mungkin begini komentar gaulnya. Hehehe …. )!

Kelima. Faktor keberuntungan. Sebut saja Tere Liye yang melejit dengan karya “Hafalan Salat Delisa” karena berhubungan dengan peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 silam. Momen tepat dengan suatu kejadian yang fenomenal. Faktor ini, keberuntungan, hanya bisa diatur oleh Sang Pemilik waktu semua peristiwa. Jean Jacques Rousseau dengan bukunya yang fenomenal dan dipercaya sebagai pencetus dan penggerak pecahnya revolusi Perancis pada tahun 1789 M. “The Social Contract” merupakan buku yang isinya menentang kezaliman para pejabat negara dan kaum borjuis terhadap rakyat pekerja. Masih banyak contoh lainnya.

Keenam. Jika ingin menjadi best seller, tak cukup hanya mengikuti kelas yang membahas hal itu saja. Kita juga harus berlatih dengan keras, jangan mudah menyerah, jangan gampang mundur, jangan berhenti ketika mood buruk. Jangan cuek dengan berbagai masukan dan saran. Lakukan riset dengan serius, seperti mencari tahu apa selera pasar, tulis sesuatu yang memang bermanfaat, pelajari berbagai teknik kepenulisan, persiapkan materi sebanyak-banyaknya, dan hal-hal lainnya. Seringnya, kita, banyak mengeluh dan menjadikan mood buruk sebagai alasan untuk tidak segera menulis, kan? Penulis yang giat, siap bekerja keras, dan siap sukses itu bukanlah yang bergantung ataupun mudah takluk dengan yang namanya “bad mood”. Mau mood bagus atau buruk, tetep nulis.

Ketujuh. Ingin buku langsung best seller, tapi moodmood-an. Nulis nggak tiap hari. Mengeluh dan ngomel saat susah dapat ide. Malas riset … bla bla bla. Dengan seribu satu kondisi yang sering dijadikan alasan pembenaran tidak produktif menulis seperti itu lalu kita bermimpi jadi penulis best seller? Sekalinya nulis, nulis apa adanya. Tidak berupaya memperbaiki dan mengembangkan skill menulis. Yakin buku kita bisa best seller? Apa nggak jadi seperti “pungguk yang merindukan bulan?”

Bagaimana, Sobat? Apakah semangatmu masih tetap menyala atau meredup seketika? Atau banyak penolakan dan ketidak setujuan terhadap isi tulisan ini?

Saya sendiri bukan penulis yang sudah memiliki karya best seller seperti Tere Liye atau Dee Lestari. Masih jauh pula dari penulis yang berkali-kali best seller dengan penjualan di atas 2000 eksemplar sekali launching Kang Dewa Eka Prayoga.

Saya, jujur, tak pernah berpikir untuk menghasilkan karya yang best seller, tetapi lebih menekankan diri agar memperbanyak latihan menulis, mencari ilmu di sana sini, berusaha agar tulisan yang dihasilkan bermanfaat dan tak sekadar hanya menimbulkan kehebohan sesaat. Masalah best seller atau tidak, sudah sepenuhnya saya serahkan pada Sang Pengatur sebaik-baiknya takdir. Bagian saya cukup dengan “bekerjalah, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman akan melihatnya.”

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “BENARKAH JADI BEST SELLER?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: