Monday, 13 July, 2020

Daily Literacy zone

Buat Apa Nulis?


Buat Apa Nulis?

Beragam penulis yang bertebaran saat ini pasti beragam pula tujuannya saat menulis. Kira-kira apa sajakah tujuan para penulis itu saat berkarya. Ingin tahu?

Ikut-ikutan teman. Lihat teman menulis dan punya karya, kita jadi ingin juga. Apalagi saat ini menerbitkan buka bukan lagi menjadi hal yang sulit. Banyak penerbit indie yang menawarkan untuk menerbitkan buku berupa antologi yang biayanya ramah di kantong.

Atau lewat platform-platform menulis, web, blog, facebook, dan sebagainya. Menulis tak lagi sekadar corat-coret di buku harian, bangku, pohon, dan sebagainya.

Ekspresi diri. Dari beberapa komunitas menulis yang Teh Mican ikuti, banyak sekali yang mengatakan bahwa menulis itu salah satu cara untuk mengekspresikan diri dan pikiran mereka. Yang suka nulis novel, bikin novel beragam genre. Yang suka nulis puisi, memosting puisinya di akun medsosnya. Ada yang memang rutin menulis, ada yang masih sekadar suka-suka.

Self healing. Dari beberapa teman penulis pula Teh Mican mendengar kalau menulis dijadikan sarana sebagai terapi diri. Yang merasa introvert, kebanyakan merasa bahagia dengan aktivitas menulis. Tahu introvert, kan? Itu lho, orang yang memiliki kepribadian tertutup. Tampilan keseharian mereka biasanya pendiam, kurang luwes bergaul, merasa rendah diri untuk beberapa alasan, dan sebagainya. Biasanya orang-orang introvert lebih mudah mengeluarkan isi pikirannya lewat tulisan daripada berbicara banyak.

Ada juga yang memiliki masalah dengan kondisi psikisnya. Misalnya merasa depresi, pemarah, pencemas, dan sebagainya. Dengan menulis, mereka mengakui bahwa aura negatif yang dirasakannya berkurang perahan-lahan. Banyak yang berhasil menjalani terapi menulis dan merasa jiwanya lebih sehat, segar, dan ringan.

Menyalurkan hobi. Semua orang pasti punya hobi, kan? Ada yang senang bermusik, menggambar, memasak, dan lain-lain. Nah, bagi orang-orang yang hobi menulis, biasanya ada ketertarikan di bidang literasi. Bahasa kerennya “passion“. Hanya saja ada yang benar-benar menekuni hobinya menjadi profesi, ada yang sebatas masih untuk senang-senang. Menulis saat sedang senggang. Tidak terlalu memperhatikan atau memiliki impian khusus terkait hobinya.

Cari duit. Sebagian penulis tidak munafik dengan mengakui bahwa tujuan menulis adalah untuk mendapatkan profit. Sebut saja Rosihan Anwar, wartawan dan penulis senior Indonesia. Beliau faktanya sanggup menghidupi keluarganya dari hasil menulis. Tentu saja beliau bisa seperti itu karena tingkat produktivitasnya juga tinggi. Tidak sekadar asal menulis. Senantiasa melihat kebutuhan pasar seperti apa.

Asma Nadia, memiliki penerbitan sendiri yang cukup diminati penulis-penulis terutama yang bergenre Islam. Dewa Eka Prayoga, menulis buku-buku motivasi berbisnis dan menerbitkannnya secara indie dengan profit yang cukup menguntungkan. Tere Liye, penulis dengan buku-buku best seller yang konon berpenghasilan ratusan juta setiap bulannya, dan masih banyak contoh-contoh lainnya

Memuaskan keinginan pembaca. Dari beberapa platform menulis yang ada di media sosial, Teh Mican melihat ada yang sanggup menulis hingga berseri-seri. Ada yang berawal dari ide pribadi lalu berkembang memenuhi rekues pembacanya. Ada pula yang menulis dengan mengikuti kemauan pembacanya. Beberapa memiliki rating cukup tinggi bahkan sampai diterbitkan menjadi sebuah buku.

Idealisme diri. Ada penulis-penulis yang menulis dengan memiliki aturan-aturan khusus bagi dirinya sendiri. Contohnya duo kakak beradik Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Mereka lebih memilih menulis karya yang bernapaskan Islami. Perjuangan muslim di Palestina, perkembangan Islam di beberapa negara, atau cerita-cerita bercita rasa dakwah lainnya.

Lalu ada Fira Basuki yang senang memasukkan unsur kebudayaan dan adat istiadat suatu suku bangsa. Habiburrahman El Shirazy, yang senang menulis novel romansa, Islami, dan mengambil setting di negara-negara Timur Tengah. Masih banyak contoh lainnya.

Berbagi manfaat dan ilmu. Ada pula penulis yang menulis termotivasi karena ingin berbagi ilmu. Seperti ilmu-ilmu kesehatan, parenting, resep-resep masakan, dan sebagainya. Ada yang menuliskannya dalam bentuk tulisan-tulisan ilmiah dan dipakai sebagai acuan atau referensi dalam suatu disiplin ilmu, ada pula yang menuliskannya dalam bentuk tulisan populer dengan gaya santai dan bahasa yang mudah dicerna masyarakat luas.

Tuntutan profesi pekerjaan selain sebagai penulis. Bagi sebagian profesi, menulis dapat dijadikan syarat kompetensi untuk mendapatkan kenaikan jenjang karir. Atau dari hasil menulis yang sudah dibukukan menjadi satu syarat untuk dikukuhkan dalam suatu keahlian kompetensi yang tak jauh dari dunia literasi. Bahkan di Indonesia sudah sejak lama dicanangkan wajib menulis buku atau karya tulis lainnya bagi profesi guru.

Profesi sampingan. Faktanya memang banyak penulis yang sudah memiliki profesi utama sebagai sumber penghidupannya namun masih sanggup menjadikan menulis sebagai profesi sampingan. Ada yang mulai merintis kegiatan di dunia literasi dengan tujuan sebagai profesi selanjutnya ketika sudah pensiun dari profesi utamanya. Mengisi masa-masa purnabakti dengan kegiatan supaya tidak merasa jenuh nantinya.

Viral. Beberapa penulis senang menuliskan hal-hal bersifat pro dan kontra dengan tujuan supaya mendadak viral dan nama mereka mendadak terkenal di masyarakat. Terkadang ada yang menulis hal-hal yang bertentangan dengan norma, etika, atau bahkan bertentangan dengan aturan pemerintahan yang sedang berkuasa sebagai bentuk protes atau kritikan.

Ada juga yang menuliskan hal-hal yang sedang menjadi trending topik kekinian. Seperti tulisan “Layangan Putus’ beberapa waktu lalu. Lalu ada kasus plagiasi yang dilakukan seorang remaja yang menimbulkan protes keras dari masyarakat namun mendapat dukungan dari beberapa elit negara ini, dan masih banyak tulisan-tulisan viral lainnya.

Ibadah. Terakhir, penulis-penulis yang menulis dengan tujuan ibadah. Ada yang mengkhususkan diri menulis buku-buku keagamaan, artikel, buletin, hingga buku-buku motivasi. Buku-buku yang sepertinya kurang menarik tetapi selalu laku setiap masa. Contohnya buku panduan salat, buku Yasinan, Iqra, dan beberapa buku lainnya.

Baiklah. Ternyata banyak sekali motivasi yang bisa dikaji dari penulis-penulis yang ada di sekitar kita. Adakah salah satunya yang menjadi tujuan dan motivasi utama kita saat menulis?

***

Sumber foto : pexels

literacyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “Buat Apa Nulis?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: