Thursday, 02 December, 2021

Daily Literacy Zone

CARA MENGHARGAI KARYA SENDIRI


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLzers. Sudah berapa buku antologi terbit yang dimiliki saat ini? Sudahkah masyarakat mengenal kita sebagai penulis yang sudah punya karya? Sudahkah pembaca karya kita memberikan testimoni berupa pujian?

Jika sudah memiliki penggemar, apalagi sampai mendapat pujian atas tulisan-tulisan yang sudah dibuat, alhamdulillah. Jika belum? Menulis saja terus dan simak juga beberapa hal-hal berikut:

1. Tulis semenarik mungkin. Pembaca akan menyukai karya seorang penulis jika isinya memang menarik. Menarik dalam arti membuka wawasan, menyuarakan isi hati yang terpendam –sehingga pembaca merasa menemukan kawan senasib– alias mampu mewakili, memanjakan dengan isi tulisan yang memghibur, menyajikan lelucon, dan sebagainya. Jadi, buatlah tulisan yang kita tulis menjadi semenarik mungkin. Bagaimana supaya bisa seperti itu? Banyak baca, riset, dan latihan terus menerus pastinya.

2. Isi tulisan mudah dipahami.

Tidak perlu mempergunakan istilah-istilah yang mungkin bagus menurut kita tetapi “sebenarnya” aneh bagi pembaca. Contohnya seperti “tiupan angin sudah mulai berjalan, membuat ombak makin tersenyum dengan busanya.” Mungkin maksudnya ingin mempergunakan majas personifikasi, tetapi jadi aneh rasanya. Karena tidak lazim dan kurang pas untuk pemiliham diksinya.

Isi cerita tetap realistis, related, mudah dipahami isinya. Boleh unik asal jangan absurd dan sebagainya.

3. Perhatikan EYD.

Banyak penulis yang masih “cuek” untuk urusan yang satu ini. Entah malas untuk memvalidasi dengan membuka kamus KBBI, atau buru-buru karena menulis saat jelang injury time alias deadline. Mempergunakan kata-kata yang diterjemahkan dalam bentuk tulisan tetapi menurut “versi” sendiri dan dengan mempergunakan dialek bahasa daerah setempat. Contohnya: rapih, silahkan, rejeki, izajah, menejmen, gerobag, dan sebagainya. Buat editor buku, ejaan-ejaan seperti itu sangat mengganggu sekali. Apalagi jika tidak hanya satu tetapi banyak.

4. Perhatikan pemakaian tanda baca, spasi, paragraf, dan sebagainya.

Sering sekali saya menemukan penggunaan tanda baca yang dobel, akhir kalimat tidak diberi tanda baca, dialog berbeda orang numpuk di satu paragraf, penggunaan dialog tag yang kurang tepat, dan masih banyak lagi.

Pernah juga menemukan tulisan yang penuh dengan tanda elipsis, tetapi tidak sesuai aturan. Jadi sekilas, isi naskah mayoritas didominasi oleh titik-titik. Atau menemukan satu tulisan yang hanya berisi satu paragraf sepanjang 2-4 halaman, dan masih banyak hal-hal tidak sesuai kaidah penulisan lainnya yang banyak ditemukan dalam naskah-naskah buku yang telah saya editkan.

5. Edit dan revisi berkali-kali. Sejauh pengamatan selama ini, sangat sedikit sekali saya bertemu dengan penulis yang rajin mengedit dan merevisi tulisannya sebelum dikirim ke penerbit atau proyekan nulis lainnya. Kebanyakan memilih untuk selesai nulis, tanpa self editing, langsung kirim dan “done“! Merasa tugas sudah beres dan lega. Tidak mau tahu dan tidak tahu bahwa editor yang membaca naskahnya mendadak migrain dan mual mendadak akibat amburadulnya tulisan yang harus dieditnya. Pun, setelah bukunya terbit, tidak berusaha mempelajari kesalahan apa saja yang sudah dilakukannya dengan cara membandingkan tulisan yang sudah dicetak dalam buku terbit dengan naskah yang dahulu dikirimkannya.

Atau sudah berulang kali diberi masukan yang sama, tetapi masih juga melakukan kesalahan yang itu-itu lagi. Sampai-sampai editornya hanya bisa menghela napas panjang saat lagi-lagi melihat hasil tulisannya yang tetap stagnan dengan segala kesalahan lama dan tidak menunjukkan perkembangan maupun kemajuan apapun.

6. Rapi.

Cukup banyak penulis yang “konon” katanya mengaku sebagai penulis tetapi isi tulisannya amburadul. Tidak sesuai dengan syarat dan ketentuan yang dibuat oleh penerbit atau leader proyek yang bersangkutan. Apalagi jika menerbitkan di indie.

Sebagian merasa bahwa, “Ah, ada editor ini. Ngapain juga aku harus self editing? Tokh, aku juga bayar, kan? Biar saja mereka yang merevisi tulisanku. Aku taunya nulis, beres, kirim, dan nunggu buku terbit, deh.”

Tolonglah. Jangan pernah berpikiran untuk mengandalkan editor, leader proyek nulis, atau siapapun. Jika ingin karir menulis terus bertahan lama, maka sebaiknya andalkan diri dan kemampuan sendiri. Belajarlah! Perbaiki terus kekurangan kita dan sabarlah dalam berproses.

Ingat, ya. Harap dibedakan antara sabar menerima tetapi tanpa tergerak untuk berubah menjadi lebih baik lagi alias nrimo, dengan sabar yang ketika diberi masukan lalu mencatatnya baik-baik dan berusaha semaksimal mungkin untuk belajar memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

7. Profesional.

Sedikit sekali penulis yang berupaya untuk profesional dengan memberikan yang terbaik dalam setiap karyanya. Tema nulis tentang bahaya gadget, eh kita malah nulis soal Lebaran. Genre antologi tentang romansa cinta kepada pasangan, kita malah nulis cara menanam kacang kedelai. Kacau, kan? Saat buku sudah terbit, baru deh merasa minder. Tidak punya cukup keberanian untuk menyebarluaskan karya ke masyarakat karena khawatir ditertawakan. Nah, makanya biar tidak ditertawakan, nulis yuk yang terbaik dan sesuai tema buku?

8. Promosikan tanpa henti. Beberapa penulis, yang baru saja menyetor tulisannya ada yang mendesak keesokan harinya untuk segera dibuatkan cover buku. Halo, Bapak, Ibu, Mas, Mbak …. Menerbitkan buku itu tidak sama dengan bikin kue. Selesai kurang dari sejam dua jam. Bagaimana mau memproses dengan cepat bila tulisan-tulisan yang masuk membutuhkan editing besar-besaran? Belum lagi kadang ada yang menyicil kirim biodata, atau bahkan ganti isi tulisan.

Promosi buku memang bagus, wajib malah. Tetapi jangan dijadikan alasan untuk mendesak penerbit agar buku lekas terbit. Promosi itu kan bisa mengambil referensi dari flyer dan deskripsi yang leader proyek buat. Atau dari tulisan kita sendiri. Banyak cara sebenarnya jika mau berusaha, berpikir positif, dan kreatif.

Faktanya, setelah buku terbit, sedikit bahkan sangat minim penulis yang benar-benar mempromosikan dan memublikasikannya. Kebanyakan setelah terima buku terbit, ya sudah. Selesai nulisnya, selesai gabung dengan komunitas nulisnya … pokoknya selesai segalanya. Alhasil, buku terbit berakhir jamuran dalam sudut rak buku di rumah.

9. Berikan buku pada yang membutuhkan.

Ada penulis yang entah bercanda, entah nyinyir, entah memang sudah karakternya begitu. Jadi saat membeli buku secara pre order dengan kewajiban minimal 3 eksemplar, hal itu menjadi masalah besar untuknya. Tiba-tiba bingung, nanti mau dikemanakan buku tersebut? Jualan enggak bisa dan nggak pede. Tidak yakin ada yang mau membeli bukunya dan sebagainya.

Nah, kenapa tidak coba beramal saja? Berikan buku kepada perpustakaan atau taman bacaan milik masyarakat yang masih kekurangan modal buku. Daripada tidak pede menjual, kan dengan menyedekahkan buku yang kita punya, siapa tahu menjadi jalan pembuka rezeki selanjutnya? Iya, enggak?

10. Stop jadi deadliner.

Hari gini masih jadi deadliners alias pencinta mepet deadline? Kapan dong hijrahnya kalau sudah bertahun-tahun menulis, masih saja mempertahankan habit yang buruk?

Banyak sekali kerugian jadi deadliners itu, salah satunya sudah capai-capai nulis, eeh karena tidak bisa mengelola waktu dengan baik akhirnya tulisan selesai setelah melewati deadline. Gagal deh gabung di proyek nulis. Leader, klien, atau rekan-rekan jadi tidak percaya lagi pada kredibilitas kita. Ambyar, kan?

Ada hal lain yang bisa dilakukan untuk menghargai hasil karya sendiri? Silakan komen dan berbagi, ya? Salam lterasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: koleksi pribadi

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

2 comments on “CARA MENGHARGAI KARYA SENDIRI

Citra sasadara

Pertama punya buku karangan sendiri,nggak pede buat dijual. Akhirnya kirim kirim ke orangtua dan saudara saudara. Sekalian minta masukan. Buku kedua dan ketiga mulai pede jualan dan alhamdulillah salah satu judul habis terjual.Rasanya bangga dan seneng banget.Sekarang makin semangat belajar nulis terus 🙂

Reply

Keren, Mbak. Lanjutkan yaa. Good luck! Ikut seneng dan bangga dengernya 🥰😘

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: