Tuesday, 22 September, 2020

Daily Literacy zone

CERITA DI BALIK PENULISAN BUKU “NABI MUHAMMAD DAN MUKJIZATNYA”


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Setiap buku memiliki ceritanya masing-masing yang tak terlupakan. Seperti halnya saat dinyatakan hamil hingga melahirkan anak, pasti setiap ibu memiliki ceritanya masing-masing seperti juga penulis yang sudah menerbitkan buku-buku karyanya.

Buku “Nabi Muhammad dan Mukjizatnya” memiliki cerita unik di balik penulisannya. Ingin tahu bagaimana cerita lengkapnya? Yuk, simak hingga tuntas.

Semua berawal dari sebuah komunitas kepenulisan yang khusus beranggotakan para wanita pecinta literasi yang penulis ikuti di Kota Bandung. Setelah mengikuti kelas pelatihan menulis untuk menerbitkan buku di tahun 2013-2014, penulis berkesempatan untuk menerbitkan naskah bukunya. Buku yang digadang-gadang akan menjadi buku solo pertama.

Qadarullah, buku yang semula akan disiapkan nyatanya tak berhasil lanjut ke tahap cetak. Meski sempat ada penerbit mayor yang tertarik tetapi entah karena alasan apa, naskah buku yang sudah siap ternyata gagal lolos. Sempat membuat penulis kecewa pada awalnya karena ini kali pertama. Sempat editor menawarkan untuk diterbitkan dalam bentuk digital atau e-book, tetapi penulis kurang sreg. Akhirnya buku tak dicetak, penulis pun sempat merasa patah arang. Apalagi melihat teman-teman satu angkatan yang produktif menghasilkan karya. It’s really makes down.

Tak lama kemudian, ada info dari grup alumni bahwa ada proyek nulis dari satu penerbit mayor. Editor menginfokan ada 10 judul yang diinginkan penerbit tersebut. Semuanya tentang cerita anak Islami. Wah, info yang sangat menarik!

Judul yang diminta, terus terang bukan hal yang mudah. Penulis sempat merasa tidak pe de untuk terus maju. Tetapi melihat teman-teman lain yang begitu antusias saling berlomba untuk bisa memenangkan tender proyek nulis tersebut (haha, keren kan istilahnya?). Buat penulis, sih, terdengar sangat keren. Maklum, dulu baru punya satu buku antologi. Buku solo apalagi. Belum punya! Hehehe.

Mbak editor juga menginfokan bahwa siapa yang tercepat dan terbaik dalam mengirimkan contoh tulisan, maka dialah yang akan mendapatkan job tersebut. Saat itu mbak editor meminta sampel naskah sekitar 20 halaman plus outline naskah pada semua penulis yang berminat.

Kebetulan. Qadarullahnya, penulis sedang asyik menekuni membaca buku tentang sirah Rasulullah SAW. Maka dengan semangat 2000, dimulailah perjuangan menyusun sampel naskah. Jujur, sempat minder sebab ada penulis senior yang juga mengincar judul yang sama. Subhanallah. Hormon adrenalin langsung berpacu. Seru sekaligus mendebarkan!

Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari waktu yang ditentukan, sampel naskah dan outline sudah jadi. Dengan jantung berdebar (seperti saat pertama berjumpa si dia … eaa!) dikirimlah file tersebut kepada editor. Lalu sambil menunggu yang lain setor naskahnya, penulis memperbanyak doa dan berpikir optimis sekaligus pasrah pada-Nya. Apapun yang kelak terjadi, itu pasti yang terbaik.

Lalu ….

Jreng jreng! Datang pengumuman dari editor. Dari sekian puluh orang yang antre menyetor outline, outline dan sampel naskah penulis menjadi salah satu yang terpilih. Alhamdulillah. Exciting sekali! Meski tidak kenal nama penerbitnya, yang penting sudah “goal!” Yihii!!

Sebenarnya sempat browsing juga sih. Ternyata penerbit yang memesan naskah selama ini memang lebih banyak menerbitkan buku pendidikan untuk di sekolah. Meski mereka ada divisi khusus untuk menerbitkan buku-buku cerita anak. Ah, tak kenal maka tak sayang. Setelah kenal, berusaha untuk sayang.

Apakah buku setelah lolos langsung jadi buku terbit? Nggak, dong. Masih ada tahap-tahapan selanjutnya. Yaitu mengerjakan sisa halaman. Dari 20 sampel naskah, penerbit ternyata meminta penulis melengkapinya hingga 60 halaman A4. Harus selesai dalam waktu 2 pekan saja! (Bayangkan dengan buku antologi yang diberi waktu 2-3 bulan untuk menulis 2-4 halaman saja. Jelas berasa bedanya, kan?)

Mulailah berburu buku referensi. Syarat minimal referensi itu 10 buku. Semua dari buku. Tidak ada yang hasil googling. Boleh, tapi rasanya kurang sreg aja. Belakangan memang baru tahu kalau referensi dari internet itu seringnya meragukan daripada validnya.

Alhamdulillah, naskah selesai kurang dari 2 pekan. Langsung setor ke editor. Lalu … apakah langsung terbit? Lagi-lagi belum, saudara-saudara! Sabar, ya.

Penulis menunggu lebih kurang 6-8 bulan. Setelah dapat kepastian fix di acc semua isi naskah, editor minta direvisi dulu. Diwarnailah naskah penulis dengan warna-warna untuk memperbaiki bagian yang salah. Melihatnya? Super enek! Karena dulu skill self editing masih kurang. Akibatnya lumayan ada revisi cukup banyak. Tak apalah. Penulis jadi tahu. Sering buka kamus dan sebagainya.

Beres revisi. Setor ulang lagi. Nunggu lagi.

Beberapa bulan kemudian datanglah pemberitahuan tentang surat kontrak. Ndilalah, pengalaman pertama langsung disodori kontrak jual putus. Apa arti jual putus? Next akan kita bahas, ya. Tunggu tanggal mainnya.

Setelah tanda tangan kontrak. Beberapa pekan kemudian dibayar lunas bayarannya. Berapa besarannya? Sst! Rahasia perusahaan, ya? Lumayan buat yang baru mencicipi nulis buku solo.

Lalu berhubung sistem jual putus, sejak dibayar fee, penulis pikir sudah selesai urusan. Meski jujur merasa ngenes dalam hati. Ingin lihat bagaimana sih penampilan “anak pertama” itu. Bagus, nggak? Saking penasarannya, hampir sebulan sekali penulis pergi ke toko buku, ke pameran, dan browsing. Siapa tahu ada penampakan bukunya. But I couldn’t find anything there. So sad. Hiks.

Editor juga nggak ngasih kabar apa-apa setelahnya. Karena penulis kurang pengalaman juga, jadi asli merasa nelangsa, melow. Karena ada semacam rindu yang tak terlukiskan. Penasaran tingkat dewa akan hasil akhirnya bagaimana. Eaa. Bikin baper aja. Hihihi ….

Dapat bocoran dari editor kalau buku rencana release awal Januari 2016. Tapi sampai akhir tahun 2016, tiada sedikit pun kabar berita. Hmm, ya, sudahlah. Anggap saja anak hilang. Penulis mulai berhenti memikirkannya. Mulai sibuk nulis naskah lainnya lagi. Lupakan! Lupakan! Begitu selalu tiap kali rindu itu datang mendera.

Rupanya buku release sekitaran tahun 2017-an. Tak ada angin tak ada hujan. Tak ada info apapun. Tiba-tiba langsung dapat kiriman 3 eksemplar buku terbit. Distempel sebagai buku sampel. Rasanya? Surprise! Bersyukur, girang luar biasa. Finally I had to see you, my baby!

Meski jual putus. Meski sudah tak ada hak atas royaltinya. Tapi penulis merasa bahagia dan jadi ketagihan nulis lagi. Genrenya apa? Sst! Next akan diceritakan.

Mau tahu berapa lama buku ini terbit? Sekitar 2 tahunan, Sobat DLZErs! Lama? Iya. Tapi semua penantian itu terbayar sudah.

Btw, sempat dapat info juga dari google bahwa hak atas naskah boleh diklaim setelah 25 tahun kemudian. Hmm. It’s okay. Yang penting buku sudah terbit. Manfaatnya juga insya Allah sudah dirasakan bagi yang membacanya. Tak ada yang sia-sia. Semoga menjadi kebaikan bagi semua. Siapapun, asal punya kemauan untuk bisa berkarya, dalam profesi apapun.

Itu sekelumit ceritaku. Semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Bagaimana dengan kisahmu, Kawan?

note: Buku bisa didapatkan di toko buku terkemuka di kota Sobat atau di online shop.

Salam literasi.

16 Agustus 2020.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Google

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

One comment on “CERITA DI BALIK PENULISAN BUKU “NABI MUHAMMAD DAN MUKJIZATNYA”

[…] Baca ini, yuk? Behind The Screen Buku Nabi Muhammad SAW dan Mukjizatnya […]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: