Thursday, 02 December, 2021

Daily Literacy Zone

CIRI-CIRI PENULIS TAK BERKUALITAS


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers. Sudah menuliskah hari ini? Nulis apa, nih? Jangan lupa dipublikasikan ya. Sayang kalau sudah capek-capek nulis tapi hasil karya kita tidak ada yang menikmati dan mengapresiasi. Jangan sampai dijuluki penulis tidak berkualitas oleh masyarakat.

Eh, tunggu. Penulis tidak berkualitas? Memangnya seperti apa sih ciri-cirinya? Apa kita termasuk di dalamnya? Yuk, cek bareng-bareng ….

1. Ikut proyek nulis tapi abai terhadap syarat dan ketentuannya. Lihat iklan ajakan nulis langsung disambar tanpa menyimak dengan teliti dan mendalam. Ikut nulis dan setor naskah tetapi tidak teliti ataupun cermat membaca hal-hal penting di dalamnya. Adakah syarat dan ketentuan dari sebuah proyek ajakan nulis tersebut? Sudah pahamkah dengan ketentuan yang ada? Kenapa kita mesti memerhatikan syarat dan ketentuan menulis dari manapun asalnya? Karena jarang sekali penerbit atau komunitas yang tidak menetapkan syarat dan ketentuan untuk proyek nulis mereka.

2. Setor naskah apa adanya tanpa self editing. Lagi-lagi kita bicara soal swasunting naskah. Penting sekali buat seorang penulis untuk mahir mengedit tulisannya sendiri jika ingin disebut sebagai penulis yang berkualitas. Sebab untuk penulis yang abai terhadap isi dan bentuk tulisannya, kualitas apa yang ingin dilihat oleh masyarakat atau pembaca dari mereka? Penerbit atau klien lebih suka hasil kerja yang rapi atau asal jadi dan berantakan?

Mereka yang peduli pada kualitas personal branding-nya sebagai penulis pasti akan menganggap kemampuan swaediting sebagai sebuah kewajiban dan kebutuhan yang mutlak. Yang tidak bisa diabaikan atau dihindari begitu saja. Harus! Titik! Apapun yang terjadi. Harus bisa. Harus mampu. Minimal untuk tulisan sendiri.

3. Isi tulisan asal dibuat.

“Enggak perlulah itu riset, pengamatan, atau referensi. Tokh aku nulis fiksi. Imajinasi semua!”

Pernah berpikiran seperti ini? Kalau iya, sebaiknya sedari sekarang bertobatlah. Sadarlah dan ubah pendapat tersebut.

Kenapa? Sekalipun tulisan yang kita buat adalah fiksi atau imajinatif, tetap saja harus masuk akal dan mudah dimengerti alur perjalanan cerita dan tokoh-tokohnya. Riset, pengamatan, referensi, dan faktor-faktor pendukung lainnya itu berguna untuk membuat tulisan kita terasa nyata. Riil. Karakter yang ada akan terpahami kuat di benak pembacanya.

4. Tidak memakai rumus dasar 5W+1H. Dari sebuah pelatihan nulis yang dimentori oleh penulis yang sudah memiliki jam terbang tinggi terkuak bahwa rumus dasar ini adalah patokan utama. Prinsip utama bagi penulis untuk membuat suatu tulisan. Apapun jenisnya. Mau fiksi ataupun non fiksi.

Jika salah satu unsurnya hilang, maka isi tulisan menjadi tidak utuh. Bahkan lebih lanjut mentor tersebut mengatakan jika ada penulis yang menulis tanpa rumus dasar ini, maka bisa dikatakan penulis aliran sesat. Rumus 5W dan 1 H, adalah syarat mutlak sebuah tulisan akan hadir dan terbentuk dengan sempurna.

5. Asal sudah bayar, menuntut hasil harus bagus. Dari hasil pengamatan beberapa komunitas menulis dan penerbit yang menawarkan berbagai kemudahan untuk menerbitkan buku, terungkap fakta bahwa beberapa penulis khususnya pemula, menuntut tulisan mereka harus bagus dan sempurna. Tuntutannya bukan pada diri sendiri tetapi pada yang memfasilitasi.

Yang lebih menyedihkan dan membuat miris lagi, ada beberapa penerbit indie yang menawarkan paket super lengkap. Dari mulai menuliskan isi naskah, mengetiknya, hingga terbit. Penulis tahunya hanya memberi kotretan atau orat-oret konsep. Tidak tahu susahnya merangkai kata. Tidak tahu payahnya mengedit tulisan. Penulis yang merasa sudah “membayar” tersebut hanya tinggal menunggu bukunya terbit tanpa mau tahu segala kerumitan di balik pembuatan naskahnya tersebut.

Penulis tersebut baru kaget, terkejut, syok, ketika masuk ke komunitas atau penerbit yang meminta penulisnya serius dan profesional mengelola tulisannya sebelum diterbitkan. Mulai dari mengetik, mengedit hingga mengirimkannya. Alhasil naskah yang dikirimkan pun asal jadi dan berantakan karena tidak terbiasa untuk mengelolanya sendiri dengan baik.

Adakah penulis seperti ini? Ada! Bahkan mungkin banyak di luar sana. Apakah mereka tidak berpendidikan? Justru gelarnya mentereng. Punya kedudukan yang lumayan di instansi tempat kerjanya. Miris? Tentu saja. Inilah wajah sesungguhnya dari negara yang menurut survei adalah negara kedua dari urutan bawah tentang melek literasi.

7. Tidak mau mempromosikan bukunya yang sudah terbit. Jumlah penulis di Indonesia rasanya makin bertambah banyak. Terbukti dengan makin menjamurnya komunitas-komunitas kepenulisan, proyek nulis antologi, dan tawaran paket penerbitan. Yang masih kurang gaungnya adalah kemauan dan kemampuan mereka mempromosikan bukunya yang sudah terbit.

Banyak orang mengaku penulis dan sudah menerbitkan banyak buku tetapi usia bukunya tak ada yang lama apalagi dinikmati masyarakat. Hanya dikonsumsi sendiri dan teronggok di sudut lemari hingga berjamur dan lapuk. Ketika diragukan kredibilitasnya sebagai penulis, merasa tersinggung lalu mencak-mencak. Barulah bukti-bukti dikeluarkan.

Baiknya sih segera dan selalu promosikan setiap kali kita menerbitkan buku supaya personal branding sebagai penulis terekam kuat di benak masyarakat. Jadi kalau ada yang meragukan, tinggal tengok akun-akun medsos kita. Pamerkan buku-buku terbit koleksi yang ada di rumah. Minimal kita memiliki satu saja sampel buku sendiri yang sudah terbit. Buat perpustakaan mini di rumah yang khusus berisi buku hasil karya tulis sendiri.

8. Hanya sekadar nulis, menerbitkan buku, sudah. Kurang kuatnya personal branding para penulis di masyarakat salah satunya karena sudah merasa “cukup” dengan menulis, bayar, lalu menunggu buku terbit. Ini jika kita menggandeng penerbit indie.

Tidak sedikit pun tergugah atau terketuk hatinya untuk “membesarkan” hasil karyanya dengan giat mempromosikan dan memasarkannya, apalagi menulis ulasan atau review-nya. Sudah dimotivasi oleh rekan-rekannya berulang kali, tetap saja menanggapinya seperti angin lalu. Tokh sudah punya penghasilan tetap sebagai pegawai, ada penghasilan atau pemasukan bukan dari menulis, dan merasa cukup. Tidak perlu lagi pemasukan bentuk materi.

Hai! Bangun, Sobat! Perlu atau tidak perlu soal materi dari menulis, tetap saja kita punya “kewajiban” untuk menyebar luaskan karya sendiri ke masyarakat. Apalagi jika tulisan yang kita buat ternyata membawa banyak informasi baru dan manfaat bagi masyarakat. Ilmu yang kita miliki dan dituangkan dalam tulisan tersebut akan berkarat. Tiada memberi manfaat apapun. Semua terhenti di kita. Mubazir, kan?

Jadi bagaimana masyarakat akan menganggap atau memanggil kita dengan sebutan penulis? Bagaimana masyarakat tahu buku-buku apa saja yang sudah kita hasilkan? Darimana mereka akan merasakan manfaat kita jika tak sedikit pun menikmatinya?

9. Tidak mau membeli bukunya sendiri. Di beberapa komunitas menulis, ada info-info ajakan proyek nulis tetapi tidak mewajibkan penulisnya membeli buku terbit. Cukup nulis. Tak perlu bayar. Cukup banyak juga orang yang katanya “penulis” tetapi tanpa merasa malu atau kikuk mencari info tempat manakah yang mau menerbitkan tulisannya tanpa perlu membeli buku terbitnya.

Duh, Sobat. Jika kita saja, sebagai penulis, si empunya naskah, ogah membeli buku terbit hasil karya sendiri, apa halnya dengan orang lain? Bagaimana mereka akan tertarik untuk membeli buku terbit kita? Kita mau mempromosikan buku dengan cara apa, punya bukti terbitnya saja tidak ada satupun? Mana bisa tahu apa saja keistimewaan buku yang bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat? Apalagi kalau bukunya berupa antologi yang notabene ditulis keroyokan. Apa iya kita harus menanyai satu persatu kontributornya untuk memberikan bocoran tentang isi naskah mereka? Ribet, enggak sih?

Penulis senior seperti Gol A Gong saja selalu menyiapkan stok buku terbit hasil karyanya di ruang kerjanya untuk dipromosikan dan dijual ke masyarakat. Lha penulis pemula yang belum punya nama, kok malah apatis sama bukunya sendiri?

Tidak masalah sebenarnya jika tak ingin membeli buku terbit. Asal, terbitnya di penerbit mayor bukan indie. Yang memang tidak meminta penulisnya untuk membeli buku dan menjualnya. Itupun tidak semua penerbit mayor sekarang yang begitu. Saat ini, penerbit-penerbit mayor akan sangat mengapresiasi penulis yang menerbitkan bukunya tetapi tetap mau membeli dan menjualnya dengan rasa bangga. Bahkan ada yang sampai bersedia menjadi sponsor jika si penulis hendak mengadakan launching ataupun bedah buku.

Hmm, kira-kira ada lagikah yang bisa menjadi ciri-ciri penulis yang tidak berkualitas menurut Sobat DLZers? Kalau ada, boleh tulis di kolom komentar, ya.

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “CIRI-CIRI PENULIS TAK BERKUALITAS

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: