Sunday, 20 September, 2020

Daily Literacy zone

DISIPLIN = BERDARAH BIRU?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Dulu aku paling nggak suka dengan ritme kerja ibu di rumah. Kenapa? Sebab beliau itu orangnya disiplin, ulet dalam bekerja. Tegas, meski dalam kacamata seorang gadis kecil ketegasannya itu lebih ditafsirkan sebagai “galak”.

Bayangkan saja. Jika jam setengah enam pagi belum bangun saat libur, pintu kamarku langsung digedornya. Gedoran itu belum berhenti kalau aku belum mengucapkan sesuatu atau menyahut. Bahkan kadang berhenti ketika pintu kamar sudah kubuka lebar-lebar.

Ibu dulu bekerja dengan jadwal shift, jadi ketika beliau sedang berdinas, otomatis semua kerjaan rumah aku yang handle meski bapak ikut membantu. Terutama saat Ramadan tiba. Sahur kadang aku dan bapak yang menyiapkan ketika ibu dinas malam. Kadang ingin mengeluh juga. Ingin ibuku seperti ibu teman-teman yang selalu ada di rumah.

Saat sekolah siang, sejumlah tugas rutin harus kukerjakan. Menyapu, mengepel, beres-beres rumah. Kalau aku ngobrol atau main dengan anak tetangga dan pengasuhnya sebelum semua kerjaan beres, ibu pasti langsung memanggilku dengan lantang dari dalam rumah.

Jika anak perempuan seumurku bermanja-manja dengan ibunya, maka aku tidak pernah. Ukuran bermanja dengan ibu buatku adalah ketika kami masak bersama dan aku menceritakan kegiatan di sekolah atau teman-temanku.

“Kamu anak perempuan sendiri? Anak tengah lagi. Pasti paling dimanja, ya?” Ini tebakan dari semua orang yang menanyakan posisiku di keluarga setelah kuberitahu.

“Boro-boro!” Gelengku tegas. “Justru namaku yang paling pertama dipanggil ibu jika beliau pulang kerja dan membuka pintu rumah lalu melihat kondisi rumah yang berantakan!”

“Masa, sih?”

“Sayangnya …. Iya!” jawabku enteng.

Selepas SMA, aku merasa bebas dari ibu. Kenapa? Sebab aku kuliah dan wajib tinggal di asrama. Tiada lagi omelan, teriakan, ataupun ceramah panjang lebar tatkala aku melakukan sebuah kesalahan.

Tapi, di satu sisi aku mulai merasakan manfaat dari kedisiplinan ibu mendidikku dulu. Aku tak menangis saat teman-teman sibuk merindukan ibunya di satu bulan pertama wajib tidur di asrama dan tidak diperbolehkan pulang. Ada perasaan sedih dan kangen juga dengan keluarga di rumah. Tapi sewajarnya. Tidak sampai menangis berderai-derai seperti kebanyakan teman-teman lainnya.

Mulailah satu persatu keterampilan yang ibu ajarkan dan biasakan menjadi suatu hal yang ringan saja kukerjakan. Mencuci baju sendiri, menyetrika, merapikan tempat tidur, lemari, dan kamar. Tak ada kesalahan, sementara beberapa teman berhasil menggosongkan baju mereka ketika pertama kali menyetrika. Ada yang membiarkan kotak makan kotor tak dicuci berhari-hari hingga muncul belatung. Hiii, joroknya! Hihihi.

Saat tiba waktunya pulang ke rumah di akhir pekan, beberapa teman pulang membawa gembolan kantong besar berisi baju kotor selama seminggu untuk dicuci di rumahnya masing-masing. Aku? Baju seragam dan baju lainnya sudah selesai dicuci dan kurapikan. Tertata manis di dalam lemari. Baju yang kubawa pulang hanyalah pakaian yang kukenakan. Simpel, kan?

“Teh, kamu itu turunan ningrat, ya? Darah biru?” Itu pertanyaan teman seasrama yang mengomentariku.

“Lha, memang kenapa?” Aku kurang paham maksud perkataan mereka.

“Iya. Kamu kayaknya turunan ningrat, deh. Habisnya hidupmu disiplin, serba teratur, dan nggak neko-neko.”

“Haha. Bisa aja. Ya, nggaklah. Aku rakyat biasa, kok.” Aku jadi geli mendengar penilaian mereka.

Saat lulus kuliah dan bekerja, aku memilih kos. Lagi-lagi kurasakan manfaat didikan ibu. Masak dan sebagainya ringan saja kukerjakan. Tak pernah ada insiden masak gosong atau gagal. All were perfect!

Ketika sudah menikah, tidak ada hambatan pula. Bahkan aku sukses menggemukkan suamiku. Bagaimana tidak? Baru dua pekan menikah, berat badan suamiku langsung melonjak naik 10 kilogram lebih berat. Padahal saat acara akad, tubuhnya masih langsing dan dagunya lancip. Sementara aku sendiri tetap “kutilang”, kurus-tinggi-langsing. Hehehe. Badanku melar ketika hamil anak pertama dan seterusnya.

“Aduh, aku panik, nih! Nggak bisa masak! Padahal beberapa minggu lagi aku mau menikah. Bagaimana ini?” seru salah seorang temanku dengan panik.

Ya, nggak heran sih melihat kepanikannya. Temanku itu memamg tidak pernah diizinkan ibunya untuk mengerjakan apapun di rumah. Aku cuma bisa terdiam melihat kepanikannya saat itu. Yaa, mau belajar masak dadakan sekarang? Weleh ….

Nah, berdasarkan hal itu semua, maka aku pun memutuskan. Hal-hal baik dari ibuku, akan kuteruskan pada anak-anak. Meski anak-anak menilaiku emak-emak galak, tetapi mereka tahu tujuan galak dan kedisiplinan yang kuajarkan adalah untuk kebaikan mereka juga. Anak perempuan dan lelaki kuanggap sama untuk urusan keterampilan hidup dasar. Aku mau mereka menjadi manusia-manusia mandiri yang ulet dan tekun. Terutama untuk ketiga putriku. Mereka kelak akan jadi ibu rumah tangga, kan? Sementara untuk kedua anak lelakiku, semoga mereka kelak bisa membantu istrinya sehingga menjadi tim yang kompak nantinya. Aamiin yra.

Tapi, seriusan aku ingin tahu. Memangnya kalau ada orang disiplin, itu berarti mereka adalah turunan ningrat?

Salam literasi.

22 Agustus 2020

Editor: DLZ’s crew

Gambar: koleksi pribadi

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

3 comments on “DISIPLIN = BERDARAH BIRU?

afafaulia18

Sama nih, ngalamin juga. Tapi banyak manfaatnya sekarang. Alhamdulillah

Reply
DLZ Admin

Asik ada teman ternyata 🤭🤣✌️

Reply
DLZ Admin

Alhamdulillah, ya. 😊

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: