Saturday, 19 September, 2020

Daily Literacy zone

DO YOU DARE?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Mau jadi penulis tapi tak bisa menulis memakai komputer? Kira-kira, mungkin nggak, ya karir nulisnya bakalan melejit atau minimal selalu lancar setor tulisan? Apalagi untuk menerbitkan tulisan jadi buku solo yang banyaknya puluhan hingga ratusan lembar.

Mungkin bisa. Tapi dengan catatan mau berupaya belajar bisa untuk mengetik lewat komputer. Bisa sih meminta bantuan orang lain untuk mengetikkannya. Tapi mau sampai kapan begitu? Orang mau membantu mengetikkan naskah juga karena dibayar, kan? Memangnya ada orang yang mau bersusah payah mengetik untuk kita tanpa bayaran sedikitpun?

Penulis, dulu, saat SMP kelas satu, pernah ikut kursus komputer. Zaman di mana komputer masih sistem DOS. Ada yang tahu? Kalau tahu, artinya mungkin kita seumuran. Hehehe. Saat SMA, sudah ganti lagi sistem komputer. Saat kuliah dan menyelesaikan tugas akhir? Sudah berbeda lagi dengan zaman SMP. Bahkan hingga sekarang, sistem di komputer terus berubah dan mengalami perkembangan. Intinya sih untuk sarana memudahkan di saat kita ingin menyelesaikan suatu jenis tulisan. Lebih enak sebenarnya.

Baca ini juga: Gara-gara Terpaksa

Hanya saja, secanggih apapun teknologi jika tidak dibarengi dengan SDM yang mumpuni, maka apalah arti kecanggihan teknologi tersebut? Tentu saja untuk mengimbanginya, manusia, yang dikaruniai Allah dengan otak yang memiliki potensi luar biasa, harus bisa mengoptimalkan kesempurnaan yang Allah berikan padanya.

Dengan cara apa? Dengan cara hijrah, out of the box, keluar dari zona nyaman. Menyambut tantangan baru dengan kesiapan mental dan tekad.

Penulis dulu pernah bekerja di salah satu institusi pendidikan sekitar tahun 2002-2003. Sayangnya SDM yang tersedia, nyatanya tak semua kredibel. Padahal yang namanya institusi pendidikan, seharusnya menjadi salah satu garda terdepan dalam menyambut perkembangan zaman dan teknologi.

Dulu, tak semua praktisi pendidikan di instansi tempat penulis bekerja yang kompeten dalam hal teknologi. Akibatnya golongan “senior” ini memanfaatkan tenaga kami yang muda-muda untuk membantu pekerjaan mereka. Sehingga pekerjaan yang seharusnya mereka selesaikan, malah diberikan kepada golongan “junior”. Sementara para junior lembur (tanpa bayaran apalagi ucapan terima kasih) dan para senior melenggang santai pulang tepat saat jam kantor usai. Tak ada sedikitpun keinginan mereka untuk setidaknya membantu mengevaluasi atau menunggui hingga selesai. Akibatnya ketika keesokan harinya ada kesalahan pengetikan, dengan mudahnya mereka memarahi dan menyalahkan orang yang sudah bersusah payah membantu pekerjaan mereka dengan “gratis!”

Waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Para junior yang membantu malah kena semprot. Sementara mereka juga memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan juga. Ujung-ujungnya jadi merepotkan orang lain, bukan? Tetapi ketika diminta untuk mengerjakannya sendiri, dengan santainya para senior itu mengatakan bahwa mereka tidak bisa, tidak mau, dan sudah terlalu tua untuk belajar mengoperasikan komputer. Olala.

Balik lagi ke passion untuk menjadi penulis. Mengandalkan orang lain itu sesungguhnya pekerjaan yang sangat menyebalkan. Apalagi jika hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan kemauan kita.

Solusinya? Kuasai teknologi! Keluar dari zona nyaman! Out of the box! Cuma itu satu-satunya solusi bagi yang mau berpikir dan berusaha.

Bukankah terasa lebih nikmat jika segala sesuatu yang menyangkut tanggung jawab kita kerjakan sendiri? Kita akan merasa lebih puas, apapun hasilnya. Waktu lebih efektif dan tenaga efisien. Pekerjaan lebih cepat selesai. Kinerja dan dedikasi kita pun akan dinilai oke oleh rekan kerja maupun klien.

Sedikit kilas balik ke masa kuliah dulu. Kenapa ada budaya plagiator dalam tugas akhir saat ingin meraih titel sarjana di sepanjang waktu? Itu karena ada orang-orang malas tapi berduit. Mereka malas mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Atau mengaku gaptek, tapi tak pernah berupaya menaklukkan kegaptekan mereka. Bangga dengan kebodohan, bagaimana mau maju? Tak aneh jika ada calon-calon sarjana yang skripsinya memang bagus tetapi saat disidang, tak sanggup menjawab dengan baik. Sebab apa? Sebab tak menguasai materi skripsinya. Bagaimana mau menguasai? Kan yang mengerjakannya juga orang lain, bukan mereka sendiri.

Ada lagi satu pengalaman seorang teman yang diberikan tugas oleh atasannya untuk menyusun thesis. Teman penulis tersebut lulusan S1, sementara atasannya sedang mengejar titel S2.

“Dibayar, nggak?” tanya penulis penasaran.

Gambar: Canva

“Nggak!” Teman langsung menggeleng. “Saya juga sebenarnya nggak mau. Tapi bingung nolaknya. Sebab dia atasanku di rumah sakit. Tapi atasanku itu memang nggak bisa pake komputer. Baik sih orangnya. Tapi …. “

Hmm. Entah sebenarnya apa yang terjadi saat itu. Apa motif masing-masing pihak tentang hal itu. Yang pasti kalau penulis sih ogah! Hahaha.

Anyway. Sekarang itu hidup makin dipermudah dengan berbagai platfrom dan aplikasi menulis. Apalagi lewat android. Beuuh! Banyak banget! Tinggal pilih mana yang disuka. Pastikan kuota full, lalu unduh. Utak atik sedikit. Beres!

Percaya kan kalau manusia itu dianugerahi otak yang canggih? Yang jika dioptimalkan penggunaannya bakalan luar biasa? Lantas mengapa kita sendiri yang mengerdilkan kemampuan dan anugerah Allah tersebut dengan tak bosan-bosan dan bangga menyebut diri “gaptek”.

Do you dare to out of the box?

***

13 Agustus 2020

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

2 comments on “DO YOU DARE?

Ribka ImaRi

Kena deh!๐Ÿ™ˆsering nyebut diri gaptek. Nyatanya alhamdulillah bisa setelah mau utak atik sendiri.

Reply
DLZ Admin

Yes! Bisa karena merasa harus bisa itu keren! ๐Ÿ‘๐Ÿ‘โ˜บ๏ธ

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: