Saturday, 15 May, 2021

Daily Literacy Zone

DULU DAN SEKARANG


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers semua. Masihkah menulis meski sedang khusyuk beribadah saum Ramadan? Semoga tetap semangat selalu.

Sobat, pernahkah kita saat ini, tiba-tiba membuka dan membaca kembali tulisan-tulisan sendiri yang ditulis beberapa tahun lalu ketika baru mulai menulis? Apa yang dirasakan saat itu?

“Geli aku. Baca tulisanku awal-awal nulis dulu, kok bahasanya amburadul begini, ya? Typo di mana-mana, tanda baca salah, dan sebagainya ….”

“Ya ampun! Memalukan sekali ternyata hasil tulisanku dulu. Sederhana banget isinya!”

“Wah, alhamdulillah. Tulisanku dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Lebih baik sekarang, insyaAllah.”

Pernah mengalami hal-hal tersebut di atas? Bernostalgia dengan membaca tulisan-tulisan “jadul” yang dulu ditulis saat baru mulai menjalani profesi menulis? How’s it feels? Adakah perbedaannya? Atau tetap sama saja?

Well, nyatanya, jika hari ini dan beberapa tahun lalu kualitas isi tulisan kita tetap sama, banyak typo dan kesalahan di sana sini, maka artinya tidak ada perubahan maupun perkembangan yang signifikan. Stagnan. Tetap diam di tempat.

Sebaliknya. Jika hari ini bisa membedakan kualitas tulisan kita yang lama dan baru, lalu menemukan banyak sekali perbaikan, kemajuan, dan perkembangan, maka artinya kita “beruntung”!

Beruntung? Yup! Beruntung! Kenapa? Karena artinya dari hasil proses yang kita lakukan dari dulu hingga sekarang telah membuahkan hasil.

Atau indikator lainnya jika kita termasuk orang-orang yang “beruntung”, adalah tulisan kita banyak disukai daripada dikritisi atau diberi masukan ini itu. Lebih banyak dukungan dan pujian.

Artinya, ada kemajuan. Tidak tetap saja banyak typo, kesalahan penggunaan kata-kata atau tanda-tanda baca. Tutur bahasa makin mengalir lancar, gurih, dan memikat. Itu semua tentu saja hanya dapat diraih dengan banyak berlatih dan berlatih. Terus berproses tanpa henti, tanpa mengenal kata lelah.

Sementara yang hanya menulis tapi apatis? Tanpa pernah mau berlatih dan menggali lebih banyak? Yang merasa cukup dan cepat puas dengan hanya bisa menulis tanpa peduli apakah hasil tulisannya semakin berkualitas atau tidak? Bisa dipastikan takkan pernah ada kemajuan. Bisa jadi malah bintangnya tak pernah sempat cemerlang. Redup dan semakin redup. Akhirnya padam ditelan perjalanan waktu.

Jadi, di manakah kita hari ini? Yang beruntung? Yang stagnan tanpa perubahan berarti? Atau bahkan yang padam dan mati?

Salam literasi.

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Vivo’s collection.

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “DULU DAN SEKARANG

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: