Friday, 05 March, 2021

Daily Literacy Zone

FIRST READER, PENTING ATAU TIDAK?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers. Sudah menulis apa hari ini? Apakah sudah ada yang selesai dan siap kirim ke penerbit atau PJ proyek nulis?

Sebelum dikirim, ada baiknya naskah yang kita tulis terlebih dahulu diberikan kepada first reader. Hmm, apa itu first reader? Siapa saja yang bisa dijadikan first reader? Apa pula gunanya first reader itu? Penting atau tidak?

First reader adalah orang yang pertama kali membaca naskah kita. Bukan editor dari penerbit apalagi agen naskah, ya? Tetapi orang yang membaca naskah yang baru saja kita selesaikan dan siap kirim. Jadi setelah menyelesaikan naskah, lalu melakukan self editing, jangan dulu disetorkan ke editor atauPJ proyek. Beri kesempatan untuk naskah kita dibaca dulu, dikomentari, diberi masukan, kritik ataupun saran.

Kenapa, Sobat? Nggak sempat dibaca first reader karena sudah detik-detik terakhir menuju deadline alias injury time? Waduh, bikin geleng-geleng kepala ini, sih. Nah, maka ubah kebiasaan buruk mepet deadline, ya? Masa iya ingin jadi penulis terkenal tetapi setiap kirim naskah selalu mepet deadline, hasilnya kadang ada yang berantakan dan asal jadi ataupun asal setor. Yang masih memiliki habit seperti ini, yuk, berubah ya.

Siapa saja yang bisa dijadikan first reader? Bisa pasangan alias suami atau istri, anak, orang tua, adik atau kakak, bisa juga sahabat. Pokoknya siapapun yang kita percayai bisa memberi penilaian yang obyektif dan membangun. Sebab, pembaca itu sejatinya yang akan menikmati hasil tulisan kita, kan? Orang yang senang mengkritik pedas juga boleh, asal mental kitanya sudah kuat. Jadi nggak gampang down saat dikritik habis-habisan.

Berapa banyak orang yang bisa dijadikan first reader? Namanya pembaca pertama, berarti cukup satu orang saja. Tetapi jika banyak orang yang bersedia membaca naskah kita untuk kali pertama, ya sah-sah saja. Silakan. Tidak harus satu orang saja. Tergantung kebutuhan kita juga sebagai penulis. Cukupkah dikritisi oleh satu orang di awal? Ataukah perlu 2-3 orang sebagai first reader dulu baru kita yakin untuk memublikasikan karya kita tersebut.

Bagaimana jika tak ada orang yang bisa dijadikan first reader? Bisa saja. Asalkan kita yakin tulisan yang kita buat sudah diperbaiki dan tampil dalam tampilan yang rapi, sehingga layak untuk dikonsumsi masyarakat. Tidak asal jadi apalagi berantakan. Punya rasa malu ketika mengirim karya dalam hasil yang tidak maksimal itu baik, kok. Jadi kita akan selalu termotivasi untuk do the best. Pede ketika mengirim hasil yang berantakan justru pede yang tidak baik.

Gunanya first reader. First reader apalagi yang tidak menguasai materi yang kita tulis akan memberikan penilaian sebagai pembaca dan “orang awam”. Jadi dengan mempergunakan jasa mereka untuk mengkritisi tulisan kita bisa menjadi tolak ukur apakah apa yang sudah ditulis dapat dipahami oleh pembaca? Apakah tujuan dan inti dari tulisan yang kita buat sudah mencapai sasaran? Karena buat apa kita menulis panjang kali lebar jika tak seorang pembaca pun yang memahami maksud dari tulisan yang sudah dibuat? Atau jangan sampai kita bermaksud menyampaikan hal A, yang dipahami oleh pembaca malah masalah B. Kan jadinya “Jaka Sembung” alias nggak nyambung.

Penting atau tidak first reader itu? Keberadaan mereka pasti akan dirasa penting bagi penulis yang serius ingin berkarir di dunia literasi. Sebab terkadang sebelum memublikasi suatu karya, ada pertanyaan-pertanyaan yang seringkali memenuhi benak kita. Tulisan ini cocok nggak ya kalau dipublikasikan? Ada hal-hal negatif yang malah jadi dicontoh pembaca nggak, ya? Kira-kira bakalan ada pihak yang tersinggung secara personal atau tidak, dan lain sebagainya.

Tentu saja harapan ideal adalah setiap karya yang dihasilkan bisa diterima oleh masyarakat. Apalagi kalau sampai nilai-nilai kebaikan dari tulisan kita yang diikuti dan diamalkan, pasti sebagai empunya tulisan, kita bakalan bahagia kan? Yang berbahaya itu kalau respon pembaca atau masyarakat negatif, kan? Bisa dituding dan dituduh yang macam-macam atau bahkan dipolisikan. Duh, naudzubillah. Jangan sampai, deh.

Jadi? Siapkan first reader kita. Tes pasar yang paling pertama. Berani?

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “FIRST READER, PENTING ATAU TIDAK?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: