Saturday, 21 November, 2020

Daily Literacy zone

FUNGSI RUMUS DASAR MENULIS


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Saya nggak perlu pakai rumus itu untuk nulis. Mentor saya juga ngajarinnya begitu. Nulis ya nulis aja.”

Satu waktu, saya pernah menyimak salah satu grup proyek antologi. Di dalamnya sedang berlangsung sebuah diskusi. Seorang kontributor proyek nulis memosting tulisannya, non fiksi, lalu meminta dikomentari.

Saat membacanya, saya seperti dihadapkan pada satu hidangan makanan serupa nasi setengah matang, sayur setengah matang, lauk pauknya juga setengah matang. Bagaimana rasanya? Pasti rasa makanan setengah matang. Apakah nikmat? Tentu saja tidak buat saya yang tidak suka makanan mentahan.

Bayangkan ketika mau makan, ternyata nasi masih “gigih (alias keras setengah matang, Sunda red)”. Masih keras-keras gimana gitu …. Masih beraroma bulir padi mentah. Sayur setengah matang? Mungkin masih bisa dikonsumsi untuk jenis tumis-tumisan. Tapi kalau semacam sayur gudeg nangka yang butuh direbus sampai benar-benar matang dan empuk, bagaimana? Mau makan dalam keadaan masih keras dan bumbu belum benar-benar meresap? Pun ketika memasak lauknya, misalnya daging ayam. Masih setengah matang, apakah nikmat? Masih berwarna agak kemerahan, kenyal-kenyal gimana di mulut. Enakkah?

Baca juga : RUMUS DASAR MENULIS

Itu kesan yang saya simpulkan setelah membaca isi tulisan tersebut. Yang konon merupakan bab kesekian dari keseluruhan bab yang sedianya akan dijadikan satu buku.

Satu buku? Iya! Satu buku!

Wait! Saya beneran mikir keras. Ini nggak salah isi tulisan tidak jelas bahasannya begitu bakalan jadi buku?

Makanya kemudian saya komentari, “Ini tema bukunya tentang apa? Kok saya tidak paham ini menceritakan apa. Di satu bab, antar paragrafnya tidak ada keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Terkesan seperti meloncat-loncat. Tidak terstruktur dengan baik. Tidak pakai 5W dan 1H?”

Memang begitu adanya isi tulisan tersebut. Paragraf pertama membicarakan masalah kedisiplinan guru. Paragraf kedua bicara soal kesejahteraan guru, paragraf ketiga tiba-tiba bicara soal minyak goreng, lalu entah apa lagi, saya lupa. Keseluruhan isi bab itu benar-benar tidak jelas. Memaparkan sajakah? Mencari alternatif solusinyakah? Atau apa?

Tetapi dengan pe denya si penulis bilang kalau tulisannya tersebut bakalan terbit jadi satu buku, tidak perlu pakai 5W + 1H sebagai rumus dasar kepenulisan. Mendengar hal tersebut, seorang mentor bahkan mengatakan bahwa penulis semodel ini adalah penulis dari “aliran sesat”, sebab rumus 5W dan 1H itu sangat-sangat fundamental. Dasar banget!

Jujur saya sendiri tergelitik dan ingin tahu pembaca macam apakah yang mau membaca tulisan (maaf) absurd seperti itu? Saya tidak tega dan merasa belum berhak untuk mengatakan kalau itu tulisan “sampah”, meski nyatanya memang seperti itu adanya. Benar-benar tulisan ter-absurd dan jika saya ditawari diskon hingga 70-80% atau dapat gratis sekalipun, rasa-rasanya takkan tertarik untuk memilikinya. Kecuali untuk dijadikan contoh buku yang “aneh”, mungkin bisa saja disimpan sebagai bahan pembanding.

Another case. The simpliest one.

“Saya ada tugas nulis, tapi nggak tahu harus mulai darimana. Mbak kan tiap hari nulis. Bantu saya, dong?”

Hmm. Pertanyaan ini sering sekali saya terima. Konsep sebagian sudah punya, tetapi kesulitan untuk menuangkan isi pikirannya dalam bentuk tulisan. Saya tidak akan membahas mereka-mereka yang tidak tahu harus menulis darimana dan belum atau tak memiliki konsep sama sekali, ya. Sebab sudah memiliki konsep, minimal tema tulisan saja, itu sudah menjadi bekal utama untuk mulai proses menulis.

Lalu apa solusinya buat yang masih bingung untuk mengeksekusi tulisannya? Yang termudah, efisien, dan efektif?

“Pakai rumus 5W dan 1 H.” Itu jawaban yang sangat sederhana tetapi mampu membuat semua ide, gagasan, bisa tereksekusi dengan mudah.

“Tapi rasanya kaku. Bingung harus memilih kata yang tepat.”

Iya, memang kaku. Jika menulis bukanlah rutinitas kita sehari-hari. Jika baru saja menulis tetapi menuntut harus menghasilkan tulisan yang langsung “wah”. Jika aktivitas menulis hanyalah sekadar mengerjakan tugas dan mencatat materi untuk menghadapi ujian tulis saat masa-masa sekolah dan kuliah dahulu.

Setelah beres masa sekolah dan kuliah lalu bekerja, menulis kembali menjadi hanya “sekadar” rutinitas saat menyelesaikan tugas atau pekerjaan kantor yang perlu terdokumentasikan. Selebihnya? Zero! Apalagi bagi wanita yang memutuskan untuk berkarir di rumah tangga saja. Nyaris, sedikit sekali yang mau menyempatkan menulis, terutama jika sedang memiliki bayi atau anak-anak sedang sakit.

“Mulai saja dulu. Sedari sekarang. Berupa kotretan. Corat-coret tanpa perlu diedit.” Kalau hanya sekadar diskusi tanpa latihan praktik mana bisa, kan?

Lalu setelahnya kebanyakan berjanji untuk memulai menulis. Mengucapkan terima kasih dan sebagainya. Kemudian, ada yang benar-benar merealisasikan janjinya menjadi wujud sebuah tulisan, banyak pula yang sudah diskusi panjang lebar, nyatanya tak jua menghasilkan karya atau minimal menunjukkan hasil latihannya. Wallahu alam. Mungkin tulisannya benar sudah terpublikasikan tetapi tidak menginformasikan. Ya, tak mengapa jika demikian. Yang terpenting sudah menulis. Apapun bentuknya.

Kesimpulannya, rumus 5 W dan 1 H, faktanya, memang mempermudah kita saat akan memulai menulis. What? Who? Why? Where? When? dan How? Kalau benar-benar terpahami, maka yang namanya menulis pun terasa jadi lebih mudah. Rumus ini berlaku untuk semua jenis dan genre tulisan. Baik fiksi, faksi maupun non fiksi.

Masih juga tak bisa menulis meski sudah ada rumus 5W dan 1 H? Berarti memang perlu latihan lebih keras dan rajin. Perlu effort lebih kuat lagi. Semangat!

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew.

Gambar: Canva, Vivo’s collection

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “FUNGSI RUMUS DASAR MENULIS

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: