Monday, 17 January, 2022

Daily Literacy Zone

GAPTEK OH GAPTEK


Penulis: Rhea Ilham Nurjanah

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers! Sudah bikin karya apa hari ini?

“Mbak, mohon arahannya, dong. Saya enggak bisa nulis di platform yang Mbak maksudkan. Maklum saya gaptek.”

“Mbak, saya pengen nulis juga di platform nulis, tapi gaptek saya kebangetan. Bisakah Mbak mengajarkan saya step by step?”

Sobat, pernah ikutan grup komunitas nulis, enggak? Pernah menemukan keluhan-keluhan semacam dua dialog di atas enggak?

Kalau saya … sering banget! Berhubung ikut gabung di beberapa komunitas nulis. Hehehe.

Dih, siapa juga yang nanya, Mbak Thor? Hahaha! Sekilas info aja, Sobat.

Dulu, saya pernah juga bicara begini. Merasa gaptek dan butuh dipandu langkah demi langkah. Pengennya sama mentor atau admin platform tersebut secara langsung. Meski ada beberapa teman yang bilang kalau bikin akun di platform nulis digital itu sangat mudah.

Namun, lama-lama saya berpikir. Enggak mungkin juga terus menerus berkelindan di pusaran kegaptekan. Apalagi saat melihat teman-teman penulis, kok, banyak yang sukses di nulis. Contohnya saat mereka bikin blog atau website. Nulis di platform nulis semacam Wattpad yang happening banget sebelum platform sejenis bermunculan. Ya, buat saya, Wattpad bisa dibilang pioneer untuk platform nulis digital yang isinya bisa suka-suka kita. Beda dengan platform nulis berbasis berita seperti Kompas.com, dan sebagainya yang pakai aturan ketat banget. Psst … saya sudah banyak lupa juga nama-namanya.

Maka ketika itu saya mulai mencoba bikin akun di blog gratisan. Beberapa kali bikin. Ngulik sana-sini. Hasil masih belum memuaskan. Akhirnya ditinggalkan berjamur dan lupa. Bisa merasakan menulis dengan sebenar-benarnya, pada akhirnya, ketika saya gabung di suatu komunitas nulis yang anggotanya wanita semua. Di situlah saya mulai suka ngulik sana sini. Klak klik klak klik di website tersebut. Yaa, lumayanlah. Bisa jadi kontributor nulis di sebuah website yang tampilannya memang cakep banget dan konon katanya sudah menjangkau se-Asia Tenggara pada saat itu. Dibilang seperti itu karena mungkin anggotanya sudah menyebar di negara-negara tetangga.

Dari situ, seperti ada rasa ketagihan untuk terus ngulik sana sini. Di wattpad, di beberapa situs berita, dan sebagainya. Lalu sempat terhenti karena ada amanah mengelola sebuah grup di satu komunitas kepenulisan. Nulis di platform digital pun sempat terhenti. Sampai menjelang akhir tahun 2019, ternyata saya diajak gabung di website milik komunitas nulis tersebut hingga kini berkembang menjadi memiliki website sendiri. Berbayar tentunya. Enggak gratisan lagi seperti dulu.

Satu hal yang ingin saya coba sampaikan adalah … kita, para wanita, terutama para emak, masih banyak yang beranggapan kalau kegaptekan diri pada teknologi membuat langkah menjadi penulis tersendat. Padahal kalau kita mau banyak bergaul, membuka mata, dan wawasan, di luar sana itu banyak sudah penulis-penulis yang notabene perempuan, bergelar “emak-emak” yang nyatanya sanggup menulis di berbagai platform menulis digital bahkan mampu mengoptimalisasi website pribadinya.

Pernahkah kita hadirkan di dalam diri pertanyaan-pertanyaan seperti:

Jika mereka bisa, masa kita tidak bisa?

Jika mereka makhluk Tuhan yang diberi otak sempurna, otak kita sama juga, dong? Apa bedanya kita dengan mereka kalau begitu?

Sebenarnya apa yang membuat mereka stop merasa gaptek?

Apa motivasi mereka sampai bisa menjelajahi dunia digital kepenulisan dan aktif menulis, sementara kita belum juga memulai langkah apa pun?

Apa tidak bosan hidup dengan anggapan pada diri sendiri “aku gaptek, aku bodoh, aku enggak bisa”?

Apa tidak merasa ingin juga berkarya seperti mereka lewat platform digital yang semakin banyak bertebaran di dunia maya?

Dan sebagainya.

Jadi, sebetulnya, kita menganggap diri kita gaptek itu adalah sebuah stigma yang tanpa disadari sudah “membunuh” potensi diri sendiri. Kita sudah menghakimi terlebih dahulu tanpa berusaha untuk memulai sesuatu dengan action. Semua stigma negatif itu tanpa sadar terekam oleh alam bawah sadar dan ya! Pada akhirnya otak pun memerintahkan diri kita untuk benar-benar gaptek!

Maka sebuah ketidakberuntunganlah jika kita ingin menulis dengan tujuan mulia tetapi tidak jua kunjung memulai karena sudah menghakimi diri sendiri dengan label “aku gaptek”. Merugilah kita karena tertinggal beberapa langkah di belakang. Beruntunglah mereka yang sudah memulai dan sudah jauh melangkah di depan kita tanpa bisa dikejar karena kita masih sibuk berkubang di “ketidakberdayaan” menguasai teknologi alias gaptek. Jika tak ada yang membantu, ya diam saja. Tak berupaya memulai dengan mengulik atau mempelajari.

Sementara di luar sana jutaan penulis bukan lagi bersaing dalam menaklukan banyak platform tetapi sudah lebih ke level yang lebih tinggi yaitu menghasilkan mahakarya agar dinikmati banyak orang di seluruh penjuru dunia dan everlasting. Kita? Hanya menonton. Hanya bisa sebagai penikmat. Punya hal-hal yang ingin dituliskan dan dibagi tapi enggak jadi-jadi. Sedih enggak, sih, Sobat? Miris, enggak?

Maka ketika kita merasa gaptek, perlu dikaji ulang juga sebenarnya. Gaptek atau malas ngulik? Karena faktanya, dari beberapa platform digital nulis yang pernah saya singgahi, semuanya mudah untuk diikuti, kok. Bahkan sudah didesain sedemikian rupa agar sangat mudah untuk diakses dan diseriusi. Hanya peraturan-peraturan teknisnya saja yang berbeda terkait hak cipta atau semacam itu dan pelaksanaannya tidaklah sesulit apa yang terbayangkan dalam pikiran kita.

Kalau Sobat pernah mendengar anekdot yang mengatakan bahwa otak orang Indonesia itu dihargai paling mahal karena masih sedikit dipergunakan, artinya mungkin memang seperti itulah kondisi umumnya penduduk bangsa kita. Lebih menyukai jadi penonton dan penikmat. Bukan menjadi pelaku atau penggiat yang terjun langsung menciptakan karya.

So, kita mau memilih bagaimana, Sobat? Tetap bersikukuh menjadi orang yang gaptek karena merasa gender wanita yang sudah menjadi ibu rumah tangga? Atau memulai langkah mulai detik ini juga untuk bisa mendobrak stigma buruk pada diri sendiri dan memulai dengan stigma bervibrasi positif seperti ” Aku enggak gaptek! Orang lain saja bisa, maka aku pasti bisa juga! Karena kami sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan sempurna.” Tidak ada satu pun produk ciptaan Tuhan yang “gagal”.

Selamat mendobrak. Selamat memulai aksi. Selamat berkarya. Salam literasi!

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

www.dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “GAPTEK OH GAPTEK

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: