Sunday, 25 October, 2020

Daily Literacy zone

Hak Wanita untuk Bahagia


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Menurut situs www.kemenkes.go.id, wanita dua kali mengalami gangguan jiwa ringan dibandingkan dengan pria. Faktor pencetus yang menyebabkannya adalah dari faktor sosial dan ekonomi.

Sering juga kita mendengar berita tentang para ibu stres tak tertolong yang menyebabkan mereka melakukan pelampiasan dengan menyakiti buah hati sendiri hingga berakhir dengan hilangnya nyawa sang anak. Salah satunya yang terjadi di Banten baru-baru ini.

Jangan pernah tanyakan, “Ada apa denganmu wahai para wanita –terkhusus para ibu?”

Tetapi tanyakan kepada diri kita semua terutama kepada para suami. Sudahkah membahagiakan para wanita tersebut? Ibumu, istrimu, saudari-saudarimu, anak-anakmu? Tapi ingat, bukan pada wanita-wanita yang tak halal buatmu, ya?

Seperti yang umum kita ketahui, banyak wanita yang mengalami perubahan setelah menikah. Banyak yang merasa frustasi menjalani perannya tersebut, karena sejak memutuskan menerima pinangan seorang pria maka “ternyata” berakhir pula masa kejayaan kebahagiaan mereka sebagai seorang gadis. Masa bersenang-senang dan membahagiakan diri usai sudah. Berganti dengan sejuta tugas dan tuntutan tanggung jawab lainnya. Tak jarang banyak pula yang juga memiliki tugas tambahan lainnya sebagai tulang punggung keluarga. Suatu hal yang sangat bertentangan dengan kodrat yang Allah gariskan.

Ketika gadis, wanita-wanita itu bermekaran laksana bunga-bunga yang merekah di musim semi. Tetapi seketika menjadi kuyu dan layu setelah menikah. Aura yang dulu bersinar, meredup bahkan sirna entah kemana.

Parahnya banyak para suami yang bukannya berusaha membahagiakan sang bunga yang layu itu tetapi malah berpaling kepada wanita lain di luaran. Merasa tak lagi menemukan keindahan di dalam rumah, malah mencari “mangsa” baru. Menyuburkan kembali insting pemburu sebagai lelaki. Cara instan yang murahan!

Mungkin ada beberapa wanita yang beruntung. Menemukan suami yang sanggup membahagiakan dan menjaga keindahan para istri seperti pada masa gadis dahulu. Namun, bilangannya bisa dihitung dengan jari. Sedikit sekali yang mengungkapkan kebahagiaannya menjadi wanita yang tak dirampas “kemerdekaannya” dengan tetap beraktualisasi menjadi dirinya sendiri.

Maka penting sekali untuk memberikan edukasi, dukungan, dan motivasi positif kepada para wanita agar bagaimanapun kondisi dan situasi mereka saat ini, jangan lupakan satu hal bahwa mereka selalu memiliki hak untuk bahagia.

Salam sehat mental untuk semua wanita istimewa dan berharga di seluruh penjuru dunia.

***

#Selamat Hari Kesehatan Mental Dunia

#10 Oktober 2020

Editor: DLZ’s crew

Gambar : Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “Hak Wanita untuk Bahagia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: