Sunday, 11 April, 2021

Daily Literacy Zone

HAL YANG BIKIN NULIS TERUS TERTUNDA


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Halo, Sobat DLZers. Di masa pandemi saat ini promo ajakan untuk menulis antologi kian menjamur. Di facebook, instagram, dan platform lainnya. Sudahkah kita menjadi bagian darinya?

Sesekali saya iseng membaca chat beberapa grup nulis. Ada yang konsisten menampilkan karya tulisnya baik berupa buku, postingan, konten, dan sebagainya. Namun, ada juga yang masih berkomentar bahwa banyak hal yang membuat mereka belum “mampu” untuk berkarya padahal sudah cukup lama bergabung dengan komunitas-komunitas menulis.

Bagaimana bisa dikelilingi atau tiap hari berinteraksi dengan penulis tetapi masih ada saja yang belum menelurkan satu karya pun? Mari kita simak beberapa penyebab yang sering dialami oleh para penulis.

Tak ada niat. Meski menulis sudah menjadi aktivitas sejak usia SD atau TK dahulu hingga di bangku kuliah, nyatanya tak membuat semua masyarakat Indonesia yang pernah mengecap semua tingkat pendidikan tersebut menjadi penulis setelah lulus kuliah. Karena sedari awal bisa, menulis hanya sebatas untuk memenuhi keperluan nilai rapot ataupun ijazah. Bukan dijadikan suatu kebiasaan rutin atau kebutuhan.

Tak punya bahan. Beberapa kali saya menawarkan proyek atau event antologi pada member suatu komunitas yang sehari-harinya mereka menulis dan memosting sesuatu di medsos secara rutin. Komunitas menulis, lho ya. Catat.

Jawaban yang sering didapatkan adalah, “Maaf, Mbak. Saya enggak punya bahan ataupun pengalaman yang sesuai dengan tema yang Mbak angkat.”

Ya. Masalah menulis memang tidak bisa dipaksakan. Saya menyadari akan hal itu. Tetapi sedikit agak “aneh” saja jika seorang yang mengaku penulis tetapi tidak punya cukup bahan untuk menulis. Judul yang diangkat juga bukan masalah yang susah, lho. Lebih banyak tentang pengalaman sehari-hari. Untuk ukuran antologi misalnya, kita tidak perlu mengangkat tema yang berat. Cukup yang ringan dan dekat dengan keseharian.

Solusinya apa? Perbanyak riset kecil-kecilan dengan banyak mengamati orang-orang di sekitar kita. Jika kita jeli, sesungguhnya banyak hal yang bisa diangkat menjadi bahan tulisan. Berani out of the box, keluar dari zona nyaman. Jika biasanya kita menulis bergenre romantis, coba sesekali menulis bergenre horor, komedi, dan sebagainya. Memangnya enggak ingin dikenal sebagai penulis multi talenan? Eh, multi talenta maksudnya.

Tidak serius. Ikut komunitas nulis ya sebatas ingin tahu dan penasaran saja. Ada apa sih? Komunitas nulis itu ngapain aja? Bahas apaan? Lalu setelah semua rasa penasaran kita terpuaskan, ya sudah. Selesai rasa ingin tahunya. Sekadar tahu saja. Tidak tergerak sedikit pun untuk aktif berkarya. Hanya senang berbalas komen atau chat (Psst! …. Padahal kalau dikumpulkan, isi chat atau komen kita itu bisa jadi satu buku, lho. Apalagi kalau kita setiap hari rajin online dan eksis). Semudah itu? Mau tahu saja atau mau tahu banget?

Beberapa orang pernah mewapri saya dan curhat ingin berkarya dan menulis. Tetapi saat saya tawarkan untuk ikut menulis di web yang ada ataupun di event yang ditawarkan, hanya penolakan yang saya terima. Atau bahkan langsung menghilang tanpa merespon lagi. Lantas curhatan-curhatan sebelumnya itu untuk apa? Sekadar untuk curcol sajakah? Sudah lega setelah banyak ngobrol ngalor ngidul? Yaa, anggap saja begitu. Hmm, bagaimana kalau obrolan itu saya jadikan buku? (Hihihi … lumayan dapat bahan buat tulisan).

Malas. Banyak, faktanya, yang mengaku ingin “tertular” virus produktif menulis, tak jua “tertular”. Hanya aktif mengomentari, mengemukakan alasan diri kenapa belum berkarya, dan sebagainya. Coba pikirkan. Tidak diminta berkomentar tetapi langsung berkomentar panjang lebar dan lama. Tetapi saat ditawarkan proyek nulis, langsung banyak alasan ini itu.

“Ih, saya enggak malas, kok, Mbak. Cuma sedikit tidak rajin. Rajinnya nanti-nantilah.” Giliran dicap pemalas langsung deh kebakaran jenggot. Hehe ….

Hei, Sobat. Orang itu tidak peduli dengan apapun alasanmu, hanya satu kesimpulan yang tersemat pada dirimu yaitu “malas”. Sebab faktanya hanya orang malas yang selalu sibuk mencari alasan untuk pembenaran dan bukannya menyingkirkan berbagai alasan. Daya juang tidak ada sama sekali.

Senang menunda. Penyakit sebagian besar yang sudah membudaya di masyarakat kita adalah senang menunda. Bahkan ada ungkapan “kalau masih bisa ditunda hari ini, kerjakan saja besok.” Akibatnya terus menunda dan menunda. Nulis 2-4 halaman A4 saja bisa sampai berbulan-bulan baru selesai. Itupun dengan catatan sering ditagih oleh leader atau PJ proyek. Jika tidak ditagih bagaimana? Mungkin enggak akan jadi-jadi bukunya, sementara kontributor lain harap-harap cemas berharap bukunya segera rilis. Hohoho ….

Senang pacu adrenalin saat mepet DL. Beberapa rekan penulis pernah mengakui secara terang-terangan di publik –forum grup nulis maksudnya– bahwa mereka senang mepet deadline karena menikmati saat-saat injury time alias saat-saat terakhir batas pengumpulan naskah. Dada yang berdebar-debar, mata yang gelisah setiap saat melihat jam, ditambah laptop atau komputer yang mendadak bermasalah tak bisa diajak kompromi, dan dikejar-kejar waktu lewat warning yang disampaikan oleh PJ proyek. Entah apakah “kenikmatan” merasakan injury time tersebut merupakan suatu gangguan mental atau bukan. Sepertinya perlu bertanya pada terapis atau psikolog, nih.

Tergoda bermedsos. Kecanduan medsos dapat menjadi salah satu penghambat kita dalam berkarya. Terasa sekali oleh saya pribadi. Kadang di saat harus menyelesaikan setumpuk pekerjaan, notifikasi banyak bermunculan dan “menggoda” untuk segera dilirik dan dibaca. Akhirnya agenda yang sudah dibuat ambyar! Waktu berlalu dan terbuang percuma karena hanya diisi dengan ber-haha hihi yang tidak nyambung dengan profesi nulis. Sesekali tidak mengapa jika kita di sela-sela menulis sedikit melirik gadget. Apalagi pekerjaan seorang penulis tidak bisa dipisahkan dari gadget juga. Tetapi bijaklah. Atur waktu kapan waktu untuk online, kapan bekerja, dan sebagainya.

Ada tamu atau teman ngajak chatting. Nah, kedatangan tamu kadang di luar prediksi kita. Entah apakah kerabat jauh yang tiba-tiba datang berkunjung tanpa terlebih dahulu mengabari. Atau tiba-tiba ada teman atau sahabat yang chatting karena ada hal serius yang ingin dibicarakannya. Mau tidak mau kita terpaksa menghentikan dulu kegiatan menulis. Tidak masalah, sih. Tinggal kitanya berarti yang mencari waktu lain untuk menggantikan waktu yang sudah terpakai di lain hari.

Fasilitas yang tak bersahabat. Ada yang sering mengaku aplikasi menulisnya error, laptop atau komputernya berebutan dengan anak terkait masa PJJ pada kondisi pandemi seperti sekarang. Ada pula yang sangat terbatas memiliki kuota untuk urusan konsolidasi karena belum memiliki anggaran khusus ataupun masukan dari menulis. Faktor ekonomi sedikit banyak juga dapat memengaruhi. Bisa juga komputer dan laptop tersedia, tetapi tiba-tiba programnya ngaco, terserang virus, dan sebagainya.

Tak ada waktu khusus. Seorang mentor menulis mengatakan bahwa sebaiknya para penulis itu memiliki waktu khusus untuk menulis dan bukan menulis di waktu yang tersisa ketika kita sudah menyelesaikan semua pekerjaan dan kewajiban rumah tangga. Terutama bagi para emak.

Coba mulai sekarang kita membuat jadwal khusus untuk menulis. Sekalipun hanya 30 menit. Lalu berusaha disiplin. Saat waktunya nulis, ya nulis. Jauhkan gadget dari jangkauan mata dan silent mode setting. Matikan televisi. Mintalah izin pada suami dan anak-anak untuk memberi kesempatan kita menulis. Jika kita terbiasa latihan menulis setiap hari, waktu hanya 15-30 menit pun sudah cukup untuk menghasilkan karya 2-3 halaman A4, lho.

Bukan passion. Ikut komunitas nulis hanya karena penasaran. Menulis hanya untuk mengisi timeline agar tetap terlihat eksis, sehingga isi postingan juga apa adanya bahkan cenderung berantakan. Pernah menemukan orang di medsos yang gemar posting segala macam, tulisan pengalamannya sehari-hari tetapi semua tanda baca ditabrak alias tanpa tanda baca, banyak kata-kata yang disingkat, dan sebagainya? Bagaimana rasanya? Tidak nyaman, ya? Kita bacanya juga kurang enjoy. Kening sering berkerut saat menemukan kata-kata yang disingkat atau bahkan kata-kata alay. Mual dan pening mendadak.

Hal berbeda jika kita membaca tulisan yang sekalipun singkat, tetapi rapi. Paragraf pertama dan selanjutnya terlihat perbedaannya. Tanda baca sesuai penggunaannya, tak ada kata yang disingkat atau memakai lambang-lambang penyingkatan, dan sebagainya. Sudah bisa dipastikan ada passion nulisnya. Sekalipun hanya berupa postingan yang berisikan kegiatan sehari-hari dan terlihat remeh. Mata itu boleh bahkan harus dimanjakan untuk melihat tulisan yang rapi dan tata bahasa yang mengalir natural. Karena bisa berdampak pada psikis kita juga.

Dari poin-poin di atas, adakah satu ada beberapa hal di antaranya yang sering kita rasakan? Ada hal lainnya yang perlu ditambahkan?

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “HAL YANG BIKIN NULIS TERUS TERTUNDA

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: