Friday, 27 November, 2020

Daily Literacy zone

HARUS DILAKUKAN SAAT IKUT PROYEK ANTOLOGI


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Profil penulis. Nama Mawar Merindu. Karya yang sudah terbit berupa 1001 buku antologi.”

“Penulis bernama Ferguso Abugosok Sudah menerbitkan antologi sebanyak 1112 buku. 13 buku lagi sedang proses terbit.”

Wah, seru nggak, sih kalau baca profil seperti contoh di atas? Produktif banget, ya? Sampai ribuan kilo … eh, ribuan buku antologi yang dihasilkan. Keren! Amazing!

Mau dong kayak gitu juga? Apalagi kalau passion kita memang jadi penulis. Kan nulis antologi juga karya literasi. Betul?

“Hadeh si penulis yang namanya Guntur Menggelegar! Attitude-nya nggak banget! Jadi males deh proyek antologiku diikuti dia. Habis ribut nanyain kapan buku terbit melulu. Padahal sudah ada infonya di grup, kan?”

“Dia lagi, dia lagi. Tahu penulis yang namanya Rosalinda Ayamor, kan gaes? Memang rajin sih daftar ikutan proyek nulis. Tapi begitu ditagih naskah, susah banget! Pas ditagih uang buku, selalu slowres. Proyek antologiku jadi terhambat gara-gara dia!”

Nah, tapi, seringkali di balik sebuah proyek antologi ada hal-hal yang bisa membuat pihak penyelenggara proyek illfeel pada kontributor karena kurang kooperatif dan tidak kondusifnya karater para penulisnya. Jadi baru sekali ikutan proyek nulis, nama kita langsung nangkring di top chart. Mending kalau di top chart nominasi kontributor dan naskah terpilih, gimana kalau justru di top chart black list? Kalau di satu dua komunitas sih masih banyak komunitas nulis lainnya yang bisa kita ikuti. Yang nggak banget itu kalau di semua grup maupun komunitas literasi yang kita ikuti justru mem-black list nama kita. Bisa menghambat karir di dunia literasi, lho.

Baca ini, yuk? Antologi juga Karya Literasi

Nah, bagaimana caranya supaya kita bisa tetap berkarya, tidak ada komunitas yang memasukan nama kita dalam black list, dan rezeki mengalir terus? Simak sampai tuntas ya Sobat DLZers.

Satu. Baca baik-baik syarat dan ketentuan suatu proyek nulis. Kalau belum mengerti, tanyakan hingga paham pada leader atau admin proyek. Pahami benar-benar agar kita tidak tiba-tiba mundur di saat-saat menjelang DL proyek. Istilahnya kalau kita mau perang, harus hafal kan medan perangnya? Nah saat mau berkarya, kita mesti tahu tempat yang dijadikan wadah untuk berkarya.

Dua. Ikuti semua arahan, petunjuk, peraturan, dan semua tetek bengek yang disampaikan oleh leader atau penanggung jawab proyek. Kalau berupa grup whatsapp dan telegram segera bintangi info-info pentingnya. Jika berupa FB, ada option “menyimpan”, dan sebagainya. Begitupun platform-platform lainnya pasti ada opsi untuk menyimpan data-data penting. Jika belum tahu, pelajari atau browsing di google.

Tiga. Seremeh apapun info atau percakapan yang terjadi di grup khusus proyek nulis, jangan diabaikan. Ikut proyek nulis, artinya kita juga siap untuk menerima informasi apapun terkait proyek tersebut. Terkadang ada grup yang memang di-setting selalu dikunci oleh admin grup dengan tujuan agar info penting tidak tergulung chat.

Empat. Berhenti menanyakan ulang apa-apa yang sudah disampaikan oleh leader atau pije proyek. Tak semua pije atau leader itu punya banyak waktu untuk menjawab satu persatu pertanyaan kontributornya, apalagi jika kontributornya ratusan orang. Jangan pula banyak curhat atau menanyakan hal-hal yang tidak terkait dengan proyek nulis. Ingat. Seorang pije atau leader terkadang tak hanya menangani satu proyek nulis saja. Silakan menjalin keakraban dengan pije atau leader proyek tetapi jangan sampai mengusik dan mengganggu kinerja mereka. Perhatikan batasan kapan bisa dijadikan tim kerja dan kapan sebagai teman atau sahabat. Jangan dicampur adukkan. Biar tidak jadi runyam.

Sudah baca ini? Kenapa (Harus) Antologi?

Lima. Stop membanding-bandingkan satu komunitas atau satu grup proyek nulis dengan komunitas atau grup lainnya. Apalagi jika dilakukan di muka publik. Yang harus benar-benar dipahami adalah semua komunitas atau grup memiliki peraturan dan kebijakannya masing-masing. Hormati semua rule yang sudah mereka buat. Patuhi dan taati. Jangan salahkan jika kita ditendang ketika banyak melanggar peraturan mereka. Itu hak mutlak mereka dan kita tidak punya hak untuk menggugatnya.

Enam. Berusahalah untuk bersikap profesional jika sedang tergabung dalam sebuah proyek menulis. Catat baik-baik tanggal deadline-nya. Kalau perlu lingkari kalender di ruang kerja dengan spidol besar berwarna merah menyala. Segera bereskan kewajiban setor naskah. Apalagi jika kita mengikuti banyak proyek nulis. Perhitungkan baik-baik waktu pengerjaannya, ide tulisannya, dan dana tentunya. Jika ada kendala saat mengerjakan tulisan semisal laptop rusak, coba cari alternatif untuk menyelesaikan tugas kita. Apakah dengan pergi ke warnet, nulis di aplikasi word android, pinjam komputer orang terdekat, dan sebagainya. Jangan jadikan kendala sebagai alasan mangkir dari sebuah proyek nulis. Kecuali kita memang sedang dalam keadaan kritis akibat suatu penyakit dan harus dirawat di ICU karena penurunan kesadaran misalnya. Tapi naudzubillah min dzalik. Semoga kita jangan sampai begitu ya, Sobat DLZers.

Tujuh. Sesekali bercanda, saling menyapa, ngobrol dengan sesama peserta proyek nulis itu boleh-boleh saja. Asal gunakan bahasa yang sopan, bercanda yang wajar, saling memotivasi, dan memberi semangat. Jangan dipakai curhat yang penuh dengan drama. Curhat sebaiknya dengan sahabat terdekat aja, ya? Lewat jalur pribadi. Jangan di publik.

Gambar : koleksi pribadi

Delapan. Tak perlu menyombongkan diri bahwa kita adalah penulis yang hebat dan berpengalaman ini itu. Orang-orang tidak membutuhkan itu semua. Jangan sampai setelah sibuk memperkenalkan kehebatan kita lantas menjelek-jelekkan leader atau pije proyek. Di muka publik pula. Dijamin bukan respek yang didapatkan, bisa jadi malah cibiran.

Sembilan. Jika merasa cocok dengan satu tempat, berusahalah untuk selalu bersikap baik. Buatlah orang-orang juga merasa nyaman dengan keberadaan kita. Jika merasa tidak cocok dan tidak betah, boleh saja keluar dari grup tertentu. Tapi jangan lupa pamit dulu pada admin grup. Pamit baik-baik lewat jalur pribadi. Jangan main keluar tanpa basa basi sedikitpun. Jangan dikira takkan ada mata yang melihat, lho ya? Tunjukkan kalau kita adalah penulis yang punya harga diri dengan menjaga etika dan nama baik di manapun berada.

Sepuluh. Jaga nama baik setiap komunitas yang kita ikuti. Apalagi jika masyarakat terlanjur mengenal dan mengidentikkan kita dengan suatu komunitas atau grup. Jangan sampai gara-gara kealpaan kita, nama baik komunitas nulis yang diikuti ikut tercoreng. Membangun imej diri baik itu sulit, sementara merusaknya itu sangat mudah.

Bagaimana? Siap untuk menjadi seorang penulis yang tak hanya oke berkarya tetapi juga berkarakter oke? Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: foto pribadi

dailyliteracyzone.com/ rheailhamnurjanah

0 comments on “HARUS DILAKUKAN SAAT IKUT PROYEK ANTOLOGI

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: