Tuesday, 24 November, 2020

Daily Literacy zone

In The Locker Room (1. Dokter Killer)


In The Locker Room (1. Dokter Killer)

“Wajahnya seperti nenek sihir! Sewaktu menatap saya dengan jarak sangat dekat!”

Saat memasuki ruangan loker, tiba-tiba saja telinga Nurul mendengar sebuah percakapan. Ketika menuju ke lokernya, nampak di ujung ruang loker kedua, dua orang perawat sedang sibuk berganti pakaian. Yang satu agak pendek, berkulit sawo matang, dan bertubuh agak gemuk. Yang satunya agak kurus, berkulit agak putih, dan sedikit lebih jangkung.

“Horor!”

“Iya. Dia memarahi saya gara-gara memindahkan pasiennya ke dokter obsgyin lain.”

“Marahin apa aja, Mbak?”

“Entah. Saya malah sibuk menghitung jumlah kerutan di wajahnya. Hehehe.” Yang berperawakan sedikit gemuk tergelak. “Ampun, itu kerutan! Banyak banget! Memangnya udah umur berapa, sih? Kok, beda dengan Dokter Farah yang terlihat cantik dan mulus. Padahal mereka seumuran, kan?”

“Hush, Mbak! Ntar kedengeran orangnya, repot, lho! Pasti rame, ya? Suaranya serak-serak gimanaaa gitu!” seloroh yang kurus.

“Saya nggak terlalu dengerin dia ngomong apa. Intinya dia kesal karena pasiennya diambil alih dokter lain.” Perawat yang gemuk mengangkat kedua bahunya.

“Lha, iyalah, Mbak. Itu pasti bikin dokter itu murka. Kehilangan orderan nantinya.”

“Ya, bukan salah saya, dong! Kan saya sudah menelepon berkali-kali tapi tidak diangkat. Kebetulan ada Dokter Rengganis. Ya sudah daripada pasien kenapa-kenapa, saya lobi untuk menangani operasinya. Denyut jantung bayinya udah melemah soalnya.”

“Tetep aja, Mbak, kita yang salah. Hari ini kan jadwal piket jaga kandungan Dokter Hana. Wajar kalo marah pasiennya dikasihkan ke orang lain.”

“Iya, sih. Cuma sebenarnya Dokter Hana juga nggak sportif. Lihat saja. Jadwal piket dokter anak hari ini kan Dokter Risma, tapi kenapa malah keluarga pasien dirayu-rayu supaya milih suaminya aja.”

“Yaa, kita mah bisa apa atuh? Kalah kalo mau ngelawan mereka. Secara mereka berdua, suami istri, dokter senior, salah satu pemegang saham di rumah sakit ini pula. Kita? Cuma “kroco”.”

“Ya, udahlah. Hayu, udah beres?”

“Ayo. Tapi nanti ke swalayan sebelah, ya? Ada diskonan banyak, tuh.”

Dua orang perawat yang entah berasal dari ruangan mana, yang sedari tadi sibuk ngobrol akhirnya keluar dari ruang ganti setelah membereskan seragam dinas mereka dan menggantinya dengan pakaian bebas.

“Siapa sih itu?” tanya Nurul setengah berbisik pada Kiki yang sedang sibuk melipat baju seragamnya untuk dibawa pulang.

“Kalo nggak salah, itu perawat ruang Operasi Kebidanan, Teh. Kemarin Kiki sempet kebagian magang di ruang OK-VK.” OK-VK adalah ruang perawat bedah dan bidan yang mengurusi setiap ada tindakan operasi persalinan.

“O gitu.”

“Teteh kapan kebagian jadwal magang di ruang OK-VK?”

“Lusa kayaknya.”

“Hati-hati aja di ruangan itu, Teh.”

“Kenapa memang?” Nurul mendadak penasaran.

“Orangnya killer-killer. Nggak perawat, bidan, dokter. Siap-siap aja.” Kiki tersenyum penuh arti.

Nurul menanggapi dengan tertawa kecil. Memangnya ada yang nggak killer atau streng orang-orang di rumah sakit ini? Pikirannya melayang ke hari pertama saat mendapat giliran magang di ruang perinatologi.

***

(bersambung)

**Tulisan ini dibuat bukan untuk mendiskreditkan profesi tertentu.

Sumber gambar : Canva

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

2 comments on “In The Locker Room (1. Dokter Killer)

Aiiiihhh.. seru nih ceritanya ttg behind the sceen para tenaga kesehatan ini.. ga sabar nunggu lanjutannya 😍😍

Reply
DLZ Admin

Siap. 🙏😇

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: