Thursday, 24 September, 2020

Daily Literacy zone

In The Locker Room (2. Magang di Perinatologi)


In The Locker Room (2. Magang Perinatologi)

(Episode sebelumnya

Nurul menanggapi dengan tertawa kecil. Memangnya ada yang nggak killer atau streng orang-orang di rumah sakit ini? Pikirannya melayang ke hari pertama saat mendapat giliran magang di ruang perinatologi.

“Sebenarnya, ruangan Perina juga nggak lebih baik, Ki.”

“Maksud Teteh?” Mata bulat Kiki membelalak.)

***

“Kamu anak baru magang atau penempatan di sini?” Seorang perawat berpakaian hijau menatap Nurul sedikit menyipitkan matanya.

“Magang, Mbak. Lagi rolling ruangan. 2 hari.” Nurul mencoba menjawab dengan ramah.

“Kalau gitu, sekarang ambilkan obat ini di apotek. Nggak pake lama, ya!” Dia menyodorkan secarik kertas, tanpa tedeng aling-aling.

“Iya, Mbak.” Nurul tak bisa menolak.

Memang anak magang seperti dirinya hanya boleh mengamati dan menjadi “pesuruh” perawat senior maupun dokter jika sewaktu-waktu mereka butuh bantuan. Hanya pegawai RS non medis yang tidak berhak menyuruh-nyuruh nakes magang untuk membantu pekerjaannya. Cukup sekadar tahu saja apa peran dan fungsi pegawai non medis di RS tersebut.

Berhubung “anak baru” maka Nurul dan teman-teman magang lainnya tidak langsung diizinkan terjun langsung merawat pasien. Setiap dua hari sekali mereka rolling ruangan sebelum nantinya ditempatkan secara menetap. Tentunya magang selama hari kerja pada shift pagi. Hari Ahad mereka libur.

Nurul bergegas keluar ruangan menuju ke apotek. Sebelum itu, mantel putih (schort) yang dipakainya segera dilepas dan digantungkan di lemari. Setelah menuruni beberapa anak tangga, ia pun sampai.

“Mas, minta obat ini.” Nurul mengangsurkan kertas resep yang dibawanya pada petugas apotek lewat loket yang tersedia.

Seorang lelaki berperawakan jangkung dan berkulit agak putih membaca sejenak resep yang dibawa Nurul. Lalu melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan. Nurul menunggu beberapa saat.

Tak banyak yang mengantre di depan loket apotek. Suasana sekitar apotek juga cukup lengang. Sesekali saja terlihat pengunjung atau nakes lainnya yang berlalu lalang. Di situ terdapat ruang loket pembayaran resep apotek, loket bank, ruang laboratorium dan bank darah. Di sebelah utara adalah pintu keluar masuk. Sebelah kiri pintu masuk ada instalasi unit gawat darurat dan di sebelah kanan ada meja resepsionis dan informasi.

Cukup lama menanti. Akhirnya petugas tadi keluar sambil membawa sebuah nampan kecil berwarna biru tua terbuat dari plastik.

“Ini dua macam obat nggak ada. Yang ada cuma tiga.”

“Iya.” Nurul hanya mengangguk dan mengambil obat-obatan tersebut.

“Eh, bayar dulu, Mbak!” seru petugas itu saat Nurul baru saja hendak meninggalkan depan loket.

“Ini permintaan ruang Perinatologi, Mas.” Nurul menoleh.

“Mana buku ekspedisinya?”

“Pake buku ekspedisi?” Nurul melongo bingung.

“Untuk yang kasbon, pakai buku ekspedisi dulu, Mbak. Jadi nanti masuk ke tagihan ruangan. Perawat atau admin yang input ke tagihan pasien. Mana bukunya? Ambil dulu!” perintah petugas apotek dengan wajah ditekuk.

Hhh. Nurul menghela napas kasar. Ia bergegas kembali menuju ruang Perinatologi untuk mencari buku yang dimaksud.

“Mbak, maaf. Buku ekspedisi apotek itu yang seperti apa, ya?” tanya Nurul pada salah seorang perawat perina yang ditemuinya di nurse station.

“Itu, cari di rak dekat telepon. Warna sampul bukunya pink batik.”

“Terima kasih, Mbak.” Nurul cepat menjangkau tempat yang ditunjukkan.

“E-eh, si Mbak. Mana obatnya? Saya tungguin sedari tadi.” Sebuah suara nyaring sedikit mengagetkannya pada saat ia tengah sibuk mencari buku yang diminta petugas apotek. Rupanya perawat yang tadi menyuruhnya ke apotek untuk mengambil obat.

“Maaf, Mbak. Saya sedang nyari buku ekspedisinya. Kata petugasnya harus bawa buku itu.” Nurul meringis.

“Ya ampun! Ini ada pasien gawat, lho! Cepetan! Dokternya udah marah-marah, tuh!” Perawat berbaju hijau tersebut melotot pada Nurul sambil mengarahkan telunjuknya ke ruangan yang ada di depan mereka.

Nurul sekilas melirik. Dari balik kaca ruangan yang membatasi ruang NICU dan ruang nurse station, ia melihat kesibukan di dalam ruangan yang dimaksud. Tampak dokter ruangan, dokter spesialis anak yang menangani ruangan NICU, kepala ruangan Perinatologi, dan beberapa kru lainnya sedang sibuk melakukan monitoring dan tindakan lainnya pada seorang pasien bayi.

“Udah cepetan, sana!” sentak si perawat mengagetkan Nurul lagi.

“Iya, tapi bukunya nggak ada, Mbak … ” desis Nurul terus sibuk memeriksa tumpukan buku yang ada di situ.

“Siapa yang pake buku ekspedisi?” Mbak berpakaian hijau tadi berteriak tak sabar, menggemakan suaranya yang nyaring ke seluruh ruangan.

“Tadi dipake Mia. Mungkin masih di apotek sekarang.” Sebuah kepala nongol dari ruang perawatan Perina 2.

“Ngambil apa Mia, Ri?”

“Katanya kasbon susu formula dulu buat pasiennya. Kan ortunya pake asuransi. Teh Ana butuh bukunya?”

“Iya. Ini bayi di NICU, butuh obat segera. Mulai drop keadaan umumnya.”

Oh, jadi namanya Ana. Nurul membatin di dalam hati. Perawat judes bernama Ana yang menyuruhnya ke apotek kembali menoleh padanya.

“Cepetan susul ke apotek! Kok, malah diem, sih?” sentaknya lagi.

Belum sempat Nurul menjawab, pintu ruangan terbuka dan seorang perawat bertubuh tinggi masuk.

“Nih, dia orangnya!” seru perawat Ana.

“Nyariin aku, Teh?” Perawat yang baru datang cengengesan.

“Mana buku ekspedisi apotek, Mia? Kasihkan ke Mbak ini. Cepet!”

Perawat bernama Mia tersenyum pada Nurul sambil memberikan sebuah buku. Lalu masuk kembali ke ruangannya. Nurul bergegas menyambut buku tersebut dan membawanya tersebut keluar sebelum perawat Ana kembali menyentaknya.

Akhirnya beres! Batin Nurul seraya memberikan obat yang diminta perawat Ana, lima menit kemudian. Kakinya lumayan terasa pegal karena bolak-balik naik turun tangga. Tidak begitu jauh, sih. Hanya saja ketika melakukannya dengan tergesa dan berlari-lari, maka terasa lebih melelahkan.

“Mbak, perawat magang, kan? Bisa bantu saya sebentar? Saya mau ke radiologi dulu. Mbak tolong pegang pasien saya, ya?”

Perawat Mia melongokkan kepalanya saat Nurul sedang memperhatikan pasien-pasien bayi yang sedang tertidur di bawah sinar ultraviolet dari balik kaca ruangan.

“Tapi …. “

“Terima kasih!” Tanpa mendengarkan ucapannya terlebih dahulu, perawat Mia langsung melesat meninggalkan ruangan.

“Fiuhh! Perawat di sini jalannya seperti buraq semua. Secepat kilat!” gerutu Nurul pelan.

“Suster, anak saya sudah minum susu lagi, belum?” Tiba-tiba entah darimana datangnya, seorang ibu muda tengah menatapnya dengan senyuman.

Nurul terkesiap, deg! “Eh, anu …. “

Duh! Perawat Mia mana, ya? Ini orangtua pasien nanyain anaknya. Aku harus jawab apa? Nurul berusaha memaksakan diri tersenyum meski ia sesungguhnya bingung karena tak tahu yang mana anak si ibu ini. Ya, Allah. Bagaimana ini?

***

(bersambung)

Sumber gambar : Canva

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “In The Locker Room (2. Magang di Perinatologi)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: