Saturday, 19 September, 2020

Daily Literacy zone

In The Locker Room (3. Saved By Perawat Mia)


In The Locker Room (2. Saved By Perawat Mia)

(Part sebelumnya:

Nurul terkesiap, deg! “Eh, anu …. “

Duh! Perawat Mia mana, ya? Ini orangtua pasien nanyain anaknya. Aku harus jawab apa? Nurul berusaha memaksakan diri tersenyum meski ia sesungguhnya bingung karena tak tahu yang mana anak si ibu ini. Ya, Allah. Bagaimana ini?)

“Suster? Anak saya sudah minum lagi belum?” Si ibu mengulang kembali pertanyaannya.

“Eh, anu …. Nama Ibu siapa, ya?” Nurul berusaha menutupi kegugupannya.

“Saya Sinta, Suster.”

Mata Nurul segera mencari nama sang ibu pada papan nama yang ada di tiap boks. Ada satu nama Ny. Sinta pada boks berisi bayi perempuan yang letaknya paling ujung. Di samping boks terlihat sebuah botol berisi sisa susu.

“Oh. Eh, sudah minum, Bu!” seru Nurul asal.

Duh, semoga jawabanku benar. Sebab aku tidak mungkin mengatakan kepada ibu Sinta kalau aku buka perawat penanggung jawab yang mengurusi bayinya. Semoga juga, perawat Mia segera datang! Nurul berbisik riuh di dalam hati.

“Eh, ada Bu Sinta.” Tiba-tiba terdengar suara menyapa yang membuat keduanya menoleh ke arah pintu kamar. Nurul lengsung menghembuskan napas lega saat melihat siapa yang datang.

“Iya, Suster Mia. Maaf saya baru datang. Kemarin saya demam. Kurang enak badan.” Ibu Sinta membalas sapaan perawat Mia dengan senyuman.

“Oh, begitu. Sekarang sudah sehat kembali Bu? Kalau masih sakit, nggak apa-apa ayahnya yang datang untuk mengantar Asi, Bu. Ibu istirahat saja.” Suster Mia mengusap bahu si ibu dengan hangat. “Dedeknya minum susu lima belas menit yang lalu, Bu. Minumnya juga banyak. Kebetulan sisa Asinya tinggal untuk sekali minum lagi. Apa Ibu mau menyusui?” tawar perawat Mia.

“Nanti aja, deh, pas dia udah bangun. Lagi bobo, kan ya? Saya agak lamaan, kok, hari ini di sini. Insya Allah sudah agak enakan. Bosan di rumah terus. Kangen sama anak. Kangen denger suara tangisannya,” ucap Bu Sinta dengan mata berbinar-binar saat melirik ke arah boks bayinya.

“O, gitu. Iya, boleh. Nanti kalau Dedek bangun, saya panggil Ibu.”

“Iya, Suster. Sekalian ini saya bawakan Asi perah untuk persediaan. Alhamdulillah banyak.” Ibu Sinta menyerahkan tas berisi botol Asi pada perawat Mia.

“Alhamdulillah. Banyak, ya? Saya simpankan dulu di freezer. Ibu sudah makan?”

“Sudah. Habis pompa Asi langsung makan lagi. Ya sudah. Saya tunggu di luar, ya?” pamitnya.

“Iya, Bu.” Perawat Mia mengangguk dan mengantarkan si ibu sampai ke pintu keluar.

Fiuh! Saved by perawat Mia. Bisik Nurul lega. Untung saja perawat Mia segera kembali. Sungguh dia merasa tak siap mental jika harus terus meladeni ibu pasien yang datang.

“Deg-degan pasti, Teh!” Kiki tergelak saat Nurul mengakhiri ceritanya.

Nurul tersenyum masam, “Itu baru pemanasan. Ada yang lebih menjijikkan!”

“Apa itu, Teh?”

“Besok saya ceritakan. Sekarang kita pulang, yuk? Sudah hampir Asar.”

“Ah, iya!” Kiki menepuk jidatnya. “Kayaknya tinggal kita yang belum pulang, Teh. Teman-teman kita yang di ruangan lain nggak keliatan seorang pun.”

“Iya. Kerjaan di ruang Perina dan OK VK pastinya banyak, kan? Saya tadi lama nungguin kepala ruangan Perina untuk izin pulang. Tadi masih sibuk di ruang NICU, ngurusin pasien yang kritis. Kalau nggak pamit, khawatir besok ditegur CI (Cliniccal instructure).” Nurul merasakan betisnya yang pegal-pegal.

Setelah mengunci lokernya, Kiki menyusul Nurul yang sudah terlebih dahulu melenggang keluar ruang loker.

“Teh, dapet info kalau besok kita diberitahu dimana nantinya ruang untuk penempatan.”

“Oh ya?” Nurul mengangkat kedua alisnya. “Kan kita baru aja dua hari rolling?

Semoga bukan di ruang Perinatologi. Kembali terbayang wajah masam perawat Ana. Membuatnya bergidik. Hhh! What a nightmare!

***

Sumber gambar :

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “In The Locker Room (3. Saved By Perawat Mia)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: