Monday, 13 July, 2020

Daily Literacy zone

In The Locker Room ( 4. Primary Nurse)


In The Locker Room (4. Primary Nurse)

“Hai, Teh.” Kiki menyapa Nurul yang sore ini dijumpainya tengah duduk di lantai dengan tubuh menyandarkan diri ke loker.

“Hhh, capek sekali! Rasanya kaki dan betisku panas!” keluh Nurul sambil mengurut kedua betisnya.

Kiki tak menanggapi perkataan Nurul. Ia sibuk membuka lokernya dan mulai mengganti baju seragamnya dengan baju ganti biasa. Begitulah peraturan di rumah sakit ini. Perawat tidak diperbolehkan memakai pakaian seragam dinas keluar dari rumah sakit. Jadi saat datang untuk dinas dan saat pulang, mereka harus memakai baju bebas. Baju seragam kotor harus dibungkus dan dimasukkan dalam tas.

Sepele memang kelihatannya. Tetapi begitulah aturan kesehatannya. Perawat jangan sampai membawa kuman penyakit ke rumahnya jika tak ingin menulari anggota keluarganya di rumah dengan bakteri atau kuman yang dibawanya dari rumah sakit. Jika sampai atasan tahu dan menemukan mereka ada di luar RS memakai seragam dinas, bisa dipastikan ada sanksi yang menanti.

“Capek banget, Teh? Udah makan?” tanya Kiki beberapa saat kemudian seraya merapikan baju seragamnya dan memasukkannya ke dalam plastik yang dibawa dari rumah. Hari ini jadwal ganti seragam. Dua hari sekali ganti seragam. Besok dia harus membawa seragam bersih untuk dinas.

“Udah. Sedikit. Nggak nafsu!” keluh Nurul.

“Kenapa, Teh?” Kiki ikut duduk di lantai di sebelah Nurul.

“Hari ini sungguh menyebalkan!” Nurul menghela napas dan tersenyum tipis mengingat apa saja yang terjadi hari ini.

“Oke, Nurul. Hari ini kamu belajar di ruangan Perina 1, ya?”

Pagi tadi instruksi CI ruangan, Mbak Sisil, sedikit menyentak konsentrasi Nurul yang serius menyimak laporan dan operan pasien dari shift malam ke shift pagi. Nurul terdiam sesaat. Kedua matanya menatap ke arah papan yang berisikan nama-nama pasien Perina 1.

“Kamu kemarin sempat mengurus bayi Hiperbilirubinemia, kan? Berapa orang? Dua?”

“Iya, Mbak.”

“Oke. Sekarang nambah, ya? Pegang 4 bayi. Bayi Hiperbilirubinemia saja tanpa ada hal-hal lain. Semuanya pakai tambahan susu formula.”

“Iya.” Nurul mengangguk ragu-ragu.

Sebelumnya Nurul tidak pernah memegang pasien bayi. Saat masih bekerja di rumah sakit sebelumnya, ia banyak mengurusi pasien dewasa. Jadi mengurusi bayi adalah hal baru baginya.

“Yang penting penuhi kebutuhan harian bayi. Dampingi dokter saat visit. Nulis laporan nanti bisa belakangan.”

“Siap, Mbak.” Nurul menoleh pada perawat Mia yang sedang melambaikan tangannya dengan cengiran khasnya, menanti di pintu ruang Perina 1 untuk operan pasien.

Maka dimulailah “petualangan” baru bagi Nurul pagi tadi. Selepas operan pasien, obat-obatan, dan susu persediaan semua bayi dengan shift malam, ia segera menyusun rencana kerja pagi itu. Dari mulai jam 8 pagi hingga jam 2 siang. Memberi susu 4 bayi setiap 3 jam sekali dan setiap bayi berbeda jumlah cairan susu atau Asi yang masuk. Tidak lupa menyendawakan mereka setelahnya.

Mengganti popok mereka yang kotor setiap kali BAB dan BAK. Memastikan seprei dan alat tenun lainnya bersih. Setiap ada yang gumoh dan mengotori seprei maka harus segera diganti. Pokoknya bayi-bayi harus selalu bersih dan kenyang.

Selesai memberi minum, lanjut meninabobokan sampai mereka tidur semua lalu ditidurkan di boks. Setelahnya bedong dibuka, mata ditutup lalu dalam keadaan hanya memakai popok, para bayi tersebut kembali menjalani terapi sinar UV untuk menurunkan kadar kuning mereka. Ada yang kulitnya sudah mulai kembali berwarna putih kemerahan normal, ada yang masih terlihat kuning.

Sepertinya terlihat mudah, tetapi tidak pada kenyataannya. Seringkali bayi yang semula sudah tertidur mendadak terbangun dan menangis saat bedong dibuka dan dipasangi kacamata pelindung agar sinar UV tak langsung mengenai kornea mata dan merusaknya. Belum lagi kalau ada orangtua bayi yang datang berkunjung. Saat ada bayi satu menangis dan perawat sibuk meladeni orangtua pasien yang lainnya, ibu si bayi yang menangis kadang cemberut melihat anaknya tidak segera ditenangkan. Kalau kebetulan perawat kamar lainnya ada yang santai, bisa ikut membantu. Tetapi jarang-jarang perawat ruangan Perina, NICU, dan PICU yang santai.

Beres meninabobokan pasien, lanjut mengambil hasil laboratorium untuk yang sudah dicek tadi subuh. Selesai dari laboratorium, jika hasilnya bagus, maka tidak perlu lapor dokter spesialis anak penanggung jawab pasien. Tetapi kalau hasilnya masih juga tinggi, harus dikonsultasikan segera untuk penanganan lebih lanjut. Sebab jika menunggu visite dokter, kelamaan.

Sambil menunggu dokter datang untuk visite, Nurul menuliskan laporan dengan cepat. Semua yang dilakukannya harus terdokumentasikan dengan lengkap dan benar. Semua harus dipastikan sudah dikerjakan.

“Perawat Nurul! Bantu siapkan peralatan, tuh. Mau ada tindakan di ruang NICU! Paienmu sedang tidur semua, kan? Ayo belajar!” tiba-tiba suara CI ruangan memecah kekhusyukan Nurul menyelesaikan dokumentasi pasien.

“Iya, Mbak.” Nurul tak bisa membantah perintah Mbak Nesa, CI senior lainnya yang terkenal galak.

Baru saja Nurul masuk ke ruangan NICU, sebuah teriakan menggema memanggil namanya.

“Nurul!”

Nurul menoleh ke arah suara. Seorang perawat senior lainnya, memberikan isyarat melalui lirikan kedua matanya kalau ada dokter yang datang untuk visite.

“Mau kemana kamu?” tegur Mbak Nesa mencegat langkahnya.

‘Dokter visite, Mbak.”

“Makanya jadi perawat harus gesit! Coba kalau sedari tadi kamu langsung ke NICU, sudah beres pastinya melakukan tindakan!” ketus Mbak Nesa.

Nurul tak menghiraukannya. Ia langsung menghampiri dokter yang akan visite. Ucapan ketus Mbak Nesa segera dilupakannya.

“Kamu udah telepon keluarganya belum? Katanya orangtua si bayi ingin ketemu dokter hari ini.”

“Engg … Saya nggak dapat operan seperti itu tadi, Mbak.” Nurul tersentak, mencoba mengingat-ingat dan membuka buku saku kecilnya.

Ugh! Ternyata ada operan begitu! Kenapa aku tidak mengingatnya, ya? Keluh Nurul di dalam hati.

“Sudah sekarang kamu telepon orangtuanya. Tuh, dokternya nungguin!”

Baru saja Nurul hendak menelepon orangtua bayi seperti perintah Mbak Nesa, tiba-tiba dokter lain datang untuk visite. Terlupakanlah pesan untuk menelepon salah seorang bayi tadi. Perawat lain yang kebetulan lewat di depan ruang Perina 1 segera meneriakkan namanya.

Beres visite. “Mana orangtua bayi Raisa? Sudah kamu telepon?” Mbak Nesa tiba-tiba mencegatnya lagi di depan pintu kamar ruang Perina 1.

“Be … belum, Mbak,” jawab Nurul gugup sambil bergegas menghampiri telepon.

“Sudah! Besok lagi saja! Dokternya sudah pulang! Kelamaan nungguin kamu! Bisa gerak cepat nggak sih kamu? Lamban betul!” omel Mbak Nesa.

Nurul terdiam dan akan meneruskan menyelesaikan pendokumentasian yang belum dikerjakan ketika tiba-tiba semua pasiennya berbunyi serempak. Sekilas ekor matanya melirik jam dinding. Jam. 12 siang. Waktunya jadwal minum susu. Pantas semua menangis serempak!

Kiki mendengarkan cerita Nurul tanpa menyela. Ia sendiri pernah sekali rolling ke kamar Perina 1. Tidak sampai diberi tugas memegang pasien seperti Nurul sebab spesifikasi penempatan dia di ruang perawatan ibu nifas.

“Cerita menjijikkan yang tempo hari Teteh mau ceritakan tentang apa?” Kiki mengekori Nurul yang sudah selesai berganti pakaian dan berjalan lunglai keluar dari ruangan loker.

***

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “In The Locker Room ( 4. Primary Nurse)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: