Monday, 21 September, 2020

Daily Literacy zone

In The Locker Room (5. Zonk!)


In The Locker Room (5. Zonk!)

(Part sebelumnya:

Nurul menceritakan hari pertama kalinya ia diserahi tanggung jawab sebagai PN atau Primary Nurse. Perawat pelaksana yang memegang 4 orang pasien. Pengalaman yang sangat menguras emosi, kesabaran, dan energinya.)

“Mana, Suster? Itu berharga sekali, lho buat saya. Pokoknya harus ketemu!”

Wajah Bu Ratih terlihat memerah. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Nurul menghirup napas dalam-dalam, sementara kedua mata Mbak Nesa menatapnya tajam.

“Yuk, Ibu tunggu dulu di ruang menyusui, ya? Nanti kami cari dulu.” Mbak Nesa terlihat mencoba membujuk wanita berusia 30 tahunan tersebut.

Mbak Nesa mengusap bahu Bu Ratih dan membimbingnya menuju ke ruang menyusui. Sebelumnya Nurul sempat menangkap isyarat tajam dari CI senior ruang Perina tersebut lewat lirikan sudut matanya yang memerintahkannya untuk segera mencari benda yang diminta Bu Ratih.

Nurul mengusap peluh yang kian deras mengucur di dahinya. Kedua telapak tangannya terasa mendadak dingin. Sepasang matanya menyapu isi ruangan kamar Perina 1 yang ukurannya hanya 2 kali 4 meter saja. Tidak terlalu luas sebenarnya. Dengan 4 boks bayi, satu baby table beserta kasurnya. Di bawah baby table terdapat lemari berukuran sedang berisi alat mandi dan alat tenun bayi. Ada satu kursi untuk perawat saat menulis laporan dan meletakkan buku rekam medis setiap pasien. Lalu di sebelah baby table tersedia wastafel untuk keperluan memandikan bayi. Ada 4 dudukan lampu ultraviolet untuk terapi sinar dan satu tempat sampah untuk sampah medis. Sementara untuk susu dan obat-obatan, ada dapur khusus di ruangan sebelah untuk menyimpannya.

Aku harus cari di mana? Masa iya benda sekecil itu luput dari pengawasanku? Ruangan ini juga tidak terlalu luas. Masa iya bisa hilang? Nurul melirik ke arah ruang menyusui, lamat-lamat terdengar suara Mbak Nesa sedang mengajak Bu Ratih ngobrol untuk mengalihkan kepanikan karena kehilangan “benda berharganya” tersebut.

“Kamu sedang apa?” Perawat Mia melongokkan wajahnya ke dalam kamar.

“Anu, Mbak. Nyari sesuatu …. ” Nurul sibuk meneliti setiap sudut ruangan Perina 1 dengan seksama.

“Perlu bantuan? Kebetulan saya hari ini nggak pegang pasien. Pasien terakhir baru selesai dirujuk barusan.” Mia yang bertubuh janggkung besar tetapi sangat ramah itu mendekat.

“Saya perasaan nggak dapet operannya tadi dari yang shift malam, Mbak. Makanya bingung. Memangnya harus ya masalah benda yang satu itu dioperkan?” Nurul menggaruk-garuk kepalanya bingung dan cemas.

“Iya. Tetap harus dilaporkan, Mbak. Atau gini, deh. Coba telepon yang shift tadi malam. Siapa tahu lupa melaporkannya,” usul Mia.

Dengan perasaan tak karuan, Nurul bergegas menghampiri telepon dan mencoba menelepon perawat yang shift malam tadi. Dicoba berkali-kali, tapi sepertinya ia kurang beruntung. Perawat yang tadi malam berdinas, sepertinya sedang menonaktifkan ponselnya sehingga sulit dihubungi. Huft! Bagaimana ini? Nurul panik.

“Bagaimana, Mbak?” Mia terlihat sedang sibuk mengganti popok bayi.

Nurul menggeleng pelan. Ia lalu mendekati satu bayi yang sedang terbangun dan menangis kencang. Saat diperiksa ternyata popoknya basah.

“Sudah coba mencari di tong sampah?” Meski Mia mengucapkannya dengan intonasi datar tetapi cukup membuat Nurul tersentak kaget saat mendengarnya.

“Te-tempat sampah?” Nurul menampilkan ekspresi wajah jijik sambil menatap tong sampah yang ada di sudut kamar.

“Iya, tong sampah. Kami sudah pernah mengalaminya. Semua perawat yang pernah dinas di ruangan ini.” Ringan saja Mia mengatakannya dengan cengiran khasnya.

Kiki yang sedari tadi mendengarkan cerita Nurul ikut membelalakkan kedua matanya. “Tong sampah?” tanyanya tak percaya.

Nurul mengangguk dan tersenyum kecut. Bahkan Kiki pun memberikan respon yang sama dengannya. Pengalaman paling menjijikkan seumur hidupnya kembali terbayang jelas di pelupuk matanya. Selama ini dia memang sering menemui hal-hal yang kotor seperti membersihkan luka, urine, feses, dan sebagainya saat merawat pasien, tetapi tidak pernah sampai harus mengaduk-aduk tempat sampah juga. Meski mengaduk-aduk isi tempat sampah memakai sarung tangan karet, tetap saja rasanya mual membayangkannya. Cuma karena terpaksa dia mau. Daripada bu Ratih komplen, lebih repot!

Excellent service. Berikan pelayanan terbaik yang melebihi ekspektasi pelanggan. Tujuannya supaya pelanggan merasa puas dan tidak kapok berobat kembali ke rumah sakit ini. Komplen terhadap pegawai rumah sakit, selalu ditanggapi.

“Terus, gimana, Teh? Ketemu benda yang dicari? Memangnya benda apaan sih?” Kiki menatap penuh penasaran padanya.

Nurul menghela napas. Sesaat sebelum meneruskan ceritanya, ia menolah ke kanan dan ke kiri. Memastikan bahwa di ruang loker itu hanya ada mereka berdua.

“Benda itu …. ” Nurul mendekatkan wajahnya ke telinga Kiki dan membisikkan sesuatu ….

***

(bersambung)

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

2 comments on “In The Locker Room (5. Zonk!)

hiiiiiiihhhhh… bikin penasaran, deh!

Reply
DLZ Admin

😆😆 iya, ntar juga tau apa itu “benda berharganya.”

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: