Monday, 21 September, 2020

Daily Literacy zone

In The Locker Room (6. Zonk Usai)


In The Locker Room (6. Zonk Usai)

(Cerita sebelumnya :

“Benda itu …. ” Nurul mendekatkan wajahnya ke telinga Kiki dan membisikkan sesuatu …. )

Kiki menajamkan pendengarannya dan memfokuskan konsentrasinya ketika mendengar beberapa bisikan halus di telinganya. Wajahnya terlihat tegang. Sesaat ia menyimak dengan serius.

10 detik selepas membisikkan ke kuping Kiki, Nurul terdiam. Sementara Kiki membelalakkan kedua matanya. Bola matanya yang membulat sempurna seolah akan meloncat keluar. Kedua bibirnya yang semula terkatup mendadak menganga lebar. Sesaat gadis berusia dua puluh dua tahun itu mematung sebelum akhirnya membuka mulutnya dan mendesis ….

“Itu …. “

Nurul mengangguk dan tersenyum masam. Berusaha meyakinkan sebelum akhirnya tawa Kiki meledak. Membuat beberapa pasang mata yang sedang sibuk berganti pakaian di ruangan loker tersebut menoleh ke arah mereka dengan pandangan bertanya-tanya.

“Teteh, serius?” tanya Kiki terkikik di sela-sela tawanya.

Nurul mengerucutkan bibirnya dan menghela napas panjang. Teringat kembali episode demi episode yang terjadi tersebut dengan sangat jelas ….

“Coba aja di situ, Mbak.” Mia mengangguk, mencoba meyakinkan Nurul.

Nurul menatap kembali tempat sampah yang ada di hadapannya dengan ragu. Kedua tangannya sudah sedia memakai sarung tangan karet dan wajahnya sudah ditutupi oleh masker. Hatinya bimbang.

“Nurul! Ada tidak?” Tiba-tiba Mbak Nesa menyeruak masuk ke dalam ruangan Perina 1.

Gugup, spontan Nurul membuka tutup tempat sampah dan mulai mengorek-ngorek isinya. U-ugh! Nurul meringis. Untung saja wajahnya sebagian besar tertutup masker hingga Mbak Nesa tak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini.

“Ada, nggak?” Mbak Nesa mengejarnya tak sabar.

Nurul membuka kedua matanya lebar-lebar ke dalam tong sampah yang isinya belum terlalu penuh. Jam tujuh tadi petugas kebersihan memang sudah mengganti plastik di dalam tong sampah tersebut dengan yang baru. Nurul pasrah. Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu tak berharap banyak. Terbayang wajah menyeramkan Mbak Nesa yang menatapnya tajam, lalu manajer keperawatan yang akan menelannya bulat-bulat lewat tatapan matanya. Ah!

Gerakan tangannya terhenti. Kedua matanya membelalak. Ia nyaris berteriak histeris saat menemukan benda tersebut. Benda yang bisa membuat karirnya terancam dan bisa menjalani skorsing jika tak diketemukan!

“Ketemu, Mbak!” pekiknya tanpa sadar sambil mengacungkan benda temuannya tersebut.

Mbak Nesa yang berdiri tak jauh darinya langsung menyodorkan sebuah amplop kertas berukuran sedang, berwarna putih, yang sudah terbuka lebar. “Masukkan kemari!” perintahnya.

Nurul perlahan memasukkan benda tersebut ke dalam amplop. Sekilas ia menangkap ekspresi jijik di wajah Nesa. Namun ekspresi itu langsung berubah total menjadi sebuah senyuman paling manis saat berhadapan langsung dengan Bu Ratih.

“Ini, Bu.” Mbak Nesa menyerahkan amplop tersebut yang disambut dengan senyum sumringah.

“Terima kasih, Suster. Alhamdulillah. Terima kasih banyak!” Bu Ratih menyambut amplop tersebut dengan sukacita.

Sesaat wanita itu memeriksa isinya dengan mata berbinar-binar sebelum melekatkan lem amplop tersebut. Diperlakukannya amplop itu seperti barang yang sangat berharga. Sangat hati-hati dan langsung dimasukkan ke dalam tas yang dibawanya. Tak lama ia pamit keluar ruangan.

“Lain kali jangan ceroboh kamu!” desis Mbak Nesa tajam pada Nurul sambil berlalu.

Nurul hanya termangu. Sisa-sisa keringat masih terasa membasahi dahinya. Ia merasa lega, jijik, sekaligus kesal. Tapi tak tahu harus melampiaskannya pada siapa.

“Udah. Jangan dimasukkan ke dalam hati. Mbak Nesa memang begitu. Dia itu CI killer. Hati-hati aja lain kali. Soalnya mulutnya agak bocor. Semua kesalahan yang dilakukan PN-PN di sini pasti semua sampai ke telinga direktur berkat dia.” Mia menepuk pundaknya dan bergumam pelan.

“Hhh. Di mana-mana ada saja orang seperti itu, “keluh Nurul menghela napas panjang.

“Yaa, begitulah. Dunia juga bakalan nggak rame kayaknya kalo semua orang baik dan manis seperti kita, ya nggak?” Mia memasang tampang sok imut dan senyum kocak.

Nurul tergelak melihatnya. Tak apalah ada atasan yang super duper jutek, asalkan masih ada teman kerja yang selalu menanggapi segala sesuatunya ringan seperti Mia. Seolah tak ada beban sama sekali bersamanya.

“Tapi saya masih penasaran.” Nurul kembali melanjutkan aktivitasnya mengurusi pasiennya sambil kembali bicara pada Mia.

“Penasaran kenapa, Mbak?” Mia yang sedang memasang blue light milik seorang pasien bayi menoleh sekilas.

“Apa sih pentingnya benda itu? Sebab saat kuliah tidak ada materi yang membahas bagian tersebut harus diperlakukan bagaimana. Saudara saya juga kalau ada yang melahirkan, ya sudah. Sisa-sisa lahiran dibuang ari-ari dikubur dengan baik. Lalu kalau benda itu juga lepas pada akhirnya, hanya dibuang begitu saja. Tidak ada perlakuan khusus.”

“Iya. Secara medis memang begitu. Cuma kepercayaan orang-orang dulu masih banyak yang melekat di masyarakat kita, Mbak. Konon benda itu katanya ada yang disimpan. Sewaktu-waktu jika bayi sakit parah, maka benda itu dipercaya bisa dijadikan obat yang paling manjur. Wallahu alam.” Mia mengangkat bahunya.

“Wah, baru tahu saya.” Nurul tercenung sesaat.

“Ya. Begitulah. Kadang memang tidak semua harus kita temukan di bangku kuliah, Mbak.” Mia tersenyum.

“Hhh. Baiklah.” Nurul balas tersenyum.

Next, aku harus betul-betul memperhatikan hal tersebut. Siapa tahu masih banyak keluarga pasien yang menganggap benda tersebut adalah benda berharga dan sangat penting untuk diselamatkan. Berjaga-jaga lebih baik, bukan? Daripada harus mengulang insiden mengorek-ngorek tempat sampah lagi. Hiiyy!

Baiklah. Hari itu semua berjalan kembali normal setelah insiden tersebut usai. Sudah tahu apa benda berharga yang dimaksud Bu Ratih dan bikin heboh?

Tali pusat yang puput atau terlepas dari pusar bayi baru lahir. Ada komentar?

***

Sumber gambar: Canva

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

3 comments on “In The Locker Room (6. Zonk Usai)

Ada dong.. πŸ˜‰ kalo kepercayaan di tempat saya, tali pusar yg copot harus dikubur di tempat menguburkan ari-ari. 😊

Reply
DLZ Admin

Nah, kadang infonya nggak nyampe ke kita itu tuh, Mbak. Kadang ada juga yg udah disimpenin tali pusat yang puput itu tapi mereka menerima dengan tatapan bingung. Mau diapain/ mesti digimanainπŸ˜…πŸ˜…

Reply

Hihihii.. iya.. tiap orang pnya kepercayaan yg berbeda sih ya πŸ˜…πŸ˜…

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: