Saturday, 21 November, 2020

Daily Literacy zone

INGIN MEMETIK TAPI TAK MAU MENANAM


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Kamu harus jadi anak yang pintar dan saleh. Makanya disekolahkan oleh Ayah dan Ibu.”

Kita dahulu pernah diberi wejangan seperti itu oleh orang tua kita, Sobat DLZers? Lalu ketika menjadi orang tua, tugas menasihati anak itu dilakukan oleh kita. Betul?

Nasihat yang baik, bukan? Berharap bahwa anak, baik itu kita di mata orang tua dan anak di mata kita, akan menjadi manusia-manusia yang berguna kelak. Berguna bagi Allah dan rasul-Nya. Berguna bagi bangsa dan negaranya. Berguna bagi kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Sebuah harapan yang sangat baik. Tak ada satu pun orang yang akan menyangkalnya.

“Ssst! Dia itu lulusan pesantren, lho. Tapi kenapa sekarang kelakuannya berbanding terbalik dengan apa yang dulu dipelajari? Akhlak tidak terpuji. Omongan juga kasar dan kotor. Bener nggak sih kalau dia itu lulusan pesantren?”

“Dia lulus dari universitas terbaik di negeri ini. Nilainya cumlaude pula. Tapi kenapa masih juga menganggur dan tidak produktif?”

Baca juga : MAU PERANG TAK BAWA PEDANG

Pernah menemukan kedua fenomena tersebut di atas, Sobat DLZers? Bukan hanya pernah, ya. Tapi “sering!”

Seseorang yang kita nilai “seharusnya” menjadi orang berguna, tetapi nyatanya malah menjadi “sampah masyarakat”. Mengapa bisa begitu?

Gambar diambil sebelum pandemi

Pertama. Tidak adanya suri tauladan. Anak bertumbuh dan berkembang, pada dasarnya selalu belajar nilai-nilai baik dan buruk. Ia belajar, terutama, dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Jika dia menemukan perilaku menyimpang dari apa yang dipelajarinya, maka pasti akan ditanyakannya. Mengapa bisa berperilaku merokok, padahal merokok itu tidak baik bagi kesehatan.

Jika anak bisa berpikir kritis, lalu hasil pemikiran dan kegelisahannya disampaikan kepada orang tuanya, lalu orang tua memberikan arahan yang positif, maka bisa dipastikan peran tumbuh kembangnya akan berjalan dengan optimal. Tak ada keraguan akan mana yang benar dan yang salah. Bisa jadi hal yang benar dan sudah terkonfirmasi itulah yang akan dipegangnya hingga dewasa kelak.

Tetapi apa yang akan terjadi jika kekritisannya tersebut tidak ditanggapi dan direspon baik oleh orang tuanya? Malah orang tua memberikan arahan dan contoh yang salah? Maka bisa dipastikan sang anak akan mengalami kegamangan. Dia akan bingung untuk menentukan sikap. Akibatnya dia mudah untuk terombang-ambing dan berpotensi melakukan kesalahan seperti yang dicontohkan dan dilakukan oleh orang tuanya.

Ingatlah bahwa anak adalah “peniru ulung”. Tak ada yang meyangsikan kehebatan mereka dalam meniru seseorang. Hati-hati ya Sobat DLZers yang sudah memiliki putra dan putri.

Kedua. Tidak adanya sinergi antara pihak sekolah dan orang tua. Orang tua dengan pemikiran “polos bin jadul” akan beralasan bahwa ketika anaknya disekolahkan maka “tugas mendidik” sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Di luar lingkungan sekolah, orang tua tidak berupaya mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Mereka sibuk dengan urusan mencari nafkah dan urusan pribadinya masing-masing.

Ketika anak berada di rumah, beberapa orang tua menganggap bahwa tak perlu lagi berurusan dengan pelajaran kecuali jika ada peer. Mereka lupa bahwa “pelajaran yang sesungguhnya” adalah di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Akhirnya tak ada proses kegiatan belajar di rumah. Orang tua sibuk mengurusi keperluan harian di rumah, anak dibiarkan beraktivitas tanpa ada arahan dari orang tua.

Belajar itu tidak selalu harus dengan duduk manis lalu orang tua berdiri di depannya dengan gaya berceramah khas seorang guru. Tetapi belajar di rumah bisa dilakukan dengan lebih santai. Misalnya dengan mengajak anak-anak berdiskusi sambil mendampingi aktivitas istirahat dan bermainnya. Mengajak anak-anak mengisi waktu di rumah dengan membaca buku, memasak bersama, berkebun bersama, dan lain-lain. Komunikasi yang terbangun dengan jalinan mesra antara anak dan orang tua akan melahirkan anak-anak yang kritis, memiliki prinsip teguh akan arti benar dan salah, bertanggung jawab, optimis,dan selalu bersemangat menjalani kehidupan.

Jika di sekolah anak-anak banyak dijejali dengan teori dan sedikit praktik maka di lingkungan rumah, mereka memiliki banyak kesempatan untuk mempraktikkan ilmu yang didapatnya. Orang tua juga sebaiknya harus terus memperkaya diri dengan ilmu-ilmu agar bisa menyeimbangkan diri dengan tingkat kekritisan anak-anak.

Agar pendidikan di sekolah dan di rumah bisa selaras dan seiringan, maka orang tua harus bersinergi dengan para guru. Misalnya sering berdialog dengan guru anak-anak untuk membahas perkembangan putra-putri kita di sekolah dan di rumah. Saat ada kesempatan mendapatkan hasil evaluasi belajar anak per semester atau setelah UTS, usahakan orang tua selalu menyempatkan datang dan berdialog dengan guru untuk mengetahui sejauh mana proses tumbuh kembang anak selama ini.

Jika ada ketimpangan antara karakter dan hasil pendidikan yang ditunjukkan oleh anak di sekolah maupun di rumah, maka bisa bersama-sama mencari penyebab dan solusinya. Ingat ya, Sobat DLZers. Mengambil dan membaca hasil rapot anak itu penting! Bukan sekadar mendapatkan nilai yang terbaik tetapi proses saat mendapatkan hasil, itu yang utama.

Ketiga. Tidak adanya pendampingan dari orang tua selama proses tumbuh kembangnya. Banyak orang lulusan pesantren, tetapi tak berakhlak. Lulusan universitas terbaik, tetapi malah menjadi benalu alias pengangguran. Hal ini bisa terjadi karena selama masa pendidikan, orang tua tak berupaya terus membimbing dan mengarahkan anak-anak. Ingin anaknya menjadi seorang hafiz Qur’an, tetapi tak pernah memacu sang anak agar selalu rajin menghafal di rumah maupun di sekolah. Ingin anaknya menjadi orang sukses, tetapi tak mau peduli akan bakat, minat, dan potensi anak. Anak senang teknik, disuruh kuliah di fakultas bahasa misalnya. Anak dididik hanya untuk kuliah, lulus, lalu melamar kerja. Prototype kolot dan sangat monoton sekali, kan? Akhirnya ketika anak lulus kuliah, belum jua diterima kerja di instansi, hanya diam saja di rumah. Tak berdaya upaya untuk menciptakan lapangan kerja sendiri.

Jadi, akankah kita menjadi orang tua yang hanya ingin “memetik hasil tetapi tanpa berupaya menanam dan memupuknya”, Sobat DLZers? Jangan kecewa jika ternyata hasil yang kita dapatkan tak sesuai dengan harapan. Bukankah “kerja” kita juga tak maksimal?

Salam parenting.

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva dan koleksi pribadi

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “INGIN MEMETIK TAPI TAK MAU MENANAM

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: