Sunday, 20 September, 2020

Daily Literacy zone

ISTIKAMAH ITU SEBERAT SETIA


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Saya berharap dia menulis sesuatu yang oke, secara dia bukan penulis pemula. Namun, seribu tanda tanya memenuhi benak saya ketika dia bergabung dalam suatu proyek menulis tetapi tulisannya sama sekali jauh dari kata berkualitas. Bahkan buruk! Mengecewakan.”

“Saya antusias membeli buku yang ada tulisan si penulis A. Pasti isinya bagus seperti karya-karyanya yang terdahulu. Tetapi ternyata ekspektasi tak sesuai realita. Tulisannya tidak jelas, tidak “greng!” seperti biasanya. Kenapa, ya? Kecewa rasanya membeli buku tersebut …. “

Sobat DLZers, menjadi seorang penulis yang sudah punya nama di kalangan publik itu nyatanya tak semudah dan semenyenangkan yang kita bayangkan. Tuntutan terhadap kualitas karya akan lebih tinggi dibandingkan harapan pada penulis yang belum punya nama atau yang belum banyak jam terbang menulisnya. Tidak percaya? Dua ungkapan dalam kalimat di awal tulisan ini buktinya. Tercetus dari beberapa rekan sesama penulis saat menilai kualitas karya penulis lainnya yang dianggap sudah lebih mumpuni.

Ketika seseorang berkarya lalu karyanya tersebut booming, maka akan bermunculan yang namanya fans dan haters. Fans inilah yang diharapkan atau tidak, akan senantiasa menguntit jejak langkah idolanya. Apalagi jika ada fans fanatik. Setiap kali seorang penulis terkenal release buku terbarunya, pasti penggemar setianya sudah berbaris, mengantre untuk bisa mendapatkan buku terbaru karya idolanya.

Bahkan sebelum buku rilis, pre order sudah menanti dalam list panjang. Ini fenomena yang bisa dilihat beberapa tahun lalu ketika novel “Harry Potter”nya J. K. Rowling meledak dan berturut-turut terbit seri-seri terbaru selanjutnya. Toko buku sebesar Gramedia, telah menyediakan stan khusus untuk pemesanan novelnya. Animo, apresiasi, sambutan, dan antusiasme dari publik terutama para fans begitu meriah.

Baca ini, yuk? MENULIS UNTUK BAHAGIA

Begitu pun dengan penulis Dee Lestari yang meledak dengan “Supernova”-nya. Untuk novel-novel terbaru selanjutnya, sudah ramai pemesanan jauh sebelum buku terbitnya rilis. Psst! Beberapa teman saya sudah woro-woro, mengajak untuk ikut pesan dan beli. Sinopsisnya pun sudah terlebih dahulu bertebaran menghiasi internet.

Maka, sungguh berat sebenarnya menjadi seorang yang sudah dikenal masyarakat luas. Sekali dua kali menelurkan karya yang biasa atau cenderung buruk, bisa jadi hal itu perlahan akan membunuh rasa antusiasme penggemar. Bukan tak mungkin sedikit demi sedikit karena kecewa, mereka akan meninggalkan idolanya tersebut dan beralih pada idola baru yang lebih mampu menghasilkan karya yang spektakuler. Setia untuk istikamah menjaga kualitas karya menjadi mutlak perlu.

Bagaimana menjaga kualitas tulisan kita supaya tidak ditinggalkan para pembacanya agar visi dan misi tetap terpenuhi sesuai target? Minimal dengan tetap menjaga standar kualitas tulisan sendiri. Seperti apa standarnya?

Ingatlah satu hal. Menjaga kualitas tulisan kita agar tetap diminati pembaca setia itu sesuai dengan visi dan misi yang dibawa sejak awal –tentunya selain takdir yang Allah telah gariskan. Bunyinya seperti: untuk apa kita menulis? Untuk meraih popularitas? Meraih penggemar fanatik? Berbagi ilmu? Berbagi pengalaman? Atau apa?

“Bagaimana penilaian pembaca itu sih terserah. Yang penting sudah nulis, sudah berkarya. Beres! Tokh bukan mereka yang nilai. Allah kan yang menilai?” Ini sanggahan yang terkesan benar, tapi apakah iya sudah tepat?

Klik artikel ini: Sebelum Tiba Saat Terakhir

Ketika Allah SWT telah memberikan kita kepercayaan plus ujian lewat ketenaran, kepopuleran, dan karir, sesungguhnya itu adalah saat yang sempurna untuk menjalankan visi dan misi sebagai seorang penulis. Akankah dipergunakan dengan sebaik-baiknya atau malah acuh tak acuh? Akankah lupa pada tujuan awal dahulu? Akankah berpaling dari-Nya? Sementara dulu ketika karya tulis kita lebih banyak ditolak daripada di acc, siang malam berdoa minta dimudahkan meloloskan naskah ke media yang dibidik. Begitu diberi kesempatan dan peluang sedikit saja, langsung lupa.

Jika kita senantiasa mengingat dan setia pada visi dan misi awal menjalani profesi menulis yang digeluti saat ini, maka insya Allah keistikamahan dalam berkarya bisa terus dipertahankan. Inilah penguatnya! Inilah standar yang harus dipegang setiap kali memutuskan untuk menghasilkan sebuah karya sehingga takkan melenceng keluar dari jalur yang seharusnya.

Membangun profesi dari nol itu serupa membangun pondasi sebuah bangunan. Jika semen, batu, pasir, dan air sesuai dengan takaran yang telah ditetapkan agar bisa menghasilkan adukan yang tepat dan kuat, maka pondasi yang tersusun akan menjadi kuat. Kita akan bisa membangun bangunan yang kokoh di atasnya. Bisa melindungi dari terpaan angin, hujan, atau bahkan gempa sekalipun. Tetapi jika salah satu unsur atau elemen adukan kita kurangi takarannya, maka bisakah menghasilkan pondasi yang kuat dan kokoh nantinya? Tentu saja … tidak!

Gambar : Canva’s quote

Bukankah akan menjadi hal yang sia-sia apabila kita sudah bersusah payah membangun personal branding sebagai penulis, merintis dari nol hingga mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari publik lalu kita sendiri yang menghancurkannya dengan memberikan karya yang asal jadi? Pada akhirnya, akankah misi dan visi yang telah dicanangkan akan tepat sasaran? Akankah perjuangan kita bernilai di hadapan-Nya? Mana rasa tanggung jawab kita atas kepercayaan yang Dia berikan lewat kesuksesan yang diraih saat ini (misalnya)?

Membangun dan mempertahankan itu tidak mudah, butuh kerja keras. Butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan dana. Sedangkan menghancurkan itu sangat mudah dalam hitungan waktu sekejap. Seperti halnya menjaga sebuah hubungan. Perlu keistikamahan saat mencintai yang diwujudkan dalam bentuk kesetiaan. Ingin hubungan tersebut berakhir? Mudah! Tinggal salah satu pihak berhenti mencintai, berhenti setia dengan berpaling pada hati yang lain. Maka akan hancurlah semuanya.

Setialah dan istikamahlah. Selalu berikan yang terbaik. Akankah karya jadi best seller atau tidak. Diterbitkan di mayor atau indie. Bentuk antologi ataupun solo. Tetap jaga kualitas.

Think smart! Think wise. Masih akankah mempertaruhkan kepercayaan publik pada karya yang asal-asalan?

Salam literasi.

29 Agustus 2020.

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “ISTIKAMAH ITU SEBERAT SETIA

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: