Saturday, 18 September, 2021

Daily Literacy Zone

JANGAN MARAH WARGA +62 (NEGARA PERINGKAT KEDUA DARI BAWAH UNTUK MELEK LITERASI)


Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers! Sudahkah membaca hari ini? Buku apa yang dibaca, nih?

Ngomong-ngomong soal baca buku, sudah tahu kan kalau negara kita menurut sebuah survei adalah negara dengan peringkat kedua dari urutan terbawah dari 65 negara sebagai negara melek literasi sangat rendah? Apa tanggapanmu soal ini? Marah? Tidak terima? Biasa-biasa saja? Sedih? Atau bahkan tak ambil pusing sama sekali? Beragam reaksi akan muncul berbeda-beda pada setiap orang.

Sempat juga ada seseorang di media sosial yang memberikan tanggapan kurang lebih seperti ini, “Survei ngawur! Apa iya pelosok daerah juga ikut disurvei? Memang tidak tahu bagaimana sulitnya akses literasi ke daerah-daerah pelosok? Tidak akurat itu survei!”

Hmm, tenang tenang. Cooling down sedikit, ya? Jangan terbawa emosi. Lebih baik kita lihat dari sudut pandang yang lain. Sisi yang mungkin bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran positif.

Bisa kita bahas dengan hati dan kepala yang dingin, Sobat? Sebab apapun itu, selalu ada hikmah yang bisa kita ambil jika melihat tidak hanya dari satu sisi saja.

Kritikan, masukan, saran … apapun bentuknya jika diterima dengan hati yang tenang dan otak yang dingin, insyaAllah takkan membuat kita mudah terbawa emosi. Bagaimanapun juga, kita adalah salah satu warga +62. Iya, kan? Apapun sebutan yang tersemat pada negara kita, pasti ada rasa kurang suka dan kurang nyaman jika ada hal negatif yang melekat.

Daripada kita mencak-mencak, balik menyerang pihak yang membuat survei tersebut, ada baiknya kita lakukan perubahan. Perubahan yang bisa dimulai dari diri sendiri. Dari hal-hal kecil.

Kira-kira, apa saja, ya? Yuk, kita bahas bersama.

Giatkan gaung literasi.

Keterampilan menulis dan membaca itu sebenarnya sudah diberikan sejak kita masuk sekolah, bukan? Ada beberapa teman yang bercerita kalau dahulu sebelum masuk sekolah, mereka sudah bisa membaca dan menulis. Wah, ini bisa berarti memang mereka memiliki antusiasme yang tinggi soal tulis baca, atau memang orang tuanya sudah merangsang dan melatih keterampilan tersebut. Tidak masalah. Yang penting, pada akhirnya keterampilan tulis baca memang banyak sekali memberi kemudahan bagi kita.

Ada baiknya jika kita sebagai orang tua, sebagai guru, atau sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat untuk mengenalkan tak hanya masalah teknis dari keterampilan baca dan tulis tetapi juga banyak memberikan penjelasan tentang manfaat apa saja yang bisa dipetik. Mari ajak anak-anak, tetangga, saudara, siapa pun … untuk menyadari bahwa tulis dan baca bukan hanya sekadar hal rutin yang dilakukan saat sekolah saja. Selepas sekolah pun sebaiknya kita tetap melanjutkan aktivitas baca dan tulis ini. Meski sudah ada komputer, gadget, dan alat-alat elektronik lainnya tetapi itu semua pada dasarnya adalah produk buatan manusia, bukan? Tetap saja otak manusialah yang terbaik. Yang diciptakan dan didesain sedemikian rupa oleh Tuhan.

Tetapi ingat. Jangan hanya menghimbau dan mengajak tanpa memberi contoh, ya? Apalagi jika ada di antara kita yang berprofesi sebagai guru. Kesempatan bagus untuk memberikan teladan kepada anak didik.

Rajin mempromosikan kegiatan literasi lewat berbagai media.

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk menggaungkan melek literasi di masyarakat. Contohnya dengan mengadakan acara bedah buku dengan menggandeng penerbit atau toko buku yang ada di kota tempat kita berdomisili. Atau di saat pandemi ini bisa dengan membuat review atau resensi buku lewat platform menulis di internet. Kalau ingin lebih seru lagi bisa dengan memanfaatkan media elektronik yang memungkinkan untuk melakukan pertemuan secara online dan live Bisa dengan menggunakan Google Meet atau Zoom. Membuat kelas-kelas seputar mengasah keterampilan atau skill menulis juga bukan ide yang buruk.

Buat fasilitas penunjang untuk umum sederhana.

Terkadang pemerintah daerah menyediakan perpustakaan daerah di masing-masing wilayahnya. Hanya saja ada yang mudah dijangkau ada yang tidak. Kita sebagai warga negara biasa yang kebetulan memiliki koleksi buku di rumah bisa memulai aksi dengan membuat taman bacaan, perpustakaan mini, perpustakaan keliling, dan sebagainya. Tidak perlu memiliki izin usaha. Kadang dengan memberitahukan RT atau RW setempat juga sudah cukup.

Ajak teman-teman anak-anak kita, murid-murid atau ibu-ibu tetangga untuk mengunjungi perpustakaan atau taman bacaan kita. Daripada ngumpul bergerombol dengan bahasan yang tak jelas dan berpotensi ghibah, lebih baik bersama-sama baca buku. Ingat ya, ibu-ibu. Untuk membaca bareng-bareng. Bukan untuk merumpi berjamaah.

✅ Perbaiki dan kelola dengan baik fasilitas yang sudah ada.

Penulis sendiri bisa merasakan betapa rendahnya minat baca bangsa kita ini dengan pengamatan kecil-kecilan. Contohnya saat SD dulu, buku-buku perpustakaan tidak dikelola dengan baik. Tempatnya pun hanya berupa rak untuk membatasi antara musala sekolah dengan gudang tempat menyimpan peralatan pramuka atau alat musik gending. Rak yang memuat buku hanya ada 2 dengan kondisi buku banyak yang sudah rusak dan tidak layak untuk dipinjam. Tidak ada petugas khusus yang mengurusi alur pinjam buku. Murid bisa meminjam buku lewat guru wali kelas atau guru bidang studi tertentu. Itupun tak banyak siswa akhirnya yang tertarik meminjam buku.

Saat SMP, keberadaan perpustakaan sudah lebih baik. Mungkin karena SMP negeri favorit. Ada ruangan khusus dengan petugas yang mengelola. Setiap tahun ajaran baru, murid diberi pinjam buku paket bidang studi yang ukurannya tebal-tebal dan terbitan lama. Kadang terpakai saat belajar di kelas, kadang tidak. Jika tidak, hanya teronggok di lemari buku hingga menanti akhir tahun ajaran. Saat untuk mengembalikan buku-buku tersebut kembali ke perpustakaan.

Saat SMA kondisi perpustakaan tidak lebih baik dari saat SMP. Buku-bukunya kebanyakan terbitan lama. Tidak terpakai untuk belajar di kelas karena guru bidang studi lebih suka memberikan buku-buku referensi dengan terbitan baru. Di era akhir 1998 dahulu, mulai diperkenalkan buku kerja yang bernama LKS. Pada bagian depan tiap bab pasti ada ulasan singkat seputar materi pelajaran. Jadi siswa tinggal membacanya sekilas saja jika ingin bisa menuliskan soal-soal pertanyaan. Mana sempat untuk tertarik membuka buku-buku paket yang ukurannya tebal-tebal dengan cover membosankan?

Saat kuliah, berhubung kuliahnya khusus untuk satu jurusan saja maka fasilitas perpustakaannya pun minim buku. Apalagi untuk buku terbitan baru. Berhubung kuliah jurusan khusus, buku referensi yang dipakai kebanyakan buku impor yang diterjemahkan atau masih dengan bahasa aslinya seperti Guyton, Gannong, dan sebagainya. Tebalnya? Bisa untuk dijadikan bantal saat kelelahan setelah membaca.

Beli buku aslinya saja sudah cukup mahal, apalagi terjemahannya. Sebelas dua belas alias sama saja! Hahaha …. Sementara para dosen lebih suka jika mahasiswa mempergunakan maksimal buku-buku terbitan lima tahun ke belakang. Lebih dari itu dianggap tidak kompeten. Alhasil buku-buku usang jarang terjamah oleh mahasiswa. Bagi yang punya uang berlebih bisa membeli buku-buku tebal dan mahal. Buat yang kantongnya cekak? Cukup dengan fotokopi ringkasan materi dari dosen.

Pernah penulis membutuhkan buku referensi untuk tugas akhir dan karena buku yang dicari tidak tersedia di perpustakaan kampus maka akhirnya meminta bantuan teman yang berkuliah di universitas lain. Yang memiliki perpustakaan besar dengan koleksi buku yang mungkin hingga ribuan juta. Lucunya, kadang dari satu buku tebal, kita hanya butuh paling banyak satu paragraf untuk bahan referensi. Kebayang kalau harus membeli semua buku referensi. Berapa biaya yang harus dikeluarkan? Olala … kok jadi curcol masa lalu, ya? Hehehe ….

Nah, bagi rekan-rekan penulis yang di instansi tempat mengajar dengan kondisi perpustakaan yang belum terkelola dengan baik, silakan dibenahi lagi. Meski sekarang sedang pandemi dan waktu belajar masih melalui daring, tidak ada salahnya untuk tetap mengelola dan merawat perpustakaan yang ada. Siapa tahu setelah pandemi usai, perpustakaan yang ada bisa dipergunakan untuk membuat anak didik tertarik untuk membaca.

Kenalkan generasi muda pada buku bukan pada gadget.

Para pakar parenting, psikolog, dan pemerhati lainnya selalu mengatakan bahwa gadget kurang baik jika diberikan kepada anak-anak usia balita hingga remaja. Apalagi jika 24 jam non stop. Selain berbahaya bagi kondisi organ penglihatannya, juga pada kondisi psikisnya.

Maka sebaiknya, mari kita ajak anak-anak kita, keponakan, cucu, murid, untuk banyak menjalani aktivitas membaca daripada bermain gadget. Anak-anak yang terbiasa membaca lewat gadget biasanya akan menemui kesulitan saat membaca buku fisik biasa. Mereka akan sulit fokus dan berkonsentrasi.

Di saat pandemi, masa belajar pada akhirnya memang “terpaksa” membuat anak-anak semakin dekat dengan gadget dan internet. Sebagai orang tua dan guru, ada baiknya kita senantiasa mengawasi dan membimbing anak-anak kita agar hanya mempergunakan gadget untuk proses KBM. Selebihnya gadget sebaiknya dijauhkan dari jangkaua anak-anak. Buku fisik, tetap harus selalu didekatkan.

Bersedekah buku bagi perpustakaan mini di pelosok yang masih kekurangan koleksi buku.

Punya koleksi buku dengan stok per judul lebih dari 2 eksemplar? Tidak tahu harus diberikan kepada siapa? Dipromosikan tetapi tidak laku-laku? Berarti saatnya untuk disedekahkan. Carilah info lewat kenalan yang terpercaya untuk mengetahui perpustakaan atau taman bacaan mana saja yang sangat membutuhkan buku-buku baru. Sumbangkan saja. Karena bisa jadi mereka ingin sekali membeli buku tetapi kekurangan dana.

Daripada buku-buku kita teronggok di sudut lemari, berjamur, dan lapuk. Lebih baik diberdayakan. Setuju? InsyaAllah bisa menjadi amalan jariyah kita dan bisa menambah wawasan bagi masyarakat di pedalaman.

Semua memang memerlukan kerja keras dan tak hanya satu atau dua orang saja yang bergerak agar Indonesia menjadi negara melek literasi nomor 1 seperti Finlandia. Mungkin akan butuh waktu, tenaga, dan dana yang cukup lumayan besar untuk bisa mewujudkannya. Akan tetapi tidak perlu berputus asa. Lakukan saja apa yang bisa kita buat saat ini adalah lebih baik daripada hanya diam berpangku tangan dan mengharapkan keajaiban datang.

Masih banyak cara dan upaya lainnya yang bisa kita lakukan. Mudah-mudahan, suatu saat, Indonesia bisa menjadi negara panutan melek literasi di mata dunia internasional. Sendiri mungkin mustahil. Tetapi bersama, insyaAllah kita pasti bisa. Semangat!

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “JANGAN MARAH WARGA +62 (NEGARA PERINGKAT KEDUA DARI BAWAH UNTUK MELEK LITERASI)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: