Wednesday, 23 September, 2020

Daily Literacy zone

Jiwa yang Sendiri?


Jiwa yang Sendiri?

Seorang teman suatu hari mengeluh padaku. Tak ditemukannya teman untuk berbagi. Tak ada yang bisa diajaknya bertukar rasa. Semua mendekat hanya untuk merogoh secuil manfaat darinya. Bukan ketulusan. Melulu pamrih.

“Tidak bisakah kumiliki satu saja teman sejati di dunia yang luas ini? Betapa menyedihkannya. Di saat orang lain sibuk mengatur pertemuan dengan kawan-kawan karib mereka. Berfoto ria dan membaginya di medsos. Menyebut teman sesama kumpul mereka sebagai sahabat.

Sementara yang dulu memanggilku sahabat nyatanya tak menghargaiku barang sedikit. Kusapa mereka, tak jua kunjung mendapat jawaban. Menyebutku sahabat mereka. Dulu. Kubantu mereka tanpa pamrih. Tulus. Tetapi mengapa sekarang mereka begitu enggan membalas sapaku? Dibiarkannya pesanku hanya membisu di daftar paling akhir. Mungkin mereka hanya membacanya tanpa berniat membalasnya.

Apakah yang bernama sahabat itu adalah mereka yang selalu datang berkumpul dengan kita? Yang selalu berfoto ria dengan kita dan fotonya bertebaran di medsos? Apakah mereka yang disebut sahabat adalah orang-orang yang tak mau menerima nasihat saat kita ingatkan? Marah saat keinginannya tak kita kabulkan. Jika, iya. Maka betapa tak berharganya arti persahabatan versi mereka.”

Aku mendengarkannya dengan sepenuh hati. Menyimak setiap kata yang terucap dari bibirnya. Meresapi setiap luapan emosi yang tercipta kala ia bercerita. Kubiarkan hingga dirasa semua bebannya terlepas dan menjadi lebih ringan seperti kapas.

“Dengarkan aku. Tak mengapa jika orang-orang yang dulu menganggapmu sahabat, yang memuja mujimu namun kini berlalu. Itu wajar. Seperti halnya bumi yang terus berputar. Kadang terang tersiram cahaya mentari kadang gulita terselubung kelamnya malam.

Seperti roda yang berganti-ganti posisi. Kadang di bawah kadang di atas. Begitulah Allah SWT mengatur hidup ini. Ada saat orang-orang tertentu datang dan pergi. Mereka pernah hadir dan memberi warna, meski kehadirannya tak selamanya.

Jika kita merasa hari ini banyak ditinggalkan kawan-kawan karib, maka tak usah bersedih. Esok hari akan datang, kawan-kawan karib yang baru. Mungkin mereka adalah orang-orang yang lebih baik, yang datang untuk membawa kita lebih baik lagi.

Terimalah semua yang datang dan pergi dari hidup kita dengan keyakinan bahwa inilah hidup. Seperti inilah kehidupan itu seharusnya berjalan. Tidak stagnan dan statis. Kita ikuti saja arus perguliran waktu. Nikmati saja setiap fase dan episode yang datang. Sibukkan diri dengan tetap fokus berjalan menuju rumah terakhir kita kelak. Pada-Nya.” Uraiku panjang lebar, tanpa bermaksud mengguruinya.

“Kaupikir begitu?” Dia menatapku ragu.

“Ya. Begitu. Buatlah segala sesuatu menjadi mudah untuk dijalani. Jangan dipersulit dan diperumit.” Senyumku dengan mengangguk mantap.

“Jika kau tak memiliki teman seorang pun, apakah kau akan merasa kesepian?” tanyanya seolah ingin mengujiku.

“Tidak. Tidak sama sekali.” Aku tersenyum penuh arti. “Karena aku memiliki teman yang sangat setia. Takkan pernah mengkhianatiku, apalagi mengecewakanku. Dia setia. Teramat setia.”

Untuk jiwa-jiwa yang merasa sendiri. Kerontang dan dahaga dari sejuknya air surgawi. Sesungguhnya kita ini tak sebenar-benarnya sendiri dalam dunia ini jika mampu mengenali diri sendiri dengan sebaik-baiknya.

Ada Dia yang akan selalu menyertai kita setiap saat, setiap waktu. Ada Dia yang tak pernah lelah menatap kita dengan pengharapan bahwa dunia yang fana ini berhenti menyibukkan dari aktivitas keseharian dan mengingatkan semua hamba-Nya untuk kembali menoleh pada-Nya. Dialah Dzat Yang Maha Tunggal. Sahabat sejati bagi jiwa-jiwa yang merasa sendiri.

Wallahu alam bishowab.

***

* 1 Ramadan 1441 Hijriah/ 24 April 2020

Sumber gambar : foto

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “Jiwa yang Sendiri?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: