Wednesday, 15 September, 2021

Daily Literacy Zone

KEBAIKAN DENGAN CARA MENIPU?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers. Bagaimana tulisan kita hari ini? Sepi pembaca atau selalu ramai dibaca?

Jika selalu ramai dibaca, alhamdulillah. Pertahankan prestasi tersebut. Namun, jika masih sepi peminat? Berarti kita harus lebih kreatif mencari caranya.

“Salah satu pendongkrak supaya tulisan kita dilirik pembaca, coba selipkan tagline (21+) atau (18+), pasti langsung dilirik.” Seorang penulis yang sedang berusaha produktif berkarya, menuliskan hal ini di postingan akun medsosnya.

Artinya tahu, kan? Yup! (21+) bermakna “hanya boleh dibaca oleh orang berusia sama atau lebih dari 21 tahun”. Begitu juga dengan istilah (18+), yang berarti “hanya boleh dikonsumsi oleh orang berusia 18 tahun atau lebih”.

Otomatis apa sih yang ter-frame di dalam benak kita atau orang-orang ketika membaca (21+) atau (18+)? Pasti langsung mengarah pada satu kesimpulan. Bahwa tulisan yang mencantumkan istlah atau tagline seperti itu merupakan tulisan atau konten yang mengandung “esek-esek” alias berbau pornografi.

Ketahuilah bahwa konten berbau pornografi, diakui atau tidak, faktanya memang lebih “menarik” untuk diakses. Mungkin tak semua orang mau dengan jujur mengakui ini namun diam-diam ternyata termasuk pelaku yang ikut mengaksesnya.

Konten atau tema-tema perselingkuhan, pornografi, faktanya memang lebih memiliki magnet kuat untuk menarik minat kebanyakak orang. Tidak hanya orang dewasa tetapi juga remaja.

Balik lagi ke ungkapan “jika ingin konten kita dilirik atau banyak diminati, coba diberi tagline atau tambahan keterangan (21+) atau (18+). Dijamin ramai dikunjungi!”

Halal nggak sih siasat seperti itu? Sportif nggak, ya? Strategi marketing yang mumpuni bukan sih?

Saya pribadi akan tegas menyatakan, “Tidak halal! Tidak sportif! Itu sama dengan menipu! Statusnya haram!”

Jika karya kita tidak dilirik orang, lantas apakah harus mencoba cara-cara yang menurut kita strategi marketing yang kekinian tapi di mata Allah, itu adalah cara “rendah dan hina”. Kita itu nulis mau sekadar digemari orang atau dalam rangka beribadah menebarkan kebaikan?

Haruskah seputus asa itu? Menghalalkan segala cara demi mendulang like, and comment? Apakah menulis hanya sekadar memuaskan hawa nafsu? Jika iya, maka saran saya, lebih baik cepat-cepat bertobat. Sebab semua yang kita lakukan akan dihisab nantinya. Apakah sudah sanggup mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah SWT kelak? Sejatinya ketika melakukan hal-hal haram dengan berlindung di balik label kebaikan, sesungguhnya kita telah menipu diri sendiri dan orang lain.

Jika visi dan misi kita dalam menulis sesuai dengan keinginan-Nya maka sepi pembaca takkan membuat jadi putus asa dan melirik cara-cara tidak santun bahkan sampai cara haram. Biarlah sepi pembaca, asalkan tidak sepi didoakan penghuni langit. Lebih baik lagi jika diminati bukan hanya pembaca di bumi tetapi juga oleh penghuni langit.

Suatu kebaikan, hendaklah dilakukan dan disampaikan dengan cara yang baik pula. Yang halal agar tetap halal. Jangan mencampur adukkan antara yang halal dengan yang haram. InsyaAllah bila menebarkan suatu kebaikan dengan cara yang baik pula maka akan mendatangkan rahmat dari-Nya dan bukan azab. Seperti quote dari Ali bin Abi Thalib ra di atas. Tulislah sesuatu yang akan membahagiakan kita di akhirat kelak. Membahagiakan artinya mendatangkan keselamatan bagi kita.

Mari luruskan kembali visi dan misi menulis itu untuk apa. Perbaiki lagi niat dan tekad menulis. Sayang sekali jika hidup yang singkat ini dipenuhi dengan maksiat, demi untuk memuaskan hasrat sesaat yang sesat. Apalagi jika kita mengaku diri sebagai muslim yang taat. Maka segeralah bertobat.

Bekerjalah kamu, maka Allah, dan Rasul-Nya, serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yamg mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At Taubah: 105)

Wallahu alam bishawab.

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

6 comments on “KEBAIKAN DENGAN CARA MENIPU?

Super sekali …👍

Reply

Terima kasih,Mbak Sondang. 🙏🏻😊

Reply

Betul. Ngeri.

Reply
Suratmi Supriyadi

Mengerikan

Reply

Banget. Apalagi jika pelakunya orang dewasa atau orang tua yang seharusnya memberi teladan baik.

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: