Saturday, 19 September, 2020

Daily Literacy zone

Kehilangan Tak Berarti Mundur, Diam, atau Menyerah


Kehilangan Tak Berarti Mundur Diam, atau Menyerah

Saat mendengar kabar duka itu, Reina, sebut saja begitu namanya, tercenung sesaat. Kabar duka yang datang di saat pijakannya terkadang goyah. Pikirannya pun melayang, ke waktu beberapa tahun silam.

“Akang cuma minta, kamu tetap istikamah, ya? Seberat apapun hidupmu nantinya. Karena tinggal kamu yang tersisa dan bertahan dari teman-teman seperjuanganmu dulu. Jangan pernah lepaskan. Kamu bisa berjanji?”

Reina hanya bisa mengangguk pelan. “Iya, Kang. Insya Allah.”

Itu adalah percakapan terakhir dengan mendiang suami kakak sepupunya. Seolah lelaki itu tahu bahwa kelak hidup Reina akan mengalami banyak badai. Pesannya itu adalah pesan terakhir. Seperti untuk menguatkan Reina ketika langkah kakinya mulai terseok dan gamang. Agar selalu mencoba untuk mandiri, berdiri tegak di kakinya sendiri.

Reina menghela napas. Kilasan-kilasan peristiwa terberat dalam hidupnya kembali melintas ….

Tanpa diharapkannya, pihak instansi tempatnya bekerja secara sepihak memecatnya. Alasannya karena kinerja Reina selama bekerja sangat buruk. Padahal ia sangat membutuhkan pekerjaan tersebut karena usaha suaminya baru saja gulung tikar.

Karena resign, hubungannya dengan orang tuanya yang semula sudah renggang, makin merenggang. Berkali orang tuanya mengungkapkan kekecewaannya. Tapi berkali pula suaminya tak menggubris dan tak mau tahu. Semua beban pertanggung jawaban ditimpakan ke pundak Reina.

Belum lagi keluarga mertuanya yang selalu mengusiknya. Mencari-cari setiap celah kekurangannya untuk dijadikan alat untuk menjatuhkannya. Dengan kondisi ekonomi susah begini, berbagai ejekan datang menghampiri. Seolah orang-orang sibuk berlomba terlihat paling banyak uang dan yang tidak punya uang menjadi sasaran bullying beramai-ramai.

Hufft ….

Tak lama berselang dari situ, suaminya mulai berulah. Beberapa wanita mendekat dan berusaha menggoda. Entah apa tujuan mereka. Dipikirnya suami Reina itu pria kaya hanya karena bermobil. Satu dua godaan itu ditanggapi oleh suaminya. Entah kenapa dan mengapa.

Padahal uang untuk membeli mobil yang dimilikinya adalah hasil meminjam. Setiap bulan, Reina yang membayar cicilannya. Dengan uang gajinya. Baru selesai cicilan lunas, ia harus meminjam kembali sejumlah uang untuk membantu mendanai usaha baru yang dirintis oleh suaminya karena tak ingin melihat ayah dari anak-anaknya terpuruk dalam kegagalan.

Sementara saat Reina bekerja lembur agar masih ada uang tersisa dari gajinya untuk makan, suaminya malah sering tak mengizinkannya lembur dengan alasan tak ada yang menjaga anak-anak mereka. Berat terasa ketika tulang rusuk tak hanya menjadi tulang rusuk tetapi juga menjadi tulang punggung.

Situasi makin runyam karena orang tuanya ikut campur dalan urusan mendidik anak. Cara mereka dengan metode yang Reina terapkan berbeda. Anak Reina yang masih kecil-kecil menjadi korban perseteruan orang dewasa. Akibatnya situasi makin memanas. Rumah orang tua yang ditumpanginya serasa bagai neraka. Tak sedikit pun menenangkan apalagi menyejukkan hati.

Ingin mandiri, apa daya rumah yang dulu mereka beli lewat kredit bank terpaksa disita karena tak lagi mampu membayar cicilan yang setiap tahun jumlahnya terus merangkak naik menyesuaikan dengan kenaikan suku bunga. Ingin mengontrak, belum ada dana tersedia. Subhanallah.

“Allah, bolehkah aku mundur? Bolehkah aku menepi dan berhenti? Bolehkah aku menyerah,” bisik Reina nyaris putus asa dalam doanya.

“Akang cuma minta, kamu tetap istikamah, ya? Seberat apapun hidupmu nantinya. Karena tinggal kamu yang tersisa dan bertahan dari teman-teman seperjuanganmu. Jangan pernah lepaskan. Kamu bisa berjanji?”

Teriang kembali kata-kata almarhum. Bergema begitu jelas di dalam gendang telinganya seolah almarhum sendiri yang langsung mengatakannya.

Menetes kembali air mata Reina. Pedih kembali terasa menyelinap perlahan di dalam hati. Terbayang kembali satu persatu saudara-saudara seperjuangan dahulu yang kini telah tiada. Orang-orang saleh salihah, yang menghadap Rabbnya dalam usia muda. Ah, ternyata Allah lebih merindukan mereka daripada dirinya ….

Terkadang jika merenungkan itu semua akan menerbitkan rasa rindu yang tiada terperi akan kehadiran mereka kembali. Untuk membantu menguatkannya. Untuk bisa memompakan kembali semangatnya. Untuk bersamanya, tertawa, dan menangis bersama. Meski kini ia sudah merasa lebih kuat dan semua badai berlalu satu persatu. Tetapi ada kalanya terbersit rasa rindu merasakan kembali ukhuwah Islamiyah yang dahulu terasa begitu manis dan hangat.

Aku merindukan mereka, ya Rabb. Bilakah kelak aku bisa menjumpai kembali mereka di jannah-Mu? Bilakah mereka akan memanggilku dan meraihku ketika mereka sudah berada di jannah-Mu? Sementara langkahku lebih banyak terseok, tak sekencang mereka dahulu.

Tatkala Reina hadir bertakziah, menemui kakak sepupunya, mereka hanya bisa saling memeluk dan bertangisan. Mengenang kebersamaan yang pernah terjalin bersama almarhum. Menyadari bahwa orang yang selama ini membimbing mereka menuju Rabbnya, adalah orang terbaik yang kini telah diambil oleh-Nya. Dalam hela napas, tanpa kata-kata, semua sepakat dan percaya bahwa orang yang mereka kasihi tersebut kini sudah mendapatkan sebaik-baiknya tempat kembali.

“Maafkan suamiku kalau ada salah, Rei.” Kakak sepupunya berusaha terlihat tegar dalam senyum yang dipaksakan.

“Nggak,Teteh. Akang nggak punya salah. Rei justru yang sering mengabaikan nasihatnya.”

Reina terisak, mengingat semua kealpaan dan sifat kekanak-kanakannya. Seringkali lintasan-lintasan untuk mengingkari qada dan qadar-Nya memenuhi benaknya.

“Rei, jangan lupakan pesan Akang. Pegang dan ingat selalu. Istikamah. Semoga kita kelak bisa berkumpul lagi di jannah-Nya.” Dalam duka yang berat menggelayuti hati, kakak sepupunya masih teringat untuk menguatkannya. Masya Allah.

“Insya Allah, Teteh. Rei akan pegang pesan Akang. Rei sudah berjanji.” Rei mengeraskan rahangnya dan bertekad, kembali meng-install ulang mindset-nya.

Terasa berat langkah Reina untuk meninggalkan rumah kakak sepupunya itu setelah prosesi pemakaman selesai. Air mata terus mengalir membasahi pipinya. Bukan hanya bersedih karena kepergian seorang kakak yang sudah seperti orang tuanya, akan tetapi menyesali semua kesalahannya karena sempat beberapa kali mengabaikan pesan akangnya. Sendiri itu memang berat. Apalagi sendirian dalam memendam amarah dan kecewa. Tetapi akan selalu tersimpan di salah satu sudut hati, memori akan nasihat-nasihat dari mereka yang kini tiada. Kenangan itu tetap akan terus menyemangati dan menyalakan bara dalam hidupnya untuk terus melangkah. Menguatkannya.

Kehilangan, tak berarti harus mundur, diam, atau menyerah. Kehilangan adalah suatu cara Allah untuk menguatkan dan mengingatkan, sekaligus menegur orang-orang yang masih hidup agar senantiasa mempersiapkan diri menyambut kematian. Sebab bisa jadi, esok adalah giliran kita selanjutnya.

Bersiaplah untuk tiap-tiap kehilangan yang pasti akan datang. Tetapi jangan pernah menyerah. Istikamahlah.

***

5 Agustus 2020, mengenang 6 tahun kepergian salah satu guru terbaikku.

dailyliteracyzone.com/ rheailham

0 comments on “Kehilangan Tak Berarti Mundur, Diam, atau Menyerah

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: