Monday, 17 May, 2021

Daily Literacy Zone

KENAPA PERLU MEMASARKAN BUKU SENDIRI


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers. Sudah ikutan berapa proyek nulis bulan ini? Sedang menunggu berapa antologi yang sedang proses terbit?

Pasti nggak sabar ya menunggu buku-buku yang sedang proses terbit. Ingin cepat-cepat melihat wujudnya supaya bisa segera membacanya kembali. Tetap ada rasa penasaran, kan? Sambil harap-harap cemas, bagian mana saja yang masih tetap ada dan mana yang “terpaksa” dihilangkan oleh editor buku dari naskah kita.

Tetapi, pernah nggak punya beberapa pertanyaan, “Kalau sudah terbit buku antologi saya, selanjutnya mau diapakan? Bagaimana caranya supaya tidak hanya saya saja yang menikmatinya atau keluarga dan orang-orang terdekat saja, tetapi juga masyarakat? Bagaimana supaya manfaat dari buku saya ini tersiar luas? Bagaimana caranya supaya usia buku saya ini tidak hanya berakhir di sudut lemari buku di rumah? Bagaimana agar bisa mencapai lebih dari 1000 eksemplar penjualannya dan berulang kali cetak?”

Nah, selain menunggu kehadiran buku terbitnya, ada baiknya kita juga memiliki rencana selanjutnya untuk buku-buku tersebut. Salah satunya adalah dengan memasarkannya.

Memasarkan maksudnya menjualnya langsung? Iya, dong! Menjual langsung dengan kita yang menawarkan. Jadi penulis plus marketer. Berani nggak?

Perlukah? Perlu pakai banget! Kenapa perlu memasarkan buku sendiri? Berikut alasannya:

1. Tugas utama. Suka atau tidak, penulis zaman now itu memang dituntut untuk bisa tak hanya menulis tetapi juga memasarkan bukunya. Ingin tembus penerbit mayor tetapi saat latihan lewat buku antologi saja kita sudah malas memasarkan buku sendiri? Bisakah nantinya jadi penulis yang bukunya jadi best seller?

“Saya masih bingung. Pesan buku 3, lalu yang 2 mau dikemanakan?” Saya pernah beberapa kali menemukan ungkapan semacam ini. Terutama saat ditawarkan untuk beli lebih dari kewajiban. Saat belum juga bukunya terbit, sudah bingung duluan bagaimana memasarkannya.

Coba pikirkan. Memasarkan 2 buku saja sudah bingung setengah hidup, apalagi kalau disuruh memasarkan 500 eksemplar buku? Bisa langsung semaput alias pingsan di tempat kayaknya, ya? Maka tidak aneh ketika ada penawaran pre order kedua atau lanjutan, sedikit sekali yang tertarik untuk memesan. Kebanyakan merasa “cukup” dengan pesan buku sesuai aturan wajib. Setelah buku terbit? Alhamdulillah, yang kemudian pesan kembali sangat-sangat sedikit sekali bahkan sangat minim.

Siapa bilang nerbitin buku solo itu lebih mudah daripada nerbitin antologi di penerbit indie? Siapa bilang nerbitin di mayor cuma modal naskah saja? Faktanya tidak semudah itu, Sobat. Tetap saja penerbit ada yang meminta effort penulis yang bersangkutan untuk ikut memasarkan bukunya. Silakan browsing di google saat mencari contoh-contoh outline untuk mengajukan naskah ke penerbit mayor. Ada bagian di mana mereka menanyakan punya strategi marketing apa yang kita kuasai jika buku kita diterbitkan di tempat mereka? Selain sasaran usia, juga dipertanyakan buku kita laku jika dijual di mana dan pada siapa?

Kenapa ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Sebab jika buku tidak laku di pasaran, penerbit akan langsung terkena imbasnya. Setelah lewat dari 6 bulan terbit dan dipasarkan di tokbuk, ternyata buku kita tetap tak laku sehingga perlu ditarik dari peredaran. Akibatnya? Penulis tidak bisa mendapatkan bonus dari penjualan, bahkan ada yang sisa royaltinya tidak dibayarkan. Tetap saja impian jadi kaya raya lewat nulis akan mustahil terlaksana.

2. Bagian dari personal branding. Ketika menemukan statement penulis yang tergabung dalam proyek antologi yang dikelola oleh saya dan tim NuBar terkait alasan mereka tidak bisa memasarkan bukunya yang sudah terbit, saya terus terang suka jadi penasaran. Kadang saya cari akun medsosnya dan stalking. Dari beberapa kali melakukan pengamatan di lapangan, rata-rata para penulis yang “kebingungan” saat disarankan untuk memasarkan buku sendiri itu karena memang mereka terlihat jarang atau sedikit sekali memosting kegiatan menulisnya. Jadi memang tidak terbentuk personal branding sebagai seorang penulis.

Jadi ketika terbit buku, banyak yang tidak memamerkan bukunya sama sekali. Hanya menulis dan menunggu cetak buku. Saat buku terbit sudah sampai di tangan, ya sudah. Berhenti pula semangat untuk memperlakukan buku tersebut selayaknya yang harus diperlakukan. Sudah terima buku, lihat tulisan sendiri, lihat cover dan sebagainya. Selesai baca semua, lalu simpan di lemari. Sudah. Sibuk kembali mempertanyakan nasib buku-buku lainnya yang masih on progress. Itupun jika tidak hanya satu proyek saja yang diikuti.

Itulah sebabnya survei yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia menempati urutan kedua terakhir untuk minat baca sementara untuk bagian mengomentari ada di urutan tertinggi itu memang benar adanya. Faktanya, memang sedikit sekali penulis yang sibuk promosi ataupun memasarkan bukunya dan banyak sekali penulis yang lebih suka “nyinyir bin julid” untuk urusan proyek nulis. Baik terhadap tim proyek, editor, maupun terhadap penerbit.

3. Sasaran pembaca. Saat menulis, apakah pernah terpikirkan untuk usia berapa sajakah sasaran pembaca karya kita? Menulis juga perlu sasaran pembacanya mau yang seperti apa. Umum? Anak-anak? Usia tertentu?

Kenapa perlu dipikirkan untuk urusan sasaran pembaca? Supaya isi tulisan kita juga jelas segmennya. Jangan sampai kita menulis untuk usia anak sekolah tapi bergabungnya di antologi untuk usia dewasa atau sebaliknya.

Jika kita sudah memiliki sasaran target usia yang jelas, saat memasarkan buku pun tidak akan bingung dan ragu lagi. Sudah ada incaran mau menawarkan buku pada siapa saja.

4. Tes pasar. Menulis di antologi memang tidak terlalu banyak aturan khusus. Yang terpenting ada keterkaitan dengan tema dan judul proyek antologi yang diikuti. Setelah buku terbit, lalu pasarkan. Minta para pembaca yang membeli dan menikmati karya kita untuk memberikan masukan, saran, dan kritik. Dari sana kita bisa tahu apakah tulisan kita memang sudah baik atau masih banyak kekurangan dan sebagainya.

Bagaimana jika meminta saran, kritik, dan masukan kepada pihak penerbit atau tim proyek? Boleh saja. Minta pendapat PJ proyek memang bagus. Akan tetapi masukan dari pembaca juga perlu. Untuk perbaikan kualitas tulisan kita selanjutnya.

Bukan berarti mengikuti maunya pembaca, lho ya. Tetapi tetap dengan keidealisan dan prinsip kita sambil menambahkan hal-hal penting yang juga bisa sebagai bahan penarik minat pembaca untuk menyukai hasil tulisan kita. Jangan sampai karena lebih mementingkan pendapat dan saran dari pembaca lantas kita menulis hanya untuk memuaskan pembaca. Ingat, semua ada hisabnya. Perhitungannya.

Bagaimana, Sobat DLZers? Masih juga ragu, takut, khawatir, dan seribu satu alasan lainnya yang sebenarnya tidak berdasar sama sekali untuk urusan promosi dan memasarkan buku kita? Relakah melihat “usia” buku yang merupakan hasil karya kita berakhir begitu saja di sudut rak buku?

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Toko buku gramedia, Canva.

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “KENAPA PERLU MEMASARKAN BUKU SENDIRI

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: