Saturday, 18 September, 2021

Daily Literacy Zone

KESALAHAN PENULISAN DIALOG DALAM NARASI (1)


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers. Sudah menulis apa hari ini?

Perlukah adanya dialog pada sebuah tulisan? Terutama pada tulisan yang bersifat naratif, baik fiksi maupun non fiksi. Sebab terkadang pemanis atau penghidup suasana salah satunya adalah keberadaan dialog.

Tentu saja penulisan dialog juga jangan terlalu banyak kecuali jika berbentuk naskah drama. Dalam naskah drama, dialog memang memiliki porsi paling besar. Cara penulisannya pun memiliki beberapa perbedaan yang mencolok.

Sebaliknya pada naskah biasa atau non drama, narasi memiliki porsi lebih besar jika dibandingkan dengan dialog. Bisa mengerti perbedaannya sampai di sini, kan?

I. Nah, mari kita lihat beberapa contoh penulisan dialog yang salah.

1. “(spasi)Selamat pagi(?)(spasi)”(tanpa spasi) seru Tina lantang.

Atau:

” Selamat pagi? “seru Tina lantang.

2. “Selamat pagi(!.)” (S)eru Tina lantang.

Atau:

“Selamat pagi!.” Seru Tina lantang.

“selamat pagi(..)(spasi)”. seru tina lantang

Atau:

“selamat pagi.. “. seru tina lantang

Nah, sudah bisa melihat di mana saja kesalahannya dari semua kalimat di atas? Jika sudah, bagaimanakah bentuk kalimat yang tepat?

“(tanpa spasi)(S: kapital)elamat pagi(tanpa spasi)(!)(tanpa spasi)(“)(spasi)(s: bukan kapital)eru (T: kapital)ina.

Atau:

“Selamat pagi!” seru Tina lantang. ✅

***

II. Penulisan dialog yang kurang tepat karena bersatu dengan narasi.

1. Awal paragraf.

“Aku harus pergi,” bisikku pelan. Aku bertekad harus segera pergi dari rumah sialan ini. Jika terlalu lama di sini bisa-bisa terkena pengaruh buruk dari si empunya rumah. Ternyata pamanku terlalu sering memasukkan perempuan asing ke dalam rumah ini tanpa sepengetahuan istrinya.

Seharusnya:

“Aku harus pergi,” bisikku pelan.

Aku bertekad harus pergi dari rumah sialan ini. Jika terlalu lama di sini bisa-bisa terkena pengaruh buruk dari si empunya rumah. Ternyata pamanku terlalu sering memasukkan perempuan asing ke dalam rumah ini tanpa sepengetahuan istrinya.

2. Tengah paragraf.

Malam sudah larut. Suasana sekitar sangat hening. Tiba-tiba saja aku terjaga karena mendengar suara benda terjatuh dari arah ruang dapur. “Mas! Ada pencuri masuk ke rumah kita!” Aku membangunkan suami dengan panik. Mas Ari bangun dengan terkejut. Ia langsung melompat dari kasur dan mencari gagang sapu lalu berjalan mengendap-endap menuju ke dapur.

Seharusnya menjadi:

Malam sudah larut. Suasana sekitar sangat hening. Tiba-tiba saja aku terjaga karena mendengar suara benda terjatuh dari arah ruang dapur.

“Mas! Ada pencuri masuk ke rumah kita!” Aku membangunkan suami dengan panik.

Mas Ari bangun dengan terkejut. Ia langsung melompat dari kasur dan mencari gagang sapu lalu berjalan mengendap-endap menuju ke dapur.

3. Akhir paragraf:

Selesai juga semua pekerjaan hari ini. Saatnya pulang dan beristirahat di rumah. Kebetulan besok weekend. Jadi aku bisa sedikit bersantai setelah berhari-hari lembur seperti romusha. Segera kulangkahkan kaki dan berpamitan pada Pak Heru, “Saya pulang dulu, Bos.”

Seharusnya menjadi:

Selesai juga semua pekerjaan hari ini. Saatnya pulang dan beristirahat di rumah. Kebetulan besok weekend. Jadi aku bisa sedikit bersantai setelah berhari-hari lembur seperti romusha.

Segera kulangkahkan laki dan berpamitan pada Pak Heru, “Saya pulang dulu, Bos.”

III. Dialog ditulis seperti pada naskah drama. Ada yang memakai tanda baca, ada yang tidak.

Ibu: Ayo makan.

atau: Ibu: “Ayo makan!”

Aku: Baik.

atau: Aku: “Baik.”

**Silakan lihat contoh penulisan dialog pada naskah biasa di bagian I dan II.

** Harap bedakan penulisan dialog pada naskah drama dan naskah biasa. Temukan dan amati dengan teliti perbedaannya.

IV. Dialog antar dua orang atau lebih berada di dalam satu paragraf. Seharusnya per dialog dituliskan di alinea yang baru.

Contoh:

“Pinjam bukunya, Kak?” Adikku menunjuk sebuah buku yang ada di rak. “Ambil saja. Kalau sudah, kembalikan lagi, ya?” Aku menganggukkan kepala. “Terima kasih, Kak.” Adikku tersenyum lebar seraya mengambil buku yang dimaksud.

Seharusnya:

“Pinjam bukunya, Kak?” Adikku menunjuk sebuah buku yang ada di rak.

“Ambil saja. Kalau sudah, kembalikan lagi, ya?” Aku menganggukkan kepala.

“Terima kasih, Kak.” Adikku tersenyum lebar seraya mengambil buku yang dimaksud.

V. Dialog satu orang, per kalimat ditulis tanda petik berulang kali.

Contoh:

“Baiklah, Ibu akan diam.” “Berarti Bapak harus segera menasihatinya.” “Jangan sampai anak kita berulang kali melakukan kesalahan yang sama,” ujar Bu Santi.

Seharusnya:

“Baiklah, Ibu akan diam. Berarti Bapak harus segera menasihatinya. Jangan sampai anak kita berulang kali melakukan kesalahan yang sama,” ujar Bu Santi.

***

Bagaimana? Apakah Sobat sudah mengerti bagaimana cara menuliskan dialog yang benar? Banyak-banyak berlatih, ya?

Berikut ada soal latihan, nih. Silakan dikerjakan dan tulis bentuk yang benar di kolom komentar.

1. ” dokter apa yang harus saya lakukan! ” tanya ayah yang terlihat putus asa

2. “baiklah jika itu maumu!. ” aku menganggukkan kepala

3. “rasanya sangat menyakitkan.. ” ibu memukul dadanya sambil menangis keras

Selamat mengerjakan! Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “KESALAHAN PENULISAN DIALOG DALAM NARASI (1)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: