Saturday, 19 September, 2020

Daily Literacy zone

KUAT KARENA TERPAKSA ITU TIDAK BURUK


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Terpaksa nguatin diri demi anak-anak. Melihat suami dan ibu mertua terus memojokkan saya, kadang nggak tahan juga, Mbak. Saya harus berusaha tersenyum meski sebenarnya saya hancur, sehancur-hancurnya …. “

“Atasan di kantor melempar buku hasil tulisan saya tepat ke muka saya, Mbak. Di hadapan banyak orang sambil mengatakan kalau hasil tulisan yang saya buat itu tak ubahnya seperti sampah. Tidak bermutu. Padahal saya nulis yang baik. Rasanya malu sekali dilihat banyak orang. Tapi saya menguatkan diri untuk tidak menangis meski ingin sekali menangis.”

DLZers, terbayangkah oleh kita bagaimana kondisi orang-orang yang berada di titik nadir mereka? Titik terendah yang membuat diri merasa tidak berarti sama sekali. Merasa diri bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Berani nggak untuk : Berani Trial and Error?

Pernahkah melihat kondisi demikian? Pernahkah kita berada di posisi yang sama seperti mereka? Terpaksa menguatkan diri sendiri meski di satu sisi sifat kemanusiaannya ingin berontak, meraung, dan menjerit sekencang-kencangnya melepaskan beban yang menghimpit di dada. Terpaksa tersenyum meski harga dirinya tercabik-cabik seperti benda tak berharga.

Ahli kesehatan mengatakan bahwa ketika kita sedang bersedih namun kemudian berpura-pura bahagia maka hormon endorfin akan memanipulasi mood kita agar bereaksi positif. Maka di saat terpuruk sekalipun namun kita berusaha tenang, menghela napas, dan tersenyum, maka hal itu akan meredakan sirkulasi darah yang mengalir cepat akibat jantung memompakan darah dengan ritme sangat cepat. Alam perasaan akan membaik, sistem imun tubuh akan ikut kuat juga.

Maka ketika di saat kejatuhan, kita menguatkan diri dengan terpaksa dan mengesampingkan keinginan untuk menangis atau bereaksi depresi lainnya, tubuh akan memanipulasi agar denyut jantung tak terangsang untuk berdetak cepat. Apalagi jika kita sanggup untuk menyembunyikan air mata dan menampilkan senyum kepada orang-orang tercinta di sekitar kita. Maka aura diri kita yang positif akan memancarkan ketenangan bagi mereka. Ada reaksi kimia yang tak hanya baik bagi kita tetapi juga untuk orang lain. Risiko untuk terkena penyakit jantung atau tekanan darah tinggi semakin minimal. Insya Allah.

Berpura-pura kuat. Sebenarnya hal itu tidaklah buruk. Memanipulasi tubuh dan alam perasaan agar kembali normal, itu sebuah pekerjaan hebat! Di saat orang yang menyebabkan kita down dan mungkin ingin melihat kita terpuruk, maka terlihat kuat akan menyebabkan kondisi menjadi terbalik. Alih-alih ingin melihat kita terpuruk, justru merekalah yang malah terpuruk karena melihat kuatnya kita.

Jika kita terbiasa terlatih untuk bereaksi kuat mental, maka hal itu akan membuat kita memang tercetak sebagai orang yang kuat secara mental. Tetap tersenyum meski hati perih tak hanya menguatkan diri sendiri namun juga memukul mental orang lain yang berniat buruk pada kita.

Banyak orang yang terpaksa kuat namun akhirnya berhasil. Lihat Rasulullah Muhammad SAW. Beliau “terpaksa” menguatkan diri karena tak hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga masa depan umat muslim di setiap zaman. Di sujud malamnya, beliau selalu menangis memohon kekuatan pada Allah SWT. Dizalimi orang-orang yang membencinya pun, beliau senantiasa tersenyum. Lihat buah kekuatan mental beliau. Islam tetap terus eksis hingga detik ini, terlepas dari bagaimana kondisinya.

Lalu?

Kita boleh bernapas lega, tersenyum lepas, dan mensyukuri kemenangan pada akhirnya. Tidak buruk, bukan?

So? Keep strong.Whenever, wherever, whatever, whoever you really are.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/ rhealhamnurjanah

0 comments on “KUAT KARENA TERPAKSA ITU TIDAK BURUK

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: