Saturday, 19 September, 2020

Daily Literacy zone

(Masih) Tentang Corona, Belajar dari Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu


(Masih) Tentang Corona, Belajar dari Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu

Beberapa jelang hari lebaran nyatanya masalah pandemi Corona masih menjadi polemik tak berkesudahan di masyarakat. Penerapan PSBB perpanjangan di beberapa kota disinyalir tidak terlalu berpengaruh signifikan meski selalu ada kabar beberapa penderita positif Covid-19 yang sembuh setiap harinya. Kebijakan terakhir dari pemerintah meliputi perizinan beroperasinya kembali sarana transportasi antar dan inter kota, serta perizinan pulang kampung dalam rangka menuntaskan urusan pekerjaan hingga himbauan terbaru untuk hidup berdampingan bersama Corona sepertinya tak membuat carut marut seputar lockdown mereda.

Bagaimana pengaruhnya bagi masyarakat? Sebagian kalangan memprotes dan mempertanyakan beberapa kebijakan yang dirasa tidak mendukung terhadap upaya pemberantasan pandemik. Sebagian lagi, sejak awal, tetap tak terpengaruh dan tetap beraktivitas keluar rumah seperti biasanya dengan alasan mau makan apa jika tak bekerja, sementara subsidi nyatanya tak menjangkau keseluruhan orang-orang yang membutuhkannya. Sebagian lagi memilih diam di rumah, sambil terus memantau perkembangan terbaru lewat berita di berbagai media massa, bingung harus bagaimana bersikap dan memilih mengamankan diri.

Beberapa nakes dari instansi kesehatan bahkan sempat mengeluhkan kebijakan pemerintah yang terbaru, sebab berdasarkan sebuah sumber yang mereka dapatkan, terungkap bahwa saat ini Indonesia masih berada pada titik kritis. Mereka beranggapan dengan kebijakan-kebijakan yang terkesan lebih longgar dalam menghadapi pandemik Corona takkan menyelesaikan masalah sama sekali bahkan sangat berpotensi meningkatkan angka tingkat kesakitan. Padahal sebelumnya pemerintah menerapkan sanksi yang cukup berat, salah satunya memberikan denda sejumlah sekian juta rupiah bagi masyarakat yang melanggar ketentuan selama masa lockdown. Semula mudik dilarang, pusat-pusat perniagaan sebagian dilarang beroperasi dengan kriteria yang tidak jelas arahannya seperti melarang toko-toko yang menjual barang-barang non pangan, pembatasan ke pasar-pasar, dan sebagainya.

Kebijakan-kebijakan yang dirasa tidak pro rakyat tentu saja menyebabkan banyak protes dan kasak-kusuk di kalangan masyarakat sendiri. Hasilnya bisa terlihat dengan tetap macetnya jalur utama lalu lintas di kota-kota. Tak ada tanda-tanda semua kalangan serempak mematuhi peraturan dari pusat dengan alasan memenuhi isi perut anak istri lebih “darurat” dibandingkan berdiam diri di rumah untuk mengkarantina diri sendiri. Tiadanya sumber penghasilan yang merupakan efek dari phk massal nyatanya menimbulkan keresahan-keresahan baru sehingga menafikan kedaruratan dari pandemik Corona itu sendiri.

Dalam diamnya, sebenarnya masyarakat bergejolak. Menghadapi pertentangan batin setiap harinya. Dilema antara menuruti peraturan dari pemerintah ataukah mendengarkan tangis anak-anak di rumah yang kelaparan maupun yang minta jajan. Pemutusan hubungan kerja massal di awal penerapan lockdown membuat rakyat kian resah. Di sisi lain pemerintah malah memasukkan tenaga kerja asing ke Indonesia dengan jumlah tak sedikit.

Fakta di lapangan, kebutuhan perut rakyat tak semua merata ditanggung pusat. Dari hasil reportase lapangan dadakan, penulis mendapatkan informasi bahwa (lagi-lagi) bantuan bersubsidi tidak tepat sasaran. Banyak keluarga yang mampu dan tidak terimbas oleh pandemik justru mendapatkan bantuan. Sedangkan keluarga yang benar-benar membutuhkan malah tak tersentuh sama sekali. Belum lagi isu akan dinaikkannya iuran BPJS alias asuransi kesehatan yang seharusnya dijamin oleh pemerintah.

Sebenarnya, masalah-masalah yang berkaitan dengan pandemik Corona hingga terakhir muncul kesan di masyarakat “terserah, pilih mana yang lebih penting diutamakan” tidak perlu terjadi jika pusat mampu menyelesaikan dan mengantisipasi sedari awal. Contohnya seperti yang terjadi di negara Saudi Arabia. Pemerintah di Arab tersebut segera memberlakukan lockdown ketat sambil menyiapkan subsidi bagi rakyatnya. Jadi rakyat Saudi Arabia tidak memiliki alasan atau dalih untuk mengabaikan aturan dari pemerintah sebab kebutuhan utama mereka, yaitu urusan perut, sudah terpenuhi dan terjamin.

Satu contoh pernah terjadi musibah Thaun di zaman Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Saat beliau memerintah negara Islam yang berpusat di Madinah, Umar segera bertindak cepat kala wabah penyakit menimpa masyarakat Islam di seluruh jazirah Arab dan sekitarnya.

“Dosa apakab yang telah kita perbuat sehingga Allah SWT menurunkan wabah ini?” Ini pertanyaan pertama beliau kepada semua orang.

Beliau menanyakan hal tersebut bukan untuk mempertanyakan dalam arti menggugat Allah SWT. Umar bin Khattab mengajukan pertanyaan tersebut karena ingin semua senantiasa mawas diri lalu segeraa mentaubati. Setelahnya, beliau segera mengkoordinasikan dan memerintahkan semua perangkat negara untuk saling membantu, menyuplai kebutuhan pangan, sandang, dan obat-obatan untuk kemudian didistribusikan secara merata kepada rakyat yang membutuhkan. Penduduk yang sehat segera dievakuasi ke daerah pegunungan sementara yang sakit dikarantina dan dirawat dengan sebaik-baiknya.

Darimana sumber pemasukannya? Tentu saja dari baitul mal, yaitu hasil dari pengumpulan zakat dan hasil pemotongan kekayaan pejabat yang berlebihan. Umar bin Khattab sendiri hanya mengambil sedikit saja dari gajinya sebagai kepala negara dan sebagian besarnya diinfakkan untuk membantu rakyatnya. Kita semua tahu bahwa sebelum masuk Islam, beliau adalah seorang saudagar kaya raya di Kota Makkah. Semenjak masuk Islam, harta kekayaannya banyak digunakan untuk mendukung perjuangan Islam bersama Rasulullah SAW. Kemudian semenjak menjadi khalifah, hidupnya sungguh sangat sederhana –kalau tidak dibilang miskin.

Bagi Umar bin Khattab, sungguh celakalah dirinya jika beliau merasa kenyang sementara ada satu saja rakyatnya yang merasa kelaparan. Adakah profil pemimpin seperti ini di zaman sekarang? Yang tak sekadar mengeluarkan kebijakan tanpa pernah memberikan solusi yang tepat guna dan tepat sasaran, tetapi senantiasa jeli terhadap kebutuhan rakyatnya secara mendetail.

Bisakah rakyat Indonesia disiplin menerapkan PSBB sesuai keinginan pemerintah pusat dan setempat? Tentu bisa. Sangat bisa. Jika dibarengi pula dengan solusi tepat sasaran dari pemerintah setempat dan pusat. Ciptakan dulu rasa aman dan jaminan terhadap kebutuhan paling krusial dan urgen, yaitu urusan perut dan jaminan biaya kesehatan. Maka dijamin rakyat akan sepenuhnya, totalitas, patuh pada pemerintah.

Jangan membuat kebijakan-kebijakan plin plan yang membingungkan masyarakat. Jangan membuat kebijakan yang tak sedikit pun berpihak kepada rakyat kecil. Apalagi membuat masyarakat golongan ekonomi lemah makin menjerit dengan berbagai kebijakan yang tak pernah menguntungkan secara finansial. Tak ada salahnya dan tak perlu gengsi mengadopsi cara-cara pemimpin Islam yang berhasil mengantarkan rakyatnya merasakan yang namanya kesejahteraan dan kemakmuran. Jika hubungan antara pemerintah dan rakyat harmonis maka hubungan antar masyarakat pun bisa terjalin serasi dan selaras. Takkan ada lagi slogan yang tercetus sebagai wujud dari rasa frustrasi yaitu “terserah”.

Mungkinkah kita mengulang kesuksesan seorang Umar bin Khattab saat wabah Thaun melanda? Wallahu alam bishowab.

***

Sumber referensi:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207352343604968&id=1777412310

Dan berbagai sumber.

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “(Masih) Tentang Corona, Belajar dari Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: