Sunday, 22 November, 2020

Daily Literacy zone

Menggenapkan Dien Nyatanya Timpang


Seorang kawan karib perempuan pernah berucap, “Aku ingin mencari suami yang saleh, agar bisa membimbingku agar perilakuku bisa berubah jadi Islami.”

Pernah juga seorang kawan pria mengatakan hal ini, “Aku mencari istri yang salihah karena aku ingin ada yang bisa membimbingku memperdalam Islam.”

Sobat DLZers, pernikahan sebagaimana yang kita tahu adalah sebuah ibadah dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan sunnah Rasul. Ada penggabungan setengah dien dari masing-masing pihak, sehingga genaplah satu dien setelahnya. Maka penggenapan dien tersebut akan menjadikan sebuah bahtera siap untuk berlayar mengarungi lautan luas yang terbentang di hadapan.

Baca juga: PINJAM BAHU SAKTIMU

Setengah dien bergabung dengan setengah dien lainnya bermakna bekal ilmu yang dimiliki seorang leaki akan digabungkan dengan bekal ilmu seorang perempuan. Kemudian penggabungan ilmu dari kedua belah pihak tersebut akan diolah bersama yang pada akhirnya akan melahirkan satu visi dan misi tentang ke arah manakah pernikahan mereka akan dibawa. Sebuah kesepakatan. Agreement. Menuju rumah tangga yang sakinah dan mawadah agar wa rohmah di surga-Nya kelak. Tentu saja dengan landasan utama Al Quran dan Assunah. 2 hal prinsip yang sangat krusial. Tak bisa ditawar-tawar.

Lantas bagaimanakah yang akan terjadi jika hanya salah satu saja yang memiliki bekal ilmu ataupun kesiapan untuk merumuskan visi dan misi suatu rumah tangga sementara pihak yang lainnya hanya sebagai follower atau bahkan new beginner learner? Akankan keduanya menemukan satu titik kesamaan?

Memang betul seorang lelaki muslim diperbolehkan untuk menikahi seorang ahli kitab jika tak tertarik memilih seorang muslimah. Atau seorang muslimah aktivis keislaman menikahi seorang lelaki mualaf misalnya. Atau lelaki yang baru saja insyaf dan berhijrah. Namun, jika merujuk kepada keidealan visi dan misi dari rumusan yang dibuat suatu rumah tangga maka akankah bisa mewujudkan visi dan misi yang sejalan? Sesuai dengan keinginan Allah dan Rasul-Nya?

Jika kita selama mengisi masa muda dengan hal-hal yang jauh dari mencari ilmu tentang Islam, kemudian bermimpi untuk mendapatkan pasangan hidup yang saleh maupun salihah kelak, apakah mungkin? Apakah takkan terjadi gap di antara keduanya? Apakah akan memudahkan langkah sang nahkoda untuk melajukan bahteranya di lautan luas? Sementara sang pendamping tak bisa melakukan apapun selain menuruti semua kemauan sang nahkoda. Atau sebaliknya, nahkoda tanpa ilmu yang hanya mengikuti arahan dari anak buah. Mengikuti tanpa memahami ilmunya. Mengikuti hanya karena merasa bodoh, kurang ilmu sehingga berlaku seperti robot. Atau memimpin tetapi tanpa landasan ilmu. Bisa dibayangkan betapa kacaunya ….

“Kan kita semua bisa belajar?”

“Kalo jodohnya bertemu dengan yang ‘belum’ mumpuni keislamannya, masa iya harus ditolak?”

“Kami sudah menikah beberapa tahun lamanya, apakah sekarang harus bercerai?”

Ya. Semua orang bisa belajar. Semua orang boleh mengatakan jika sudah jodoh haruskah ditolak? Sementara “konon” bukti cinta sejati itu adalah ketika kita bisa menerima pasangan apa adanya. Namun, bukan pula menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah baru. Membuang begitu saja yang sudah terjalin sementara kesempatan memperbaiki masih ada.

Hanya saja, faktanya, kehidupan pernikahan itu tak semudah itu, DLZers. Mendidik anak-anak agar kelak menjadi generasi rabbani yang tangguh takkan terbentuk dari orang tua yang minimalis soal ilmu agama. Menciptakan hubungan suami istri yang harmonis juga tak mudah. Berapa banyak rumah tangga yang karam akibat ketidaksesuaian visi dan misi antara suami istri dalam mengarungi biduk rumahtangga? Berapa banyak anak yang mengalami kebingungan jatidiri kala mendapati kedua orang tuanya tidak kompak dalam menjalankan perannya?

Solusinya bagaimana?

Bagi para pemuda dan pemudi yang masih single-lillah, masa menjomblomu inilah “saat emasmu”. Segera hadirilah majelis ilmu. Baca buku-buku sejarah teladan kita Rasulullah Muhammad SAW, para sahabat, sahabiyah, dan orang-orang beriman. Pelajari Islam betul-betul. Yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Persiapkan diri memantaskan diri menjemput si dia yang insya Allah saleh atau salihah.

Bagi para suami dan istri yang telah “terlanjur” menikah. Kejarlah ketertinggalanmu sedari sekarang. Merasa kepayahan mengeluarkan energi ekstra? Tak mengapa. Daripada langkah kita terus terseok-seok di dunia sementara pasangan lain berlari. Lebih baik lelah di dunia karena mengejar ketertinggalan kita. Lebih baik bekerja keras di dunia agar baiti jannati ternikmati tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Ajak pasangan untuk meng-install ulang tujuan, visi, dan misi dari biduk rumahtangga yang selama ini kurang tepat dalam menentukan arah dan hasil akhir.

Takkan ada kata terlambat selama nyawa masih dikandung badan. Takkan sia-sia semua perjuangan kita, selama diniatkan karena-Nya.

Wallahu alam bishawab.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar:

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “Menggenapkan Dien Nyatanya Timpang

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: