Tuesday, 22 September, 2020

Daily Literacy zone

MENYAMBUTMU DENGAN INDAH


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Apa reaksi kita ketika mendengar kabar bahwa ada salah satu kerabat, tetangga atau bahkan orang terdekat yang meninggal? Tentunya akan merasa kaget dan bersedih, bukan? Kita akan berduka, meratapi kepergian mereka dalam hati dan tangis. Terpekur sejenak. Mengenang, bernostalgia. Mengingat momen-momen kebersamaan di masa lalu bersama almarhum, almarhumah. Melihat kepergian seseorang tersebut seolah mimpi.

Setiap kabar kematian, seringkali membuat kita sejenak terhenyak. Sadar bahwa mungkin besok atau lusa bisa jadi adalah giliran kita selanjutnya. Melepaskan semua yang dipunyai. Tanpa kecuali. Tanpa pernah bisa menawar apalagi menangguhkan. Sebab bukankah malaikat maut adalah salah satu tentaranya Allah SWT yang tak pernah membantah perintah-Nya untuk melaksanakan tugas mencabut nyawa seorang anak manusia?

Kematian. Bagi kebanyakan kita merupakan suatu hal menakutkan. Bahkan kalau bisa, ingin rasanya menghindari kedatangan maut. Bagaimana tidak menakutkan? Meninggalkan semua yang kita cintai untuk kemudian terkurung dalam liang berukuran 0,8 x 1,8 meter. Sendirian, gelap, sepi, dingin. Belum lagi kalau nanti datang malaikat Munkar dan Nakir yang akan menanyakan dan memeriksa amalan kita. Apakah mereka akan datang dengan sebagus-bagus rupa ataukah seburuk-buruknya penampilan? Apakah tempat yang kita diami saat itu berupa tempat yang lapang dan menyenangkan, ataukah sempit dan mencekam?

Mari kita simak cerita berikut. Di salah sudut kota Madinah. Di masa silam, kala cahaya Islam telah menerangi Makkah, Madinah, dan wilayah sekitarnya. Tepatnya tahun ke-11 Hijriah. Di suatu hari, naluri Fatimah Az Zahra radhiyallahu anha mengatakan bahwa tak lama lagi dirinya akan menyusul sang ayahanda menemui Rabbnya. Wanita mulia tersebut mengingat kembali saat-saat terakhir Rasulullah SAW tatkala membisikkan sebuah janji dari Allah yang membuatnya tersenyum bahagia. Sesaat setelah ia menangis ketika melihat betapa payahnya sang ayahanda menghadapi sakaratul maut. Sang manusia mulia menolak malaikat Jibril mencabut nyawanya dengan segala kemudahan yang didapatnya sebagai Rasul-Nya. Sang manusia agung memilih cara kematian yang sama seperti umatnya. Hingga terasa oleh beliau betapa beratnya sakaratul maut. Tak ayal penderitaannya itu menghadirkan iba di hati ahlul bait yang menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan beliau.

Kembali lagi pada Fatimah Az Zahra yang terus merasakan kesedihan sepeninggal sang ayahanda tercinta sehingga ia pun jatuh sakit. Beberapa saat sebelum wafat, dengan sisa tenaga yang ada putri yang paling mirip dengan Rasulullah SAW itu berupaya mempersiapkannya. Ia pergi mandi dengan sebaik-baiknya mandi, lalu mengenakan pakaian terbaru yang dimilikinya.

Setelah itu Fatimah memerintahkan anak-anak dan budaknya untuk meletakkan ranjangnya di tengah rumah dan menghadap ke arah kiblat. Lalu berpesan untuk terakhir kalinya,

“Wahai budakku, nyawaku akan dicabut hari ini. Aku telah usai mandi dan jangan ada seorang pun membuka kain kafanku.”

Fatimah Az Zahra wafat pada malam Selasa, 3 Ramadan 11 H. Ada riwayat yang mengatakan ia wafat enam bulan setelah Rasulullah SAW mangkat. Meninggalkan kenangan terindah bagi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu beserta putra-putri mereka. Pun bagi seluruh kaum muslimin kala itu.

DLZers, bukankah wanita agung ini telah mempersiapkan sebaik-baiknya penyambutan saat menyadari bahwa ia akan segera bertemu dengan Rabbnya? Tak ingin ia orang lain melihat auratnya, sehingga dengan sisa tenaga yang ada tetap berupaya menjaga auratnya tetap tertutupi dari pandangan manusia sekalipun dari suami dan anak-anaknya.

Bisakah kita kelak meneladaninya? Menyambut kematian dengan rasa rindu dan bahagia karena akan menjumpai Sang Kekasih dan kedua orang tuanya. Mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Bukan dengan rasa takut ataupun berat meninggalkan dunia beserta semua yang kita sayangi dan segala kekhawatiran lainnya. Menyambut kematian seperti halnya ketika hati kita berbunga-bunga menghampiri kekasih hati yang datang hendak menghampiri, untuk kemudian membawa kita bersamanya.

Menyambutmu dengan indah, wahai kematian. Menjawab sapa salammu malaikat maut. Menyambut kedatanganmu wahai Munkar dan Nakir tanpa rasa takut ataupun khawatir. Untuk menuju-Nya. Sang Pemilik nyawa manusia ….

***

Gambar: Canva

Editor: DLZ’s crew

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “MENYAMBUTMU DENGAN INDAH

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: