Wednesday, 15 July, 2020

Daily Literacy zone

Merugi di Ramadan


Merugi di Ramadan

Setiap menjelang Ramadan, sebagian besar emak-emak pasti mulai sibuk mempersiapkan keperluan saum. Persiapan lebih ke memenuhi isi perut sebenarnya. Makan sahur perdana dengan menu-menu enak. Munggahan istilahnya. Di mana kehadiran seluruh anggota keluarga sangat diharapkan. Masak besar sejak sehari sebelumnya.

Lalu saat saum dimulai dan berlangsung, emak-emak pula yang setiap saat memikirkan menu apa yang cocok untuk berbuka dan sahur besoknya. Apalagi kalau rekues anak dan suami berbeda-beda dengan keuangan terbatas yang seringkali malah jadi melampaui batas. Ingin berhemat dengan berpuasa, apa daya dana yang terpakai malah lebih besar pasak daripada tiang.

Saat menjelang lebaran, kembali emak-emak dipusingkan dengan keperluan baju, sepatu baru anak, dan aksesoris lainnya. Bersih-bersih rumah lebih ekstra. Cat rumah dengan warna baru biar terlihat kinclong. Menyediakan kue-kue dan menu istimewa pendamping ketupat. Belum lagi menyediakan amplop berisi uang ala kadarnya untuk dibagikan kepada anak, ponakan, cucu, dan sebagainya. Hmm ….

Baru berhenti sesaat dari kesibukan tersebut setelah lepas dari Ramadan dan sepekan setelah Syawal. Merasakan shaum Ramadan hanya sibuk memikirkan isi perut dan tampilan saat lebaran. Lalu apa kabar ruhiyah kita?

Meski kita selaku para emak memang memiliki andil utama menyediakan segala keperluan makan dan minum bagi yang berpuasa adalah ladang amal, tetapi apakah benar terjiwai semangat dan keberkahan Ramadan itu sendiri? Apakah benar tak ada rasa iri saat melihat kaum pria bisa dengan tenangnya i’tikaf di masjid sementara kita tidak? Apakah bisa kita mengkhatamkan bacaan Al Quran dengan khusyuk tanpa dikejar-kejar kewajiban memasak untuk buka dan sahur?

Sementara suasana Ramadan seringkali membuat kebanyakan kita menjadi “mager”. Menyesuaikan diri dengan jadwal tidur dan makan yang berbeda dari biasanya. Bukanlah hal mudah bagi yang tak terbiasa. Badan terasa lebih lemas dari hari biasa dan rasa ingin beristirahat lebih lama. Apalagi dengan anjuran diam di rumah. Makin magerlah kita. Sementara setelah berbuka pun, mata sudah terasa berat kadang ada yang salat Tarawihnya terlewat.

Kenapa kita lebih sering merasa biasa-biasa saja saat Ramadan dan setelah Ramadan berlalu? Mengapa tiada perubahan sedikit pun dari sebelum Ramadan? Mungkin itu semua karena kita tidak memiliki ilmu tentang Ramadan itu sendiri, sehingga yang dirasakan hanya lelah dan keuangan yang tiba-tiba menipis pasca lebaran. Kita lebih memikirkan menyiapkan hidangan pengisi perut terbaik tetapi lupa mempersembahkan amalan dan ibadah yang terbaik di hadapan Allah SWT.

Maka sungguh merugi sebab Ramadan hanya datang sekali setahun. Sungguh merugi Ramadan berlalu begitu saja padahal banyak keberkahan dan pahala berlipat ganda pada setiap ibadah yang dilakukan pada bulan istimewa itu. Belum tentu akan ada Ramadan lagi tahun berikutnya atau mungkin kita yang terlebih dahulu meninggalkan dunia ini sebelum sempat bertemu dengam Ramadan selanjutnya.

Ada satu nasyid lawas yang dahulu saya temukan. Persis setelah beberapa hari setelah Ramadan berlalu. Saat mendengarnya, entah mengapa hati mendadak sakit dan air mata menetes begitu saja. Sungguh Ramadan telah berlalu dan tiada yang tersisa setelahnya.

Tertatih aku/ mengejar bulan, mengais sisa-sisa Ramadan/ Tertunduk, tersungkur di keheningan …. “

Maka, sesaat lagi Ramadan akan tiba. Marilah kita selama sebulan, banyak membuat amalan-amalan saleh. Bagi para emak, cukuplah menyiapkan untuk berbuka dan sahur dengan hidangan yang sederhana, tak perlu bermewah-mewah. Mari kita didik generasi penerus dengan kesederhanaan dan lebih banyak lagi bersyukur. Teladanilah Rasulullah SAW dan para sahabat yang tak pernah kenyang saat di dunia. Bukan karena tak mau berupaya, tetapi lebih senang mendahulukan memberi mereka-mereka yang lebih membutuhkan dan lebih kelaparan.

Tahan sedikit rasa kantuk kita. Tak ada salahnya mengurangi sedikit saja jatah tidur. Perbanyak tilawah dan amalan-amalan lainnya. Tokh hanya setahun sekali Ramadan datang. Takkan rugi mengurangi jam tidur barang sejam dua jam. Bukankah Rasulullah dan para sahabat juga sedikit tidur sepanjang hidupnya.

Wallahu alam bishawab.

***

Sumber gambar : Quote Creator

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “Merugi di Ramadan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: