Tuesday, 14 July, 2020

Daily Literacy zone

Mudik Oh Mudik


Mudik Oh Mudik

Malam kian kelam. Heningnya mampu melenakan semua makhluk-Nya tak terkecuali Ujang. Lelaki berusia 35 tahun 4 bulan 3 minggu 5 jam 5 menit itu sudah terbuai dalam mimpinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Semua sudah tertidur. Cucu, istrinya tidur seraya memeluk si bungsu yang baru berusia 6 bulan. Lalu si kakak yang baru menginjak usia 5 tahun memilih tidur sambil memeluk kaki emaknya. Hanya suara dengkur halus susul menyusul memecah keheningan malam dalam kamar kontrakan berukuran 3 x 4 meter tersebut. Pada satu kasur yang hanya dihamparkan di atas lantai, dengan seprai bermotif batik berwarna coklat usang.

Tok! Tok! Tok!

“Pak Ujang!” Terdengar suara panggilan dari luar mengetuk pintu kontrakan tipis terbuat dari kayu triplek yang mulai merapuh dimakan cuaca.

Tersentak bangun dan sedikit lemas Ujang berdiri, sambil mengelap iler di sudut bibirnya dengan pinggiran baju pembungkus lengannya yang kurus. Rasa kantuk yang menderanya membuat ia sedikit mengeluh sebelum menyeret langkah kaki yang berat menghampiri pintu rumah.

“Ya, Mang. Ada apa?” Ujang langsung bertanya sebelum sang tamu sempat mengucapkan salam.

“Assalamualaikum, Pak Ujang! Hh hh hh. Maaf mengganggu malam-malam. Ada berita penting yang akan kami sampaikan.” Mang Udjo, hansip RW sekitar masih berupaya mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

“Waalaikumsalam. Iya, ada apa, Mang?” Ujang bersungut-sungut.

Ujang menguap lebar sambil mengucek-ucek matanya. Menanti Mang Udjo yang terlihat payah mengatur napasnya. Entah apa yang membuat hansip bertubuh gempal dan berkulit hitam itu sehingga harus berlari-lari ke rumahnya.

“Sekarang disuruh ke rumah pak RW. Sudah sejak setengah jam lalu beliau memberikan pengumuman lewat masjid. Seluruh warga sudah berkumpul. Tinggal Pak Ujang dan Pak Saidi yang belum datang. Mau ditelepon, tapi katanya nggak punya henpon, yah?”

“Duh, Mang! Jam berapa ini? Waktunya tidur, atuh! Memang nggak bisa besok lagi gitu? Tunduh(ngantuk), yeuh. Tunduh!” keluh Ujang dengan dialek Sundanya yang kental. Maklum, turunan Garut asli.

“Eh, buruan! Nanti kehabisan! Udah ya, saya mau ke rumah Pak Saidi. Assalamualaikum!”

Mang Udjo tanpa menunggu jawaban segera berlalu dan dalam sekejap menghilang di balik gang dekat rumah kontrakan Ujang. Rumah Pak Saidi kebetulan terletak persis di belakang rumah Ujang. Ujang terperangah. Kantuknya mendadak hilang. Ekor matanya masih menatap gang tempat Mang Udjo menghilang barusan.

Apa tadi kata Mang Udjo? Nanti kehabisan? Memang ada apa? Apa yang bakal habis? Ujang bergegas keluar rumah dan mengunci pintu rumahnya. Ia merasa tak perlu membangunkan Cucu untuk memberitahu bahwa dia akan pergi ke rumah pak RT. Tak tega membangunkan istrinya setelah tadi selepas magrib sibuk menenangkan si sulung yang ngambek karena mainan yang diinginkannya belum jua terbeli. Padahal Roni, si sulung, hanya meminta dibelikan pistol-pistolan plastik yang bisa mengeluarkan gelembung sabun.

Ah, jangankan membelikan mainan, untuk makan esok saja Ujang tak tahu harus mencari kemana. Pekerjaannya sebagai buruh bangunan serabutan tak banyak menghasilkan uang. Terakhir ia masih bekerja di proyek borongan bangunan milik Pak Hasan. Tetapi karena ada peraturan lockdown, pekerjaan terpaksa dihentikan karena pak Hasan memilih pulang dan menghentikan proyek kerja untuk sementara waktu. Upahnya bekerja selama seminggu memang sudah dibayarkan, tetapi hanya bertahan untuk beberapa hari saja. Tepat sore tadi, uang di dompetnya hanya tersisa dua puluh ribu rupiah.

Ujang mengucek dan meremas rambutnya putus asa. Hari ini sudah hari ke-13 puasa di bulan Ramadan. Lebaran sebentar lagi. Di saat orang lain sibuk mempersiapkan lebaran dengan membeli baju baru yang mungkin takkan bisa dipakai karena ada himbauan perpanjangan lockdown, Ujang tak tahu harus bagaimana mendapatkan uang untuk makan sehari-hari.

Di saat ibu-ibu tetangga sudah mulai sibuk menyiapkan kue-kue lebaran, Ujang sibuk mencari cara bagaimana agar anak dan istrinya tak hanya sekadar minum air putih dan nasi bertabur garam setiap harinya. Si bungsu masih menyusui, sementara Cucu tak mendapat asupan gizi yang cukup agar Asinya berkualitas. Ah! Ujang mengeraskan rahangnya mengingat itu semua.

Lima meter dari depan halaman rumah pak RW, Ujang melihat kerumunan warga. Mereka terlihat berbaris rapi yang berujung pada sebuah meja tempat Pak RW dan Pak RT duduk memberikan sebuah kertas. Setelah menerima kertas tersebut, si penerima diberi bingkisan berukuran besar dalam kresek hitam. Lalu diberi amplop putih cukup tebal.

“Jang! Ujang! Mrene o(sini)!” Terlihat Paijo, teman sesama buruh bangunan yang berbaris di antrean paling akhir memanggil dan melambaikan tangannya.

“Ada apa ini, Kang?” Ujang menghampiri dan ikut berbaris.

“Ada bantuan subsidi langsung dari pemerintah. Lockdown kan diperpanjang, ada larangan mudik juga. kan. Jadi biar warga tetap anteng diam di rumah, dari kelurahan dibagi sembako dan uang dua juta perminggu untuk keluarga yang kehilangan penghasilan utama seperti kita-kita ini. Ada pembagian kain sarung dan kue lebaran juga.” Paijo bercerita penuh semangat.

“Serius, Kang?” Ujang terbelalak mendengarnya. Serasa mimpi.

“Ya serius, Jang. Negara kita kan gemah ripah loh jinawi. Subur makmur. Zamrud di khatulistiwa. Masa kalah sama negara Arab Saudi yang tanahnya gersang tapi bisa mencukupi kebutuhan seluruh warganya saat lockdown? Sekarang di sana tingkat infeksi virus Corona sudah 0% kemarin. Indonesia juga pasti bisa.” Pak Kasman, yang kerja sebagai pegawai travel umroh tapi biro travelnya bangkrut sejak sebulan lalu, ikut berkomentar. Dia berbaris tepat di depan Paijo.

Oh, gitu. Jadi sekarang bantuan nggak cuma untuk satu dua orang saja per RW? Jumlah uang subsidinya juga yang asalnya 500 ribu per bulan naik jadi 2 juta per minggu? Ditambah sembako, parcel lebaran pula. Tak mudik pun tak apa-apa kalau begini. Daripada sudah nggak mudik, kelaparan di perantauan. Bisa kirim sedikit uang untuk orangtua di kampung sekadar menambah untuk mencukupi kebutuhan lebaran. Ujang membatin dalam hati dan tersenyum senang. Terbayang wajah Roni yang tertawa riang jika ia jadi dibelikan mainan yang diinginkannya.

Berbaris dan menunggu antrean pembagian sembako dan uang 2 juta tak terasa menjemukan bagi Ujang. Sambil menunggu hingga tiba gilirannya, ia sibuk bersenda gurau bersama Paijo. Serasa semua beban berkilo-kilo yang beberapa menit lalu dirasakannya, menguap begitu saja dari pundaknya. Berganti dengan keceriaan dan ucapan penuh rasa syukur.

Tepat pukul 12 malam, tiba juga gilirannya. Dengan penuh sukacita diterimanya bungkusan berisi sembako dan parcel lebaran yang diberikan. Tak lupa dimasukkannya amplop berisi uang ke dalam saku celananya. Dengan langkah ringan Ujang menuju kembali ke rumahnya.

Malam makin dingin. Jalanan dan gang-gang sempit terlihat basah dan becek, sisa hujan beberapa jam lalu. Ujang berdendang riang. Terbayang wajah orangtua dan mertua tercinta. Meski tak mudik, kiriman sedikit uang semoga bisa mengobati kerinduan dan mewakili kegembiraan berlebaran ….

Bugh! Ujang gelagapan saat sesuatu yang keras menghantam wajahnya tanpa ampun. Dilihatnya tumit kaki Roni baru saja menghantam wajahnya. Rupanya si sulung tidur memutar dengan posisi kedua tungkai kaki sudah berada di antara punggung ibunya dan wajah bapaknya. Entah bagaimana bisa begitu.

Ujang pun bangun dan terduduk. Ia sibuk mengusap-usap hidung peseknya yang sedikit ngilu. Sesaat kemudian dia tersadar dan teringat sesuatu.

Bukankah tadi dia baru saja menerima bingkisan dan uang dari rumah Pak RW? Mana dua bingkisan dalam kresek hitam besar tadi? Mana amplop berisi uang 2 juta? Kemana barang-barang itu pergi? Kemana?

Ujang sibuk memeriksa setiap sudut kontrakannya dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya karena ukurannya hanya 3 x 4 meter. Lemas lunglai seluruh persendiannya tatkala tak jua ditemukannya barang dan uang tersebut. Luruh ia, terduduk lemas tak bertenaga.

Punah sudah. Sirna harapannya untuk mengirim sejumlah uang untuk orangtuanya di kampung seperti tahun-tahun sebelumnya ketika ia dan keluarga kecilnya rutin mudik ke Garut. Meski tak membawa banyak oleh-oleh tetapi tradisi mudik setiap tahunnya menjadi agenda wajib bagi diri dan keluarganya.

Ujang melirik sekilas pada jam weker tua di atas bufet yang tak kalah tuanya. Pukul 11 malam. Frustasi dia. Putus asa melanda. Ternyata yang tadi itu cuma bunga mimpi belaka ….

***

Sumber gambar: Canva

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “Mudik Oh Mudik

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: