Monday, 21 September, 2020

Daily Literacy zone

Munggahan Tak Terlupakan (Cukup Sekali Saja)


Munggahan Tak Terlupakan (Cukup Sekali Saja)

“Bu, kapan sekolah libur?” Demikian pertanyaan yang di tahun-tahun lalu, selalu dilontarkan beberapa orang tua murid di sekolah saya, biasanya seminggu menjelang Ramadan.

Bila ditanya alasannya, semua akan memberi jawaban yang sama, yaitu karena mereka akan melaksanakan “munggahan”. Ada yang berencana mudik ke orang tua. Ada juga yang akan mempersiapkan aneka makanan. Tak aneh bila stasiun dan terminal menjadi lebih ramai dari biasanya. Begitu juga dengan pasar dan supermarket. Disesaki pengunjung. Mereka memborong daging ayam, daging sapi, telur, dan bahan-bahan yang lain.

Bila dianalisa secara logika, kondisi itu sangat kontradiktif dengan keberadaan Ramadan. Mengapa? Bukankah di bulan Ramadan, kita dilatih untuk menahan haus dan lapar? Namun mengapa untuk menyambut kedatangan Ramadan, kita justru memasak yang berlebihan bahkan ada yang cenderung memaksakan diri?


Munggahan adalah tradisi umat Islam terutama suku Sunda untuk menyambut datangnya Ramadan. Di daerah lain, mungkin mempunyai tradisi yang identik namun dengan sebutan yang berbeda. Tradisi ini, biasanya dilaksanakan beberapa hari di akhir bulan Sya’ban hingga beberapa hari di awal bulan Ramadan.

Munggahan berasal dari bahasa Sunda, unggah, yang berarti naek ka tempat nu leuwih luhur atau naik ke tempat yang lebih tinggi (Danadibrata, 2006:727). Maksudnya, tradisi tersebut sebagai penanda bahwa kita akan memasuki bulan yang tinggi derajatnya. Bulan yang suci. Bulan yang penuh ampunan. Bulan yang ditunggu seluruh umat muslim. Di bulan tersebut, diharapkan kian meningkatkan kualitas diri, baik secara lahir maupun batin.

Silaturahim, itulah inti dari munggahan. Hal ini dapat dilakukan di rumah, bisa juga di tempat rekreasi, kebun, dan sebagainya. Kalaupun ada kegiatan makan-makan yang nampak konsumtif, sesungguhnya hal itu hanya sebagai penyemarak saat acara silaturahim antar anggota keluarga. Itu sebabnya, menunya disesuaikan dengan kegemaran keluarga. Bisa serba daging, aneka ayam atau beragam pepes. Boleh juga ala botram sederhana dengan nasi liwet lengkap beserta ikan asin, sambal pedas, lalapan dan jengkol.

Acara silaturahim dilanjutkan dengan saling meminta maaf kemudian berdoa bersama agar dapat melaksanakan ibadah Ramadan dengan sempurna. Ada juga yang berziarah ke makam orang tua dan sesepuh.

Beberapa keluarga bahkan mempunyai kebiasaan untuk beberesih badan maupun tempat tinggal dan lingkungannya. Yang menyimbolkan penyuciam diri dari hal-hal buruk kepada sesama dan sekitarnya, selama setahun terakhir.

Akibat adanya pandemi Covid 19 yang mengharuskan kita tinggal di rumah, apalagi dengan adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah, suasana Munggahan tahun ini menjadi sangat berbeda. Tidak ada pertanyaan orang tua yang ingin agar sekolah segera libur, karena anak-anaknya sudah belajar di rumah sejak sebulan lalu. Bahkan kini mereka bertanya, kapan masuk sekolah?

Tidak ada antrean ibu-ibu belanja bahan makanan di pasar maupun di supermarket. Jangankan mengantre, keluar rumah saja, sebaiknya tidak dilakukan. Hanya hal mendesak yang membolehkannya. Sementara, belanja daging, telur, dan lain-lain, bukanlah hal yang mendesak.

Tidak ada lagi pertemuan dengan keluarga besar apalagi yang dari luar kota, terutama dari red zone. Tamu dari luar kota harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Lah, bagaimana bisa silaturahim?

Tidak ada ziarah kubur karena semua ibadah harus dilakukan di rumah.
Tidak ada beberesih ke pemandian atau ke pantai, karena semua tempat rekreasi ditutup.

Haruskah kita bersedih dengan semua kondisi tersebut? Tidak perlu. Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk menyambut Ramadan, bersama keluarga inti. Misalnya:

  • Bersama-sama beberesih rumah. Semprot semua bagian rumah dengan disinfektan
  • Bergotong royong membersihkan halaman dan lingkungan sambil berjemur.
  • Saling semprot air, seakan sedang membersihkan diri. Pasti anak-anak akan sangat senang. Sekaligus berjemur dan menyiram tanaman.
  • Nge-botram di teras rumah dengan makanan kegemaran sambil berjemur.
  • Saling bermaafan dan berdoa bersama.
  • Bersedekah masker atau makanan kepada siapa saja yang lewat di depan rumah.
  • Memanfaatkan teknologi untuk silaturahim secara virtual.

Mari kita buat munggahan kali ini menjadi munggahan yang tak terlupakan. Semoga tak terulang lagi di tahun depan. Cukup tahun ini saja. Aamiin yaa robball allaamiin.

***

*Cileunyi Bandung, 23 April 2020

Penulis : Neni Utami Adiningsih

Editor : DLZ’s crew

Sumber gam

dailyliteracyzone/neniutamiadiningsih

2 comments on “Munggahan Tak Terlupakan (Cukup Sekali Saja)

Anonim

Barakallah

Reply
DLZ Admin

Aamiin yra.

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: