Tuesday, 14 July, 2020

Daily Literacy zone

NAMAKU CORONA


(Penulis: Meyda Sultan Darusman)

Aku adalah Corona. Cantik dan keren nama yang kumiliki. Aku juga salah satu makhluk ciptaan Tuhan. Tapi aku memiliki tugas yang tak biasa. Tugasku menguji umat manusia. Bukan hanya pada satu kaum, bukan banya pada satu bangsa, bukan hanya pada satu agama. Tapi pada seluruh dunia.

Aku Corona. Covid-19 orang memanggilku. Rasanya bangga dapat menjadi sesuatu yang begitu menakutkan. Lihatlah yang sudah aku sebabkan! Selain kematian, adakah musibah yang lebih menyeramkan daripada kehadiranku? Semua tergantung anda.

Aku Corona. Dari Wuhan aku mulai beraksi. Banyak orang mengaitkan tempat asalku dengan banyak hal. Salah satunya tentang pembantaian satu umat beragama di sana. Apakah ada yang tahu jawaban pastinya? Tentu hanya aku dan Tuhan yang tahu. Tugas kalian hanya menelaah diri kalian, bukan menelaah musibah yang diriku ciptakan, atau alasan sehingga aku dapat tercipta. Tugas kalian adalah waspada. Mawas diri, wahai saudara.

Aku Covid-19, menyerang tanpa pilih kasih. Aku jalankan tugas dari Tuhan yang Maha Kuasa. Jangan kau cerca aku. Justru kalian seharusnya berterima kasih padaku. Berkat diriku, sekarang kalian tahu apa arti dari makhluk lemah tak berdaya. Sejak hadirku kalian dapat lebih menghargai waktu dan kebebasan. Yang selama ini mungkin telah kalian isi dengan hal yang sia-sia. Segala hal yang berbau dunia.

Aku Covid-19. Sejak aku tercipta, berapa banyak nyawa telah melayang? Berapa kerugian bidang ekonomi yang aku akibatkan? Berapa banyak perubahan gaya hidup yang kalian lakukan? Tak terhingga, dan jauh dari apa yang kalian pernah pikirkan, bukan?

Aku Corona alias si Covid-19. Namaku terdengar sangar. Seperti nama agen mata-mata di film layar lebar. Aku suka sekali menyandang namaku. Terima kasih pada yang menamaiku. Layaknya seorang agen pemerintah yang sedang bertugas, begitu juga aku yang mendapat tugas dari Tuhan. Aku pun tak sabar untuk menyelesaikan tugasku.

Aku Corona alias si Covid-19. Hanya mereka manusia-manusia beriman dan bertakwa yang menyambut kehadiranku dengan jeritan kegirangan.

“Yes! Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah atas cobaan yang Kau berikan. Sesungguhnya tiada daya dan upayaku tanpa pertolongan-Mu!” Begitu teriak riang seorang bapak yang baru saja menguburkan anaknya yang mati karena diriku. Luar biasa!

Mendengar itu, aku si Covid-19 mulai merasa marah. Aku benci pada diriku yang masih tak mampu menakuti orang-orang dengan tingkat keimanan yang luar biasa itu. Aku muak mendengar kata-kata penuh semangat dan inspirasi yang keluar dari mulut para penyabar itu. Rasanya ingin aku tembus dinding pertahanan mereka tapi aku tak mampu. Kepasrahan dan ketawakalan mereka menyilaukan mataku. Aku tak sanggup lagi berada di negeri bernama Indonesia ini, Tuhan!

Penduduk negerinya terlalu kuat, mereka begitu luar biasa kompak dan solid dalam memberantas diriku. Meski awalnya aku sempat bahagia saat kehadiranku tak diakui di sini. Kupikir aku dapat melancarkan serangan secara diam-diam. Tapi tetap aku tak mampu. Sekian lama hadir tanpa diketahui tetap aku tak mampu menimbulkan bencana besar. Justru setelah aku diketahui dan diakui ada di negeri ini, malahan aku lebih mudah menyerang.

Beberapa orang dengan mudah dapat kuserang sebab dia terlalu angkuh tak mau mengikut imbauan pemerintah untuk bermasker. Beberapa mudah kuserang akibat dia tertekan batin menghadapi perubahan hidup yang dijalani. Lain hal mereka yang kuserang sebab mereka adalah orang baik yang memang harus berpulang dikarenakan perbuatanku. Para dokter dan tenaga medis misalnya. Kepergian mereka adalah ujian bagi yang ditinggalkan. Maafkan aku, ya? Surga menanti kalian.

Pesanku, sabar, tabah, dan tawakallah. Sebab aku tak akan lama lagi berada di sini.
***

Sumber gambar: Canva

Editor: DLZ’s crew

dailyliteracyzone/meydasultandarusman

0 comments on “NAMAKU CORONA

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: