Saturday, 21 November, 2020

Daily Literacy zone

NERBITIN DI INDIE ATAU MAYOR?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Anda penulis yang ingin menerbitkan karya tetapi bingung harus menerbitkan di mana? Sebab seperti kata beberapa penulis terkenal zaman now negeri ini, era sekarang bukan lagi masanya selalu menerbitkan di mayor. Di indie, jika kita punya sistem marketing dan promosi yang keren, soal penjualan bukan lagi menjadi hal yang sulit. Idelisme sebagai penulis dari karya kita juga takkan terusik, sebab tak harus menyesuaikan dengan selera penerbit.

Contohnya Dee Lestari. Penulis yang semula merupakan salah satu pentolan grup trio RSD yang popular di era 90-an. Rupanya setelah tak lagi menelurkan album bersama kedua rekannya, Dee menekuni bidang kepenulisan. Penulis yang ketika melempar bukunya ke pasaran, tiba-tiba saja meledak dan menjadi best seller. Supernova. Seketika menjadi novel yang angka penjualannya fantastik.

Artikel menarik lainnya : Kenapa (Harus) Antologi?

Tetapi apakah benar begitu muncul, lantas buku Supernova mendadak meledak tanpa ada proses panjang di belakangnya? Well, faktanya novel tersebut berawal dari bentuk stensilan alias fotokopian yang dijilid lalu dijual murah di kampus oleh Dee saat dirinya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Bandung. Artinya, novel tersebut menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya diterbitkan dalam bentuk selayaknya buku novel dan meledak di pasaran.

3 Novel pertama yang fenomenal milik Dee Lestari diterbitkan oleh penerbit Truedee. Penerbit yang Dee buat sendiri sebelum beralih ke penerbit Bentang. Jadi tidak serta merta diterbitkan langsung booming.

Lalu ada Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Duo kakak beradik yang merupakan penggiat literasi bernapaskan Islami yang sejak tahun 1996-1998 menelurkan karya lewat majalah remaja muslim bernama “Annida”. Kelak calon-calon buku yang diangkat ke layar lebar merupakan cerbung-cerbung yang dahulunya menghiasi halaman majalah tersebut.

Contohnya, Ketika Mas Gagah Pergi, Serial Pingkan, Aisyah Putri, dan beberapa judul lainnya. Sejak majalah Annida menjadi majalah yang digemari, Asma Nadia lantas membuka penerbitan sendiri. Hingga kini penerbit Asma Nadia Publishing telah banyak menghasilkan buku-buku yang kualitasnya bisa diadu di dunia literasi Indonesia.

Lalu kita mau menerbitkan buku di mana? Indie atau mayor? Prospeknya lebih menjanjikan yang mana?

Peluang. Indie: naskah mudah di acc, tidak perlu jaminan mutu dari nama atau branding diri, modal sedikit, bisa menerbitkan buku minimal 10-50 eksemplar. Mayor: sulit ditembus, jaminan mutu nama penulis sangat berpengaruh, modal menerbitkan gratis, menerbitkan buku minimal 1000 eksemplar sekali cetak. Kadang ada penerbit yang mewajibkan penulis membeli bukunya sendiri sekian ratus eksemplar. Ratusan lho, ya.

Lama terbit. Indie: Paling cepat sekitar 3-5 bulan, paling lambat setahunan. Tidak usah khawatir atau sering-sering mengecek ke penerbit. Mayor: Menunggu terbit bisa 2-3 tahun, cek atau follow up ke penerbit atau editor per 6 bulan sekali.

Sistem pembayaran keuntungan. Indie: penulis membayar di muka untuk total biaya atau minimal beberapa persen dari total biaya untuk sejumlah buku terbit. Hasil penjualan atau keuntungan bisa ditentukan oleh penulis itu sendiri. Penerbit ada yang bantu marketing ada yang tidak. Semakin banyak buku yang laku terjual, makin banyak profit yang masuk ke kantong penulis.

Mayor: sistem profit bisa berupa royalti atau jual putus. Jika berupa royalti, ada yang dibayar 25% persen dulu, 50% atau tergantung kebijakan penerbit yang bersangkutan.Sisanya bisa dibayarkan bisa tidak. Tergantung penjualan buku bagus apa tidak. Jika sistem jual putus, profit akan langsung dibayarkan sekaligus dan besarannya juga tidak seberapa jika dibandingkan dengan sistem royalti. Tapi besarannya juga biasanya melihat tingkat kepopuleran penulis yang bersangkutan. Biasanya penulis melakukan jual putus saat sedang kepepet alias butuh uang segera. Jadi bisa dijual murah dari standar normalnya. Kabar buruknya, jika buku kita meledak di pasaran, kita tidak kebagian bonusnya, lho ya. Penulis yang menerbitkan buku di mayor, ada yang dituntut untuk ikut memasarkan ada yang tidak. Besaran profit untuk royalti tergantung berapa banyak buku yang laku di pasaran dan setelah dipotong pajak sana sini. Sst, pajak yang dikenakan jumlahnya cukup lumayan lho. Ingat kasus protesnya Tere Liye bebetapa waktu lalu? Jika buku tak laku dan diobral, maka royalti atau bonus yang belum diberikan dianggap hangus. Sebaliknya, jika buku laku di pasaran, penulis bisa kipas-kipas karena dapat bonus royalti per 6 bulan sekali.

Jangkauan pemasaran. Indie: terbatas. Jika ingin menjangkau masyarakat luas maka penulis harus giat mempromosikan dan memasarkan. Memiliki tim marketing khusus, lebih baik. Contoh: Dewa Eka Prayoga yang setiap kali melempar buku bisnisnya ke pasaran, selalu meledak dan best seller karena didukung oleh tim marketing yang solid. Mayor: jangkauan luas, di semua toko buku terkemuka. Penulis tidak perlu memiliki tim marketing khusus. Masyarakat mudah mengaksesnya terutama di daerah perkotaan dan yang melek digital.

Profit. Indie: penulis yang menentukan berapa profit yang bisa dihasilkan lewat usahanya mempromosikan dan memasarkan. Semakin giat memasarkan dan semakin banyak peminat maka pemasukan bisa melebihi pemasukan penulis di mayor. Mayor: pendapatan lebih sedikit, lama, tidak langsung dibayar 100%, terutama jika pemasaran buku memiliki prospek kurang bagus di masyarakat. Jika buku tidak laku, maka sisa profit bagi penulis tidak akan dibayarkan. Jika buku tidak laku di pasaran, akan ditarik kembali oleh penerbit, diretur oleh toko buku, atau buku dijual dengan sistem obral sangat murah dan harga yang jatuh. 

Gengsi. Indie: jika penjualan sepi, apalagi kualitas buku kurang bagus, sulit mendongkrak kepercayaan masyarakat terhadap kredibilitas dan kompetensi kita sebagai penulis maka sulit untuk bisa popular. Proses naskah diloloskan dan editing naskah lebih mudah, sehingga seringkali masyarakat ada yang meragukan kualitas isi buku. Kecuali jika penjualan meledak seperti J.K. Rowling. Mayor: laku nggak laku, masyarakat cenderung lebih mempercayai kredibilitas dan kompetensi kita sebagai penulis. Sebab stigma bahwa menerbitkan buku di mayor itu sulit masih berlaku di masyarakat hingga sekarang.

So? Mau menerbitkan buku di mana, DLZers?

***

Referensi : http://langitarbiter.co.id/kabar-baru. Diakses tanggal 10/3/2020.

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “NERBITIN DI INDIE ATAU MAYOR?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: