Wednesday, 25 November, 2020

Daily Literacy zone

Nostalgia Saat Lebaran


Nostalgia Saat Lebaran

Berbicara soal lebaran, sebenarnya banyak cerita yang bisa diambil, terutama jika menyoroti lebarannya salah satu profesi kesehatan yakni perawat. Beragam cerita berkesan, memutar kembali nostalgia ke masa lalu, saat penulis masih single menjalani tugas sebagai perawat.

Menjalani tugas pertama sebagai perawat yang bekerja di instansi kesehatan, tepatnya di sebuah rumah sakit daerah di tahun 2003. 17 tahun lalu! Wow, time flies so fast! Jadi bisa nebak kan berapa usia penulis? Hahaha.

Sayangnya di zaman itu masih jarang ponsel berkamera dan sangat mahal, sekitar 3 jutaan. Belum mampu terbeli karena gaji sebagai perawat honorer berkisar di bawah 300 ribu rupiah saja per bulan. Jadi tidak ada pendokumentasian betapa masih imut dan langsingnya penulis kala itu. Ehh? Melenceng dari tulisan awal, ya?

Intermezzo saja. Hihihi. Yuk, lanjut ke pokok pembicaraan semula.

Penulis masih ingat, saat lebaran pertama di tahun 2003. Kebetulan karena masih terhitung pegawai baru, kurang dari 6 bulan bekerja, maka tidak kebagian jatah libur lebaran. Libur lebaran diprioritaskan untuk kaperu dan perawat-perawat senior lainnya di struktural, terlebih yang sudah PNS. Jumlahnya juga hanya beberapa gelintir. Sisanya honorer semua. Jadi soal siapa yang berdinas saat lebaran tak jadi perdebatan yang terlalu berarti. Yang honorer manut saja. Dikasih libur alhamdulillah, nggak dikasih libur alias tetap berdinas, tak jadi soal. Masih banyak yang jomblo juga, kan. Daripada bengong di kosan, ya lebih baik kerja.

Wih, workoholic, dong? Pekerja keras, nih? Well, nggak sepenuhnya benar juga, sih. Sebab salah satu daya magnet kenapa para tenaga honorer bersedia dengan sukarela bertugas saat lebaran, itu karena ada bayaran ekstra di 2 hari libur lebaran. Yup! Bonus berupa uang! Untuk tambahan THR. Besarannya juga lumayan. Saat lebaran pertama dan kedua itu dapat uang 20-30 ribu untuk shift pagi, sore, dan malam per orang. Untuk ukuran tahun 2003, uang segitu itu terhitung lumayan. Bisa buat jajan seminggu. Dua hari kebagian dinas saja, sudah mengantongi uang sebanyak 40-60 ribu. Lumayan kan, buat nambah-nambah uang belanja atau uang makan harian. Gaji tak seberapa, dapat tambahan dari bonus, THR maupun insentif, pastinya menyenangkan, bukan? Minimal bisa membawa sesuatu sebagai buah tangan saat pulang menemui orang tua.

Tidak pulang saat lebaran, sebenarnya sudah menjadi risiko sejak memutuskan menjadi salah satu bagian dari nakes. Sumpah sebagai perawat saja dilakukan sejak tingkat satu saat kuliah. Jadi memang sudah mempersiapkan mental sejak lama. Meski ada terbersit rasa sedih, tetapi biasanya bagi para single, tak terlalu masalah. Orang tua juga lebih bisa mengerti, sebab begitu mendapat libur, barulah kami pulang berlebaran dengan orang tua dan sanak saudara. Yup! Tugas sebagai perawat tetap nomor satu. Suka tidak suka. Ikhlas tidak ikhlas. Dibikin suka dan ikhlas saja, supaya hati tetap bahagia.

Saat berdinas di hari lebaran, biasanya pasien juga tidak terlalu banyak. Alhamdulillah selama bertugas di rumah sakit tersebut penulis belum pernah mengalami situasi darurat yang membuat kru yang bertugas mesti melakukan observasi ketat pada pasien-pasien pengawasan. Yang terjadi justru perawat kebanjiran kue-kue atau penganan lebaran dari keluarga pasien. Alhamdulillah. Saat rehat sejenak, sambil menikmati cemilan tersebut. Kadang saking banyaknya, kami berbagi juga dengan teman perawat dari ruangan lain yang terdekat. Atau saling mengundang dan saling mengunjungi bergantian sambil bersalam-salaman lalu mencicipi kue-kue yang tersedia.

Pihak manajemen rumah sakit melalui kru dapur juga tak lupa membagikan ketupat dan opor ayam bagi semua perawat yang berdinas di hari lebaran. Perut kenyang, dapat uang, pasien sedikit … alasan apalagi yang kami perlukan sebagai alasan tidak merasa happy saat berdinas?

Sesekali pihak manajemen datang berkunjung. Keliling ruangan, berlebaran sambil memastikan kru yang berdinas di ruangan lengkap. Tak ada yang membolos atau tidak stand by di ruangan. Meski pasien sedikit dan kondisinya tenang. Saat supervisor datang, langsung mengabsen sambil mengisi isian untuk siapa saja yang mendapatkan bonus. Langsung dibayar saat itu juga.

Semangat? Pastinya. Siapa sih yang tidak semangat jika mendapat tambahan bayaran? Tidak munafik, bahwa saat bekerja berat, penuh tekanan, risiko besar tetapi gaji di bawah standar UMR dan tanpa bonus? Pasti yang sering terjadi adalah semua nakes akan berkeluh kesah, menggerutu. Merasa diperas tenaganya, terzalimi, dan sebagainya.

Memang bekerja sebagai nakes, lebih banyak ladang pahalanya jika dilakukan dengan ikhlas. Tetapi akan lebih menyenangkan lagi jika kesejahteraan juga terjamin. Sehingga kalaupun harus meninggalkan keluarga di saat lebaran misalnya, maka kami akan bekerja dengan perasaan tenang karena orang-orang di rumah tercukupi kebutuhannya, sehat, dan tidak kelaparan.

***

dailyliteracyzone/r

0 comments on “Nostalgia Saat Lebaran

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: