Tuesday, 14 July, 2020

Daily Literacy zone

Nulis Bikin Meringis?


Nulis Bikin Meringis?

“Kenapa saya tidak seperti orang lain yang begitu mudah menulis, ya, Teh?”

“Setiap kali mulai menulis, baru saja selesai beberapa kalimat, eh tiba-tiba malah jadi buntu. Apa yang salah, sih? Kenapa susah sekali menulis rasanya?”

“Teh, tunggu saya. Saya sudah nulis tapi baru sedikit. Bingung mau meneruskannya bagaimana.”

Rata-rata isi curhatan seperti itu ada yang diakhiri dengan emoticon wajah sedih, murung hingga yang banjir airmata. Hingga sepertinya terasa sekali betapa beban berat mereka saat menulis. Seolah hanya sanggup tergambarkan lewat gambar-gambar emoticon.

Waktu dikirimkannya curhatan-curhatan tersebut juga biasanya terjadi di saat injury time atau di saat-saat mepet deadline. Sementara jauh sebelum deadline, si empunya curhatan cenderung santai atau bahkan tak mau ambil pusing untuk memikirkannya. Mungkin karena masih jauh dari deadline.

Baik. Kita bahas kenapa hal-hal tersebut bisa terjadi. Jika Sobat termasuk salah satu yang pernah mengalami hal serupa. Siap untuk menyimak?

Manajemen waktu buruk. Dari sekian pengalaman mengedit naskah penulis lain, faktanya, memang sedikit sekali yang memiliki manajemen waktu baik. Dari ribuan peserta yang pernah terlibat proyek bersama, Teh Admin hanya menemukan kurang dari 20 orang saja yang konsisten mengirimkan naskah jauh sebelum deadline. Bayangkan, betapa sangat ekstrim perbandingannya secara hitungan kasar.

Terlepas dari apa kesibukan utama mereka, tetapi memang ada baiknya Sobat penulis mulai belajar memanajemen waktu dengan baik. Mana saat untuk menjalani profesi sebagai pekerja atau wiraswasta di luar profesi menulis, mana waktu untuk keluarga, dan mana waktu untuk menulis. Bagilah waktu untuk semua secara profesional dan proporsional. Jika merasa tidak sanggup, maka sebaiknya lepas salah satu profesi. Fokus itu lebih baik dan berkualitas.

Tidak jujur saat menulis.

” Eh, Teh Admin. Kami jujur saat menulis, lho! Tulisan ini semua adalah hasil karya kami sendiri, bukan menjiplak karya orang lain.”

Ow. Tunggu dulu, Sobat. Teh Admin bukan bermaksud  mengatakan Sobat berbohong saat menulis dalam arti menjiplak karya orang lain, lho. Maksudnya, Sobat menulis bukan tulus dari hati, tetapi karena ingin bikin buku supaya terlihat keren oleh orang lain. Biar bisa pamer sama teman-teman sesama menulis kalau kita produktif menulis dengan mengikuti banyak event.

 Jangan pernah berpikir menulis untuk mendapatkan ketenaran alias popularitas apalagi pemasukan jika sedari awal niatan menulis kita saja sudah tidak tulus murni karena ibadah. Sebab jika kita meniatkan untuk ibadah, berbagi manfaat dan kebaikan, maka biasanya saat mencari ide, takkan mengalami kesulitan.

Sekadar mengisi waktu luang dan tidak ditekuni sungguh-sungguh. Hampir sama dengan poin di atas. Menulis buat sebagian orang hanyalah sebagai hobi saja. Sekadar pengisi waktu luang, sekadar ikut-ikutan teman. Boleh tidak? Ya, boleh saja sebenarnya. Tetapi hal itu biasanya akan berimbas terhadap kualitas isi tulisan kita nantinya.

Iya, gitu, Teh? Oh, iya banget! Akan terasa beda antara orang yang menulis karena sekadar hobi atau mengisi waktu luang dengan orang yang memang menulis dengan sungguh-sungguh. Orang yang menulis asal setor naskah, maka tulisannya juga akan tampil asal jadi. Asal nyambung dengan tema event (menurutnya) padahal nggak nyambung sama sekali. Atau isi tulisan tidak memiliki ide utama. Plot ceritanya loncat-loncat dari satu bahasan ke bahasan lain. Isinya semua terkesan dipaksakan agar nyambung dengan tema.

Enggan sabar saat berproses. Penyakit penulis pemula zaman now adalah ingin cepat beres tanpa mau tahu proses pengerjaan menulis itu seperti apa. Sehingga ketika sudah menulis tetapi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya,mendadak jadi illfeel. Teh Admin banyak menemukan penulis yang mungkin bertujuan ingin terlihat “nyastra” tetapi saat dibaca hasilnya malah terbaca aneh. Menggunakan kata-kata yang tak lazim dan membuat kening berkerut saat membacanya.

Ada sebagian yang mengeluh kenapa tulisannya tidak sebagus orang lain, padahal kemunculan mereka di dunia literasi lebih dulu daripada si A atau si B. Tapi mendadak kesal luar biasa saat melihat para “junior” di dunia literasi lebih mampu dan berkembang dibanding mereka. Bisa jadi para “junior” tersebut rajin berlatih setiap saat, rajin membaca,, dan bersungguh-sungguh menjalani profesinya.

Malas latihan tapi ingin langsung menghasilkan karya yang spektakuler. Penulis sekaliber Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Seno Ajidarma dan sebagainya itu tidak lahir dari hasil instan sebulan dua bulan. Tetapi mereka berproses bertahun-tahun yang lalu. Sambil terus giat belajar dan belajar. Baik dari teori-teori kepenulisan, membaca, ataupun menyimak hasil karya para maestro nasional maupun internasional para pendahulu mereka.

Jangan berharap bisa mendulang rupiah atau bahkan dolar jika berproses saja kita tidak mau. Bukankah tak ada orang normal yang mau membelanjakan uangnya untuk membeli dan membaca sampah? Setiap pembeli pasti ingin mendapatkan benefit dari buku yang dibelinya dengan harga yang tidak murah.

Bukan passion. Bukannya menyehatkan malah bikin tertekan. Seharusnya kegiatan menulis itu seperti ketika kita bermain musik, menggambar, memasak, atau mengerjakan hal-hal lainnya yang disukai. Bila mengerjakan sesuatu dengan bahagia dan sukarela, maka akan membuat badan dan pikiran menjadi rileks. Sebaliknya bila menulis dengan diliputi ketegangan, yang ada penyakit segera berdatangan mendekat. Stres siap mengungkung kita dari berbagai arah. Nggak banget, kan?

Cukup banyak juga penulis yang sempat bergabung nulis bareng Teteh Admin tetapi hanya mampu bertahan di satu atau dua proyek nulis saja. Setelah itu vakum atau bahkan berhenti sama sekali karena merasa tidak menemukan kebahagiaan dan kesenangan saat menulis. Saat ditawari gabung di proyek nulis hanya meringis dan mengemukakan berbagai alasan, baik yang memang jujur hingga yang dibuat-buat. Intinya “menolak” untuk menulis kembali.

Nah, apakah ada uraian di atas yang menggambarkan kondisi kita saat ini? Jika, ya. Ubahlah mindset, visi dan misi kita tentang profesi menulis. Fokuslah! Jika ingin terus memperdalam dan berproses untuk menuju hal yang lebih baik esok hari. Tetapi jika menulis hanya membuat kita meringis, maka tinggalkan saja. Mungkin bukan passion kita.

***

editorialliterasi/rheailhamnurjanah

4 comments on “Nulis Bikin Meringis?

yuyunkho

Terima kasih, teh. Tulisannya memotivasi dan menginspirasi saya untuk terus maju dan sabar dalam berproses 👍 😍

Reply

Alhamdulillah. Ini reminder buat saya juga. Harus bisa istikamah. Semoga Allah SWT memberi kemudahan untuk kita ya, Mbak. Semangat! 💪😘

Reply

Wah..beberapa ada yang makjleb nih Kak…😅

Reply

😅Semangat! Semangat!

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: