Monday, 17 January, 2022

Daily Literacy Zone

NULIS NOVEL REMAJA RELIGI? WHY NOT?


Penulis: Rhea Ilham Nurjanah.

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers! Apa kabarmu hari ini? Sudahkah menulis?

Nulis apa? Apa saja boleh. Status di whatsapp, facebook, twitter, instagram, atau aplikasi lainnya yang bertebaran di dunia maya. Silakan pilih mana yang disukai.

Mau nulis di platform menulis online? Bisa banget! Saat ini platform-platform semacam Wattpad, KBM app, Good Novel, dan sebagainya banyak sekali peminatnya. Para penulis mulai dari yang usia SMP hingga lansia juga banyak berpartisipasi menulis di platform tersebut.

Salah satu genre yang masih minim peminatnya yaitu teenlit. Teenlit itu genre untuk segmen remaja dimulai dari usia 16 atau 17 tahun. Apalagi yang mixed dengan genre religi. Penulis beberapa kali berkesempatan melihat-lihat beberapa platform menulis dan menemukan sedikit sekali tulisan bergenre teenlit religi.

Sementara yang banyak sekali peminatnya yaitu genre romance. Terlebih genre romance yang memakai keterangan 21++ … nyaris di hampir semua platform, tema-tema seputar adegan esek-esek, perselingkuhan, CEO, diramu jadi satu. Menimbulkan satu magnet yang kuat bagi para pembaca untuk membacanya. Hingga tak heran memang kebanyakan cerita-cerita bermuatan seks, CEO, dan skandal selalu menempati rating-rating tertinggi.

Tak sedikit penulisnya yang “ternyata” masih berusia belasan tahun alias di bawah umur, tetapi begitu fasih menuliskan hal-hal berbau pornografi. Seolah-olah mereka sudah terbiasa melakukan hal-hal yang hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri. Pendidikan seks memang bukan lagi menjadi suatu hal yang tabu, namun bukan lantas mengumbar kisah seputar ranjang pun menjadi sesuatu yang bisa dikonsumsi dan diakses bebas.

Berbekal dari rasa keprihatinan inilah maka penulis mencoba menulis cerita faksi –gabungan antara fiksi dan non fiksi– bergenre teenlit religi sebagai upaya pribadi untuk menyajikan cerita yang lebih mendidik dan lebih realistis. Tidak banyak menjual mimpi dan memang berkisar hanya di kejadian sehari-hari yang nyata pernah dialami dan dirasakan.

Upaya ini memang mungkin masih jauh dari keidealan, apalagi idealisme yang seharusnya ditanamkan kepada generasi muda kita. Penulis bisa merasakan beratnya perjuangan untuk menarik pembaca agar mau melirik tulisan-tulisan bermuatan religi. Namun, hempaskanlah dulu pikiran dan anggapan bahwa menulis sesuatu yang bermanfaat itu akan minim apresiasi. Hal ini lebih baik daripada kita hanya jadi penonton. Melihat kebobrokan demi kebobrokan disajikan untuk dikonsumsi oleh generasi muda kita tanpa melakukan upaya perlawanan sedikit pun.

Bukankah Allah SWT sendiri berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Dan aabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum dan mereka tidak dapat menolaknya dan tiada pelindung selain Dia.” (QS. Ar Rad: 11)

Kita terutama sebagai orang tua, memiliki tugas untuk membimbing dan mengarahkan agar anak-anak kita mampu menjadi generasi-generasi tangguh yang tak hanya cerdas soal akademisi dan kompetensi skill tetapi juga religius. Dekat dengan Allahnya dan paham betul ajaran Dien-Nya. Janganlah menjadi orang tua yang abai dengan pendidikan moral anak.

Makin dimudahkannya aturan berjilbab, kemudahan memperoleh busana yang syari, masuk sekolah favorit lewat jalur tahfiz, dan sebagainya ternyata belum cukup untuk menjamin bahwa kita atau anak-anak dekat dengan Tuhannya dan paham ajaran agamanya. Sudah tidak usah lagi perlu diceritakan tentang betapa banyaknya muslimah berjilbab yang anteng bertiktok ria joget-joget tidak jelas, membuat konten tutorial make up yang sangat jelas merupakan wujud tabaruj, memakai baju syari dengan tujuan ingin dipuji cantik, dan sebagainya.

So? Menulis untuk genre teenlit religi sebagai salah satu upaya mengingatkan kembali para generasi muda tentang harus bagaimana seharusnya mereka bergaul dan bersikap? Why not? Action is much better than doing nothing. Am I right?

Ingat, karya tulis kita yang terekam oleh digital bisa jadi jejaknya akan terus ada sekalipun kita sudah lama berkalang tanah. Tulisan bagus tapi tak bermanfaat, lalu dibaca orang sekian generasi dan diaplikasikan untuk hal-hal buruk, maka jadilah dosa berjamaah. Maksiat berjamaah. Apa enggak ngeri, tuh? Sudah punya apa kita untuk menjamin bahwa nasib baik akan berakhir di surga? Bagaimana jika malah kekal di neraka? Naudzubillah min dzalik.

Wassalam. Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: koleksi pribadi

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “NULIS NOVEL REMAJA RELIGI? WHY NOT?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: