Saturday, 18 September, 2021

Daily Literacy Zone

ORANG TUA TOKSIK


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers! Apa kabarnya? Sehat semua?

“Jangan menjadi orang tua yang toksik.”

“Ternyata orang tua pun bisa jadi toksik untuk anak-anaknya.”

Waow! Apakah ini? Kedengarannya agak-agak gimana gitu ya. Orang tua toksik? Sementara selama ini yang banyak kita dengar adalah orang, teman, atau lingkungan yang toksik. Orang tua yang toksik itu yang bagaimana? Apakah sama berbahayanya?

Yup! Di mana-mana yang namanya toksik itu berbahaya. Mau berupa orang, lingkungan, dan sebagainya. Sesuai dengan arti katanya dalam KBBI yaitu “racun”.

Jadi menurut Rahma Kusharjanti, penulis buku “Jiwa-Jiwa yang Lelah” orang tua yang toksik itu adalah orang tua yang banyak menuntut hal-hal yang membuat anaknya merasa tertekan, insecure, hingga depresi. Contohnya saat menuntut anak menjadi juara kelas padahal ia tak mampu, memaksa anak kuliah di jurusan yang tidak disukainya, dan lain-lain.

Sedihnya, semua pemaksaan yang bersifat toksik tersebut seringkali dibungkus dengan sangat manis dalam label “orang tua paling tahu dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya”. Tanpa pernah mau memberi kesempatan pada si anak untuk menyuarakan keinginannya. Ketika si anak tak mau dan tak mampu memenuhi tuntutan mereka, maka orang tua ada yang suka menyindir sinis atau berkomentar negatif, terutama di hadapan orang banyak.

Bapak, Ibu, sekalipun berpredikat sebagai orang tua, tetap saja kita bukanlah peramal. Yang merasa serba tahu tentang segala sesuatu terutama tentang anak kita. Tugas kita sebagai orang tua itu seharusnya menjadi support system, pihak yang mendukung perkembangan anak-anak agar tumbuh sehat dan normal sesuai fitrahnya. Bukan sebaliknya.

Pernah mendengar kasus anak SD yang gangguan jiwa karena ibunya memasukkan ke berbagai les? Sang ibu menginginkannya menjadi “manusia super pintar” tanpa memperhatikan proses tumbuh kembang yang sewajarnya. Terlalu terobsesi menjadikan anak memiliki kemampuan yang sama dengan orang tua atau bahkan lebih ternyata bisa menjadi “senjata mematikan” yang pada akhirnya akan menelan korban jiwa. Siapa? Ya, anak-anak kita. Kalau jiwanya sudah tertekan, terguncang hingga mengalami gangguan kejiwaan maka akan sulit untuk bisa mengembalikannya ke kondisi semula.

Dosen psikologi saya dulu pernah mengibaratkan bahwa orang dengan gangguan kejiwaan itu seperti guci atau keramik yang dipecahkan lalu disusun dan dilem kembali. Mungkin bisa kembali ke bentuk awal. Sebuah guci. Tetapi kita tak bisa menghilangkan garis-garis retakan yang sudah terbentuk. Serpihan-serpihan kecil yang menjadi bubuk halus, takkan bisa menutupi retakan dengan sempurna, bukan?

Jadi sebelum terlambat, jika kita adalah orang tua yang toksik bagi anak-anak kita, maka berhentilah sekarang juga! Berhentilah menjadi “sang maha tahu” sebab nyatanya jalan hidup anak akan seperti apa, itu adalah hal yang sifatnya gaib. Hanya Allah SWT saja yang tahu. Sementara kita, cukup sebagai pendukung, konselor, perawat, dan labuhan penuh cinta bagi anak-anak kita. Dukunglah dan doakan kemudahan apapun mimpi ataupun cita-cita mereka. Biarkan anak-anak kita tumbuh dan berkembang menjadi bunga-bunga bangsa yang merekah indah.

Siap menjadi orang tua yang non toksik bagi anak-anak kita? Yuk, tanamkan dan lakukan sejak saat ini, ya.

Salam literasi.

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “ORANG TUA TOKSIK

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: