Friday, 27 November, 2020

Daily Literacy zone

Pekan Terakhir Ramadan di Rumah Tanpa Mudik


Pekan Terakhir Ramadan di Rumah Tanpa Mudik

Buat saya, emak yang “home sweet home” alias melulu beraktivitas di rumah, sebenarnya efek lockdown tidak terlalu berkesan luar biasa. Malah biasa banget saking hal tersebut sudah menjadi santapan sehari-hari. Paling banter, keluar rumah saat perlu untuk belanja bulanan, belanja kebutuhan sandang yang itupun tidak setiap bulan, atau keluar ke atm terdekat saat uang belanja sudah menipis dan hampir habis. Kalau pun mengerjakan pekerjaan lain a.k.a. untuk aktualisasi diri, maka mengerjakannya juga di rumah saja. Hanya perlu sedia komputer, kuota sama chargeran. Hehehe.

Saat Ramadan tiba. Menjalani hari pertama puasa, munggahan, tanpa berkumpul dengan keluarga besar pun bukan menjadi suatu hal yang wajib. Biasa saja. Tak ada yang istimewa dalam hal mempersiapkan makanan dalam menyambut sahur puasa pertama. Tak ada bedanya dengan menyiapkan sahur bagi saum Senin-Kamis ataupun saum sunnah lainnya. Meski tetap orangtua seringkali menanyakan apakah mau bergabung bersama di sahur pertama. Jika tidak, maka biasanya ibu saya menitipkan masakan matang untuk dikirim oleh bapak atau adik saya ke rumah. Jarak antara rumah orangtua dan domisili sementara saya memang tidak jauh. Hanya membutuhkan waktu 10-15 menit via kendaraan bermotor.

Lalu saat menghadapi sepuluh hari terakhir Ramadan, yang datangnya terasa sangat cepat. Lagi-lagi tak sedikit pun merasa khawatir karena bingung hendak mudik atau tidak. Sebab masih bisa berlebaran saat hari H, insya Allah. Jikalau masih berlaku larangan mudik pun tak masalah. Lebaran di rumah saja. Idul Fitri from home.

Dulu saat masih bertugas di RS, seringkali lebaran di rumah sakit. Atau paling beruntung pas bertepatan dengan libur lepas dinas malam. Alhasil saat silaturahmi kesana kemari memaksakan diri tetap terbangun meski lingkaran hitam di sekitar mata tercetak jelas.

Kembali ke masa kini. Amaliah Ramadan harian, tetap berjalan. Terutama saat mengingatkan anak-anak agar terus melanjutkan rutinitas baik seperti yang biasa di lakukan di sekolah seperti salat Duha, murojaah, dan sebagainya. Apalagi perkiraan ujian kenaikan kelas dijadwalkan akan dilaksanakan selepas libur lebaran. Jadi sibuklah emak sounding menyuruh anak-anak di rumah untuk belajar, baca-baca materi sekolah sesuai jadwal per harinya. Supaya saat nanti masuk sekolah kembali, mereka sudah siap. Mudah-mudahan bisa terus lancar dan sesuai ekspektasi, bisa mengerjakan semua ujian yang diberikan dengan mudah dan hasil yang memuaskan. Aamiin ya Rabbal alamin.

Dulu, sering cemburu pada teman-teman yang bisa mengikuti itikaf di masjid atau mabit. Kebetulan tak lama setelah lulus kuliah, langsung kerja di klinik dan stand by hampir 24 jam. Lalu berlanjut bekerja di rumah sakit daerah yang memakai shift per 2 hari sekali. Pernah sekali ikut mabit zaman masih perawan ting ting zaman baheula saat kebetulan off dari tugas di rumah sakit. Setelah menikah, yang dikhawatirkan hanya anak-anak. Sebab saya tidak pernah menggunakan jasa ART untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Menitipkan anak pada orang tua pun hanya ketika situasi mendesak. Selebihnya tetap oleh saya sendiri.

Maka, ya! Cemburu karena tak pernah melaksanakan itikaf, biasanya hanya menjadi kecemburuan yang menguap begitu saja. Berganti dengan keriweuhan mengurus anak. Itikaf semalaman? Rasanya memang belum sanggup. Sebab mana bisa mengurus anak dan rumah di siang hari dengan kondisi ngantuk berat? Saya tahu sejauh mana kemampuan dan kesanggupan diri. Sudah bisa mengukur. Jadi tidak pernah ngoyo menelantarkan anak dan rumah demi mengejar itikaf misalnya. Sebab amanah dari suami, ya mengurus rumah dan anak. Adapun soal ibadah diri sendiri, menyiasatinya dengan memperbanyak amalan lainnya yang sanggup dijalani di antara kesibukan sebagai ibu dan istri.

Mungkin buat sebagian orang, itikaf itu segalanya. Berdiam diri di masjid seminggu full, tanpa melihat kondisi rumah dan anak-anak setiap saat adalah hal biasa. Buat saya pribadi, biarlah. Tak bisa seperti itu sementara untuk saat ini. Mungkin suatu saat akan datang kesempatan seperti itu saat anak-anak kelak sudah dewasa dan hidup mandiri. Tidak lagi menempel pada emaknya. Semoga saja bisa dapat peluang di sisa usia kelak. Wallahu alam bishowab.

Satu hal yang saya yakini dan selalu optimis bisa meraih kasih sayang dan keridaan-Nya adalah menyiapkan kebutuhan sahur dan berbuka keluarga selama Ramadan. Mengingatkan anak-anak di rumah untuk disiplin mengerjakan amaliah Ramadan dan tugas-tugas sekolah lainnya sehubungan dengan dampak diberlakukannya lockdown. mengasuh anak-anak seharian, mengerjakan pekerjaan rumah seperti hari-hari biasa, plus melaksanakan ibadah-ibadah khusus lainnya bagi diri sendiri semuanya tetap bernilai ibadah. Takkan ada yang sia-sia. Takkan jauh berbeda nilainya dengan mereka-mereka yang bisa itikaf sepekan penuh. Bukankah dosa-dosa seorang wanita berguguran dari setiap sudut jemarinya setiap kali mendarma baktikan hidupnya untuk merawat suami dan anak-anaknya?

Kebetulan Allah menakdirkan saya menikah dengan lelaki asal Bandung. Jadi saat lebaran tiba, kami sekeluarga tak perlu pergi jauh keluar kota untuk berlebaran. Mertua di Bandung. Orangtua di Cimahi. Hanya butuh waktu setengah jam saja untuk menjangkau rumah mertua dari Cimahi. Alhamdulillah, sesuai cita-cita dulu yang tak ingin jika saat lebaran tiba harus mudik keluar kota. Saya memang bukan tipikal orang yang suka ribet. Senang yang praktis dan simpel. Syukurlah semua terwujud sesuai ekspektasi. Jadi memang tidak tahu rasanya menahan rindu pada orang tua setiap kali lebaran menjelang dikarenakan jarang berjumpa. Tidak tahu rasanya menempuh perjalanan jauh, menemui kemacetan saat mudik, dan sebagainya (Bukan bermaksud berpandangan negatif pada yang punya rutinitas mudik setiap tahun saat lebaran, lho, ya).

Sudut pandang kita akan hidup yang sedang berlangsung saat ini bergantung pada kesadaran diri memaknai akan arti kehidupan itu sendiri. Sebagai hamba Allah SWT yang memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Dengan segala kondisi dan segala strategi untuk membuat hidup lebih bermakna dan selalu berarti. Terutama di masa-masa pandemi seperti saat ini.

Semoga tahun depan, kondisi sudah lebih baik dan rutinitas mudik bisa kembali normal. Apapun yang Allah SWT gariskan harMake it simple. So our life would be happy. Insya Allah.

Wallahu alam bishowab.

***

Sumber gambar: Canva

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “Pekan Terakhir Ramadan di Rumah Tanpa Mudik

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: