Sunday, 25 October, 2020

Daily Literacy zone

PEMIJAT MALAM ITU


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Saya ke bangsal sebelah dulu ya? Mau minta kopi. Malam ini rasanya kok ngantuk begini.”

Ranti, kepala shift malam bangsal perawatan khusus pasien syaraf hanya mengangguk saat Adi, salah satu anak buahnya izin hendak ke bangsal sebelah yang jaraknya sekitar 10 meter. Sementara Tini, anak buahnya yang lain sedang merapikan peralatan medis.

“Mbak mau juga?” tawar Adi sesaat sebelum menghilang di balik pintu keluar.

“Nggak usah. Saya nggak terlalu suka kopi.” Ranti menggeleng.

“Mbak Tini?”

“Nggak usah, Di. Terima kasih.” Tini menggeleng dan tersenyum.

Adi menutup pintu perlahan. Terdengar suara sepatu pantofelnya bergema beradu dengan lantai koridor. Bunyinya cukup nyaring di suasana tengah malam yang sepi. Perlahan suara itu menjauh dan menghilang.

“Pasien bagaimana,Tin?”

“Tenang semua, Mbak. Sebagian sudah tidur.”

“Perasaan malam ini sepi banget, ya? Biasanya di koridor depan ada keluarga pasien ngumpul dan ngobrol. Sekarang nggak ada satu pun.” Ranti melirik ke arah koridor depan bangsal lewat gorden kaca yang terbuka sedikit.

“Oh. Itu keluarga Pak Karsa dan Pak Daud. Mereka sudah pulang tadi siang.” Tini menarik gorden agar jendela ruangan tertutup rapat.

“Pantas aja sepi. Pekan lalu mereka biasanya duduk-duduk sampai menjelang dini hari. Saya lihat ada yang membawa papan catur atau kartu gapleh. Persis seperti orang sedang ronda.” Ranti tertawa kecil saat menceritakannya.

Ranti dan Tini kemudian tenggelam dalam pekerjaan melengkapi laporan asuhan keperawatan di buku status pasien. Semua pekerjaan seperti menyiapkan obat-obatan, pemeriksaan laboratorium besok pagi, mengganti cairan infus, sudah dikerjakan.

Baca juga : AKU MELIHATNYA!

Satu jam berlalu. Adi belum juga kembali.

“Paling dia ngopi sambil merokok. Namanya juga laki-laki.” Tini mengangkat bahu saat Ranti menanyakan Adi yang belum juga kembali.

Ranti menghela napas. Meski jumlah pasien saat ini sedikit dan kondisinya tenang, tetap saja sebagai tim yang bertugas malam harus selalu stand by di ruangan. Bukannya keluyuran ke ruangan lain, sekalipun ruangan yang dituju dekat. Mereka kan tenaga kesehatan yang harus siap siaga menjaga pasien. Masalah di rumah sakit siapa yang bisa memprediksi kalau tiba-tiba terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada pasien?

“Mbak, saya mau nyuntik obat ke pasien di kamar 2, ya?” Tini pamit.

Ranti mengangguk sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia menguap sebentar. Tiba-tiba saja rasanya mengantuk sekali. Padahal tadi siang dia sempat tidur siang untuk persiapan agar dinas malam kesatu tidak mengantuk. Lagipula, baru dinas malam kesatu. Harusnya ia masih merasa segar.

Entah apa yang terjadi kemudian. Tahu-tahu Ranti tersentak kaget dan terbangun saat merasakan pundaknya disentuh sesuatu yang dingin. Ketika membuka mata, posisinya tengah duduk dan tertidur sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja.

Ya ampun! Aku ketiduran! Ranti ingin mengangkat kepalanya namun ekor matanya tanpa sengaja melirik ke arah bawah. Sekilas terlihat di sebelah belakang kakinya, ada kaki lain berwarna hitam dengan bulu sangat lebat.

A-apa itu? Ranti menelan ludahnya dan mengurungkan niatnya untuk bangun. Ia menahan napas. Kaki siapa itu di belakangku?

Sentuhan dingin di pundaknya masih terasa. Bergerak seperti tangan orang sedang memijat tengkuknya. Dingin tapi terasa enak dan Ranti tak sanggup untuk bergerak. Si-siapa yang memijatku ini? Kenapa wujudnya hitam dan berbulu? Manusia atau ….

Perlahan dia mencoba mengintip lewat sudut matanya ke arah kaca jendela yang berada di sampingnya dan untuk sesaat terhenyak. Keringat dingin perlahan membasahi dahinya.

Di kaca. Terlihat bayangan hitam. Tinggi besar. Sedang berdiri tepat di belakangnya. Memijat tengkuk dan pundaknya. Bayangan itu tak terlihat jelas di bagian wajahnya. Sepertinya bukan Adi maupun Tini. Bukan pula orang lain yang dikenalnya di bangsal ini. Tidak mungkin kan kalau pasien? Selancang itu pula menyentuh perawat tanpa permisi.

Tini! Kemana dia? Masa nyuntik lama sekali? Sudah berapa lama pula aku tak sengaja tertidur? Ranti masih terus menahan napas. Ia benar-benar tak sanggup bergerak apalagi bersuara.

Sepuluh menit kemudian, pijatan itu terasa berhenti. Ranti menajamkan pendengarannya untuk memastikan adakah suara langkah kaki, suara pintu, atau suara apa saja yang menunjukkan kehadiran manusia di ruangan ini. Tetapi tak terdengar suara apapun kecuali detak jantungnya yang bergemuruh, berdetak kencang tak beraturan.

Astagfirullah al adzhim. Perlahan mulutnya membisikkan ayat kursi beberapa kali. Ia belum berani untuk mengangkat kepalanya.

“Mbak Ranti, maaf saya lama di bangsal sebelah.” Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan dibuka dan suara Adi menyergap pendengarannya.

Ranti segera mengangkat kepalanya dan menemukan anak buahnya itu tengah tersenyum malu-malu sambil duduk di kursi. Tak lama Tini muncul dari arah kamar pasien sambil membawa beberapa peralatan.

“Infusan punya Pak Ibrahim macet tadi, Mbak. Tangannya sedikit bengkak. Jadi saya lama di sana dan buka dulu infusannya. Sudah dikompres juga yang bengkak. Saya akan siapkan perasat untuk memasang infus, ya Mbak.” Lapor Tini.

“Demam nggak, Pak Ibrahimnya?” Ranti segera menguasai keadaan dan membuka buku status laporan kesehatan milik pasien tersebut.

“Nggak, Mbak.”

“Di instruksi dokter, kalau cairan infusan habis, boleh dihentikan dulu pemberian infusnya. Rencana pulang hari ini.” Ranti membaca instruksi dokter dan melirik jam di dinding ruangan. Jam dua dinihari.

“Oke!” Tini mengangguk.

“Hhh, saya ketiduran sebentar barusan. Untung kalian segera muncul.” Ranti menghela napas lega. Teramat sangat lega.

“Oh. Nggak apa-apa, Mbak.” Adi segera menyahut dan terlihat lega karena kepala shift-nya tidak marah karena ia kelamaan ngobrol di bangsal sebelah dengan perawat di sana.

“Mbak, baik-baik aja? Kenapa tangannya gemetaran?” Tini menangkap ada yang tidak beres dengan kepala shift-nya.

“Nggak apa-apa.” Ranti menggeleng pelan dan tersenyum samar sambil mengusap-usap tengkuknya.

***

8 Oktober 2020

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

One comment on “PEMIJAT MALAM ITU

[…] Baca juga: PEMIJAT MALAM ITU […]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: